Kemerdekaan dalam Perspektif Al-Qur’an


-2
4 shares, -2 points

Kemerdekaan dalam Perspektif Al-Qur’an

Oleh: Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag*

Kemerdekaan identik dengan kebebasan, kedaulatan, kemandirian, dan otonomi. Setiap anak lahir ke dunia dalam keadaan merdeka.

Umar bin Khathab pernah berkata, “Manusia terlahir merdeka; dari mana engkau mendapat hak untuk memperbudaknya?”

Kemerdekaan adalah hak setiap bangsa. Masing-masing bangsa dan negara bebas menentukan haluan dan cita-citanya.

Islam mengemban misi memerdekakan manusia dari perbudakan dan membebaskan mereka dari kemiskinan, kebodohan, penderitaan, dan kesengsaraan.

Para nabi dan rasul mengemban misi memerdekakan manusia dari kegelapan hidup. Allah swt menurunkan wahyu dari waktu ke waktu untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Yang demikian itu mencapai setiap bangsa menurut bahasa dan lingkungannya masing-masing. Begitu pula halnya dengan Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan Nabi Muhammad saw.

Allah berpesan dalam Al-Quran (artinya): “Tetapi dia tidak menempuh jalan terjal. Tahukah kamu apakah jalan terjal itu? Yaitu membebaskan perbudakan atau memberi makan pada hari kelaparan, anak yatim yang dalam pertalian kerabat, atau orang miskin yang bergelimang di atas debu” (QS 90: 11-16).

Wahyu membimbing manusia.
Dari kedalaman gelap menuju ke tempat terang.
Ia datang ke setiap zaman dan bangsa dalam bahasanya sendiri-sendiri.
Itu terjadi dahulu, dan sampai kini pun begitu.
Para rasul diragukan, dihina, diancam, dan diburu-buru.
Namun kepercayaan mereka jelas kepada Allah.
Yang terhempas adalah selalu yang batil.
Kebenaran Allah adalah sebatang pohon yang bagus, yang kokoh berakar.
Mengembangkan ranting dan dahannya tinggi-tinggi.
Dan bermuatan buahan yang segar sepanjang masa”

—Abdullah Yusuf Ali

Penindasan demi penindasan atas anak manusia berlangsung di berbagai belahan bumi. Tidak terkecuali di Mesir, pada era kekuasaan Firaun di masa hidup Nabi Musa. Al-Quran menarasikan hal ini sebagai berikut.

Baca Juga:  Ber-Islam Tak Perlu Kejam (Radikal)

Sungguh Kami telah mengutus Musa dengan ayat-ayat Kami dengan perintah, “Keluarkanlah kaummu dari lembah kegelapan kepada cahaya dan ingatkan mereka akan hari-hari Allah.” Sesungguhnya itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang selalu sabar dan banyak bersyukur.

Perhatikanlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia menyelamatkan kamu dari orang-orang Firaun. Mereka menimpakan siksaan yang berat kepadamu, membunuh anak-anak laki-lakimu, dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dalam hal itu suatu cobaan besar dari Tuhanmu.”

Ingatlah juga tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sungguh, jika kamu bersyukur, Aku pasti memberi tambahan nikmat dan karunia kepadamu. Akan tetapi jika kamu ingkar, sungguh, azab-Ku sangat dahsyat.
Musa berkata, “Jika kamu tidak bersyukur, kamu dan semua orang di muka bumi ini, sungguh Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (QS 14:5-8)

“Hanya orang-orang yang pernah mengalami penjajahan yang dapat merasakan arti kemerdekaan.” (KH Imam Zarkasyi)

Kalimat tersebut menyiratkan kepedihan dan kegetiran hidup di bawah kekuasaan penjajah. Konon, kesengsaraan hidup bangsa Indonesia di bawah penjajahan Jepang yang hanya berlangsung tiga setengah tahun itu lebih pedih daripada hidup di bawah penjajahan Belanda selama tiga setengah abad.

Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-72 ini terasa beda dari tahun-tahun yang lalu. Umur 72 tahun untuk perjalanan hidup suatu bangsa tentu masih demikian belia.

Bung Karno pernah berkata bahwa perjuangan merebut kemerdekaan itu amat berat, tetap lebih berat lagi mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Sebab, perjuangan merebut kemerdekaan itu jelas musuhnya, yakni penjajah, sedangkan mengisi kemerdekaan menghadapi bangsa sendiri.

Apakah bangsa Indonesia benar-benar telah merdeka? []

*Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Yogyakarta


Like it? Share with your friends!

-2
4 shares, -2 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
1
Lucu
Sedih Sedih
1
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
1
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
5
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.