31.7 C
Jakarta

Muslim Indonesia dan Spirit Ke-ISIS-an

Artikel Trending

Milenial IslamMuslim Indonesia dan Spirit Ke-ISIS-an
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Kebijakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait pemulangan WNI eks-ISIS ke Indonesia hingga hari ini masih jadi pusat perbincangan. Presiden Jokowi sendiri melalui akun Twitter, sempat tegas menolak, namun tetap tergantung hasil rapat kebijakan pemerintah. Menko Polhukam sendiri menolak rencana tersebut karena mengandung mudarat. Seirama Mahfud, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, juga keras menarasikan penolakannya.

Kalau mau jujur, sebenarnya kasus ‘660 WNI eks-ISIS yang terjebak di Suriah’ mengalami pelintiran sedemikian rupa. Bagi yang mendesak pemerintah segera memulangkan, alasannya tak jauh; keadilan, hak asasi manusia (HAM), atau ingin menolong sudara setanah air. Tetapi benarkah setulus itu? Benarkah tidak ada agenda memanfaatkan 660 WNI eks-ISIS? Patut dipertanyakan. Apakah desakan pemulangan tersebut mengesampingkan kemungkinan terburuknya?

Begitu pula yang tidak setuju. Benarkah ketidaksetujuan itu lahir dari kekhawatiran jayanya ISIS di bumi pertiwi? Patut juga untuk diselidiki. Sebab, keberangkatan 660 WNI eks-ISIS dulu ke Suriah sejujurnya pasti sudah diketahui pemerintah, tetapi dibiarkan. Karenanya, terkait penolakan pemerintah, ada yang bilang, itu tidak lebih adalah bentuk cuci tangan pemerintah terhadap kegagalannya melakukan deradikalisasi. Deradikalisasi adalah prioritas mereka, bukan?

Kalu pun ada yang murni tidak memiliki kepentingan apa pun, penolakannya terhadap 660 WNI eks-ISIS cenderung berlebihan. Jika ditelusuri, bukan kali pertama Indonesia jadi tempat kembali para eks-ISIS. Febri Ramdani, misalnya, penulis buku 300 Hari di Bumi Syam. Setelah lama di Suriah, akhirnya ia bersama keluarga bisa pulang ke tanah air. Apakah kita temukan keluarga Febri ada yang melakukan bunuh diri sesampainya di sini?

Faktanya, memang kita tidak bisa terlalu polos melihat persoalan ini. Ini bukan semata tentang kebijakan, melainkan pertarungan wacana ideologis. Dalam beberapa waktu ke depan, mungkin pemerintah akan disibukkan dengan persoalan sejenis ini. Di Indonesia, spirit ke-HTI-an, spirit ke-ISIS-an, dan nafsu mendirikan khilafah tidak pernah sirna. Tanpa kebijakan yang tepat, mungkin kita hanya perlu menunggu waktu, kapan mereka akan mendeklarasikan diri di tanah air tercinta ini.

Mabuk Agama Berujung Penyesalan

Aref Fedulla, tahanan ISIS yang sudah lima tahun di Suriah, merasa menyesal, dan menganggap perpindahannya ke Suriah sebagai kesalahan terbesar. Sesalnya bertambah, melihat fakta, bahwa keangkuhannya sebagai orang tua telah menghanguskan mimpi anaknya, Nada Fedulla, untuk menjadi dokter. Sebagai tahanan, Aref tak bisa berbuat banyak. Yang terang, uluran tangan masyarakat Indonesia untuk menerimanya kembali, adalah keinginan besar.

Aref beserta keluarga besarnya adalah satu korban dari ratusan orang yang mabuk agama. Artinya, minatnya terhadap Islam tinggi, sayangnya hal itu tidak dibarengi dengan pengetahuan yang mumpuni. Gara-gara hijrah yang tak jelas itu, gara-gara nafsu ingin Daulah Islamiyah yang palsu itu, ia tak lagi punya harapan. Apalagi kini tengah beredar kabar, entah benar atau sekadar hoax, bahwa kemungkinan para tahanan akan dieksekusi.

Orang yang seperti Aref, hari ini, di Indonesia sendiri, bukan tidak ada. Narasi khilafah, spirit ke-ISIS-an, hari-hari ini sedang gencar-gencarnya. Masih ingatkah 15 Januari lalu, ketika pendukung khilafah memperingati Hari Penaklukan Konstantinopel? Itu hanya satu contoh. Gerak mereka memang samar, di bawah tanah. Tetapi berasumsi bahwa indoktrinasi mereka terbilang gagal adalah kepongahan yang nyata.

BACA JUGA  Fatih Karim dan Gurita Bisnis Yayasan Penyebar Kegilaan Khilafah HTI

Muslim Indonesia kini memang sedang dilanda virus. Virus tersebut adalah virus khilafah dengan spirit ke-ISIS-an, di samping spirit ke-HTI-an. Yang mabuk agama, semakin bertambah sebagaimana hari bertambah. Mereka tak surut. Apa yang terjadi dengan WNI eks-ISIS di Suriah tidak menciutkan mereka. Kenapa demikian buta? Karena spirit mereka adalah spirit ideologis. Ideologi ISIS, tentunya.

Harusnya apa yang dialami keluarga Aref Fedulla menjadi titik tolak dari surutnya spirit ke-ISIS-an di negeri ini. Tetapi faktanya? Tidak sama sekali. Aref yang mabuk agama telah menelantarkan hidupnya di lembah penyesalan.

Apakah kita masih memiliki calon Aref yang lain, yang angkuh menggaungkan khilafah dan berakhir dalam penyesalan? Ironi. Jika spirit menentang pemerintah sebagaimana spirit ISIS mendelegitimasi pemerintah tetap eksis, apakah itu akan jadi pemicu bangkitnya mereka di Indonesia?

Mungkinkah ISIS akan Bangkit di Indonesia?

Kalau kita mau memahami secara hati-hati, sebenarnya memulangkan 660 WNI eks-ISIS ke Indonesia, atau bahkan membiarkan mereka terjebak di sana, sama-sama memiliki efek buruk. Kita harus paham, terlebih dahulu, negeri kita ini tidak dalam keadaan “steril” dari narasi khilafah dan spirit ke-ISIS-an. Itu kuncinya.

Sehingga, memulangkan mereka berpeluang besar terhadap bertambahnya persentase ekstremisme dan terorisme. Di Indonesia, kalau mereka pulang, mereka akan bertemu dengan para pejuang khilafah, yang notabene spirit ideologinya senafas: men-thaghut-kan pemerintah. Para pejuang khilafah di tanah air merasa bertambah armada baru dari Negeri Syam langsung. Berkobarlah semangat tegaknya khilafah. Ini yang dikhawatirkan banyak pihak, termasuk pemerintah.

Tetapi kalau membiarkan mereka terjebak di sana, Muslim di Indonesia yang punya spirit ke-ISIS-an semakin membenci pemerintah. Bukan tidak mungkin mereka akan memantik perang, membuat aksis teror di mana-mana. Jelas ini tidak kalah mengkhawatirkan. Stigmatisasi pemerintah adalah jalan mereka menuju delegitimasi pemerintahan.

Memang ada rumor, ISIS ingin pindah basis teritori ke Indonesia. Kita tak bisa menerima rumor tersebut mentah-mentah, seperti juga kita tak bisa sekonyong-konyong tak mempercayainya. Intinya, selama Muslim Indonesia masih dihantui spirit mereka, yakni spirit ekstremisme, khilafah, dan delegitimasi pemerintah, yang kesemuanya ini memang sedang banyak terjadi, ISIS akan bangkit. HTI juga demikian. Khilafah akan tegak di negeri ini.

Kita berlindung kepada Allah dari chaos akibat ISIS, HTI, dan nafsu khilafah. Muslim Indonesia harus pintar-pintar mengambil pelajaran kepada para WNI yang kini hidupnya hancur gara-gara mereka. Spirit tersebut harus dimusnahkan. Lalu bagaimana dengan 660 eks-ISIS itu? Memasrahkan kepada keputusan pemerintah adalah jalan terbaik. Lagi pula siapa yang ingin ISIS bangkit? Tetapi…

Jika dipulangkan, mereka nanti bisa jadi duta deradikalisasi, dengan menceritakan pengalamannya selama di Suriah. Tetapi mereka juga bisa bertindak teror, sebagai lanjutan indoktrinasi selama hidup bersama ISIS. Setiap kebijakan pasti memiliki sisi baik-buruk. Tetapi spirit ke-ISIS-an Muslim Indonesia mutlak buruk. Itu jelas harus dientaskan.

Wallahu A‘lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru