32.2 C
Jakarta

Kenalkan Literasi Sejak Anak Usia Dini, Mengapa Tidak?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiKenalkan Literasi Sejak Anak Usia Dini, Mengapa Tidak?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Boleh dikatakan Bulan Oktober sebagai bulan yang istimewa dalam kalender pendidikan. Sebab Bulan Oktober merupakan peringatan bulan bahasa dan sastra. Momen peringatan ini tentunya diharapkan dapat memberikan kontribusi besar bagi pengembangan dan perlindungan bahasa & sastra, yang akhirnya bermuara untuk menjaga ekosistem budaya bangsa.

Saat ini, kemajuan teknologi begitu pesat, dan diharapkan masyarakat harus semakin bijak dalam penyerapan pengetahuan dan pembelajaran proses edukasi, minimal dalam lingkungan kecil (keluarga). Sedikit fakta, yang mungkin tanpa kita sadari, kita tidak mungkin mengelak, bahwa kemajuan teknologi digital sudah berbanding terbalik dengan perkembangan edukasi dengan cara konvensional. Apakah ini dapat disimpulkan telah terjadi perubahan atau revolusi era modern?

Masyarakat di berbagai strata sosial tidak akan mungkin menghindar dari kebutuhan informasi, dimana peran alat komunikasi berbasis jaringan teknologi digital dianggap begitu vital. Inilah kehidupan dunia modernisasi dan transformasi teknologi. Jika pergerakannya dihitung dengan waktu, kecepatannya sangat tinggi. Sehingga untuk menjaga dan mempersiapakan generasi muda menghadapi tantangannya di masa depan perlu dengan metoda yang lebih sistematis.

Tanpa meninggalkan konsep pola desain yang berorientasi pada kearifan lokal, seyogianya dibutuhkan pemikiran bijak dan perilaku positif yang digali dari unsur-unsur tradisi dan budaya lokal. Konsep pemikiran (mindset) dituntut lebih cerdas dalam memahami perubahan zaman. Dengan penerjemahan pengetahuan dan edukasi, terutama dalam pendidikan keluarga dan lingkungannya (informal), tentu diharapkan ada pemikiran cerdas dan bijak dalam memahami perubahan-perubahan sosial.

Sangat tidak asing di kalangan manapun, ketika anak usia balita sudah begitu akrab dengan penggunaan ponsel android atau gawai. Tetapi apakah ini dapat dijadikan ukuran dalam pendidikan keluarga yang wajar dan baik? Seolah sebuah stereotip (persepsi), bahwa mengajarkan anak dengan teknologi instan dan cepat melalui penggunaan peranti teknologi (gawai) adalah jalan yang tepat. Mungkin, tanpa sadar kita telah terjangkiti oleh apa yang dinamakan sebagai “virus zaman”, yang tidak tampak atau samar!? Kecenderungan masyarakat di hampir sebagian besar kalangan sebagai masyarakat konsumtif seakan tidak dapat dihindari.

Dalam studi riset penulis, masyarakat konsumen telah terbangun dengan konsep dan perilaku “pencitraan”. Perlu diingat, bahwa perlindungan bagi anak dalam aspek psikologis, harus berorientasi pada hal-hal yang membangkitkan kecerdasan anak untuk bersikap dan berperilaku baik. Diusahakan dengan pengenalan dan pengetahuan tentang keyakinan dan agama. Karena ini dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan kejiwaan anak. Jangan berasumsi, bahwa urusan pendidikan anak, termasuk pendidikan akhlak hanya menjadi tanggung jawab institusi atau lembaga pendidikan formal.

Sehingga kalau dijabarkan, keterangan di atas, mungkin kita membacanya sebagai apa yang dilakukan oleh orang tua, sedikit banyaknya ditiru oleh anak. Dalam perkembangan fisik dan mentalitas, faktor internal keluarga sangat memegang peranan penting. Tanpa sadar, kalau pembiaran ini terus berlangsung dalam keluarga, dalam jangka panjang akan memiliki dampak lebih besar. Secara sederhana, pengenalan dan edukasi bahasa terhadap anak, lebih banyak diadopsi dari lingkungan keluarga dan sekitarnya.

Pertanyaan yang seringkali masyarakat (termasuk kita) sering diabaikan adalah pembiaran anak mengenal literasi dan bahasa sesuai dengan kondisi zamannya, tanpa adanya upaya pencegahan di lingkungan keluarga. Sementara jika kita menelisik lebih jauh ke belakang, sebuah keluarga terbangun atas dasar kesepakatan tidak tertulis untuk tetap menjaga nilai-nilai tradisi dan budaya. Karena bangsa kita sangat plural dan heterogen (latar belakang budaya).

Jika hal ini terjadi dalam kurun waktu yang sangat panjang, apakah kita membiarkan generasi muda, penerus cita-cita bangsa, menghadapi tantangan zaman dengan ukuran dinamika yang mereka hadapi? Meski sering diabaikan, penguasaan literasi dan bahasa adalah sumber pengetahuan awal bagi kelangsungan pendidikan anak. Dan seharusnya ini menjadi perhatian yang sangat serius bagi orang tua yang memiliki anak usia balita. Di usia ini, kecerdasan dan penyerapan bahasa bagi perkembangan anak begitu cepat.

Di sisi lain, ada paradigma dalam masyarakat, bahwa urusan pembelajaran literasi itu menjadi tanggung jawab dunia pendidikan formal. Apalagi di usia anak balita (usia dini) yang dianggap sebagai usia pertumbuhan dan perkembangan fisik, kejiwaan (psikologis), kadang disetarakan dengan hal-hal yang sifatnya permainan dan sejenisnya. Dunia anak balita adalah dunia yang dianggap kesenangan dan kepuasan anak. Kenapa permainan ini tidak diimbangi dengan proses pengenalan literasi? Tentu pendapat ini bukanlah sebuah absolutisme (mutlak) bagi seluruh lapisan masyarakat.

BACA JUGA  Read Aloud, Pembiasaan Budaya Baca Sejak Kecil

Jika kita bicara tentang konsep psikologi anak, maka ada 3 hal yang harus dipahami secara teori, yakni: pengertian, konsep dasar, teori dan manfaatnya. Ketiganya merupakan satu-kesatuan dalam fase perkembangan anak. Karena fase atau tahap ini dalam kehidupan anak, merupakan terminologi tekstual yang mempengaruhi perkembangan anak hingga menjadi dewasa.

Ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan psikologi anak, yakni ilmu pengetahuan yang mempelajari perubahan perkembangan pada bayi, anak serta remaja. Ilmu ini mempelajari pertumbuhan kembang anak secara menyeluruh, mulai pertumbuhan dan perkembangan fisik motorik (gerakan) hingga perkembangan otak (kognitif) sampai dengan pembentukan rasa cinta akan sesama, kepribadian dan identitas.

Dalam rumusan seorang pakar psikologi klinis, Jean Piaget (Swiss) mengemukakan sebuah simpulan bahwa anak berkembang dengan tahapan yang berbeda. Hal ini mengakibatkan anak yang berkembang pada tahap yang lebih lanjut, tidak dapat memahami apa yang dialami anak sebelumnya. Selain itu, akan berdampak pada pembentukan persepsi mental terhadap dunia luar dan merasa bahwa perkembangan kognitif akan berjalan sesuai tahapan biologis yang dialaminya.

Di beberapa kasus anak, terhadap penyerapan dalam memahami bahasa termasuk bahasa ibu (lokal) sering ditemukan anak yang begitu sulit untuk memahami literasi dasar. Mengapa ini terjadi? Salah satu penyebabnya, karena kondisi psikologis yang kurang dipahami. Memang secara kontekstual, pengenalan literasi kepada anak –terutama anak balita– adalah bentuk pengenalan interaksi anak terhadap lingkungannya atau di luar dirinya. Maka disini peran keluarga sangat penting.

Literasi yang diartikan sebagai konsep kemampuan menulis dan membaca, seyogianya sudah mulai dikenalkan kepada anak usia pra-sekolah. Sehingga proses dan tahapan dalam perkembangan anak selanjutnya dapat berjalan normal. Ini mengingat tantangan yang dihadapi terutama dalam proses edukasi pembelajaran anak sudah sangat berbeda jauh dibanding puluhan tahun silam yang lebih banyak dilakukan dengan metoda konvensional. Jika ini dapat dipahami, tentunya langkah-langkah yang menjadi pedoman bagi perkembangan anak, secara tidak sadar akan membentuk sikap dan mentalitas anak lebih matang.

Situasi dan kondisi dalam perubahan sosial, akan memunculkan dampak langsung terhadap pendidikan anak. Dalam kurun 2 tahun lebih terakhir ini, negara kita termasuk beberapa negara lain di dunia, menghadapi situasi yang begitu sulit, termasuk dalam proses edukasi pembelajaran. Kemudian memulai sistem pendidikan dengan pola tatap muka secara keseluruhan, masih menyisakan trauma panjang dalam pendidikan kita. Situasi yang juga dihadapi oleh lembaga pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Sebagaimana di awal tahun ajaran baru yang dilaksanakan oleh seluruh lembaga pendidikan (secara nasional), sangat terasa sekali bagaimana pendidik dan peserta didik menghadapi kerentanan interaksi sosial. Sebagaimana juga telah disampaikan oleh Ir. Suharti, MA, PhD (Sekjen Kemendikbud Ristek RI) sebagai sebuah peringatan (warning) setelah pembelajaran jarak jauh (dari rumah) dikatakan tidak dapat menggantikan pembelajaran tatap muka secara maksimal. Akibat situasi pandemi, sebagian besar anak didik mengalami penurunan kemampuan (kognitif) dan juga aspek psikologis.

Maka menjadi penting dalam situasi yang berangsur normal pada saat ini, kita perlu memaksimalkan kemampuan anak menjadi generasi yang lebih siap menjawab pelbagai tantangan di masanya nanti (generasi penerus bangsa) dengan berkaca pada pengalaman buruk yang telah dilalui. Bagaimana juga menyiapkan pendidikan anak usia dini, menjadi generasi handal dalam menghadapi situasi apapun nantinya.

Pengenalan dan pemahaman literasi kepada anak usia dini secara benar, seyogianya memberikan akses keterlibatan pemerintah secara langsung. Termasuk bagaimana konsep pola desain yang bagus dalam memberikan perlindungan kepada anak usia dini dari tindak kekerasan. Literasi yang baik biasanya diawali oleh lingkungan yang kondusif dan aman bagi anak.

Vito Prasetyo
Vito Prasetyo
Pegiat sastra dan peminat budaya. Mukim di Malang, Jawa Timur.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru