Skip to content
Harakatuna.com
  • X
  • Instagram
Kirim Tulisan

  • Editorial
  • Agenda
  • Khazanah
    • Inspiratif
    • Ekonomi Syariah
      Artikel yang membahas tentang ekonomi syariah
    • Literasi
    • Opini
    • Perempuan
    • Perspektif
    • Resensi Buku
    • Resonansi
    • Suara Pembaca
    • Telaah
  • Asas-asas Islam
    • Akhlak
    • Al-Qur’an
    • Fikih Islam
    • Hadist
    • Ibadah
    • Sirah Nabawiyah
    • Syariah
    • Tafsir
    • Tasawuf
  • Akhbar
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
  • Islam dan Timur Tengah
    • Islam dan Kebangsaan
    • Ulasan Timur Tengah
  • Milenial Islam

Alissa Wahid

Jakarta – Segala bentuk tindak kekerasan, baik di sekolah, perkantoran, ataupun di lingkungan tempat tinggal, bersumber dari pola pendidikan yang diterapkan di keluarga masing-masing. Pada tingkatan sosial terkecil yaitu rumah tangga, perempuan memiliki peranan penting dalam menentukan model pengasuhan yang dijalankan bagi anak-anaknya. Momentum Hari Perempuan Internasional kiranya dapat menjadi pengingat bagi semua tentang pentingnya peranan perempuan dalam lingkup keluarga dan lingkungan. Perempuan diharapkan dapat menjadi benteng yang kokoh untuk menghalau praktik kekerasan dan intoleransi sedari dini dari rumah tangganya masing-masing. Direktur Nasional GusDurian Network Indonesia (GNI) yang juga Aktivis Pemerhati Isu Perempuan dan Anak, Alissa Wahid mengatakan, tingkat pendidikan seorang perempuan sangat berpengaruh terhadap pola asuh yang diberikan kepada anak-anaknya. Praktik kekerasan dalam keluarga yang berulang dan turun temurun banyak disebabkan oleh kurangnya pendidikan yang didapatkan oleh perempuan. Padahal, menggunakan kekerasan dalam mendidik anak adalah cara yang tidak efektif dan hanya menimbulkan trauma berkepanjangan. “Sudah semestinya kita mendorong perempuan supaya berpendidikan lebih tinggi, walaupun nantinya perempuan tersebut memilih untuk jadi ibu rumah tangga. Harus dipahami bahwa pendidikan yang lebih tinggi itu tidak akan terbuang begitu saja,” ujar Alissa di Jakarta, Rabu (8/3/2023). Alissa juga menekankan pentingnya kerjasama antara ayah dan ibu dalam keluarga. Putri pertama dari Presiden Ke-4 Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini mencontohkan, kerjasama yang baik antara kedua orang tua dengan mencapai kesepakatan dalam pembagian peran. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab untuk menendidik sebetulnya bukan hanya pada ibu, tapi juga ada pada bapak. Walaupun begitu, ia menyadari pada realitanya di Indonesia, beban pendidikan anak lebih banyak diberikan kepada ibu. “Ini pengalaman pribadi ya. Saya pernah mau ikut camping, lalu tidak diizinkan sama ibu. Alasannya karena Ibu khawatir saat camping laki-laki dan perempuan bareng (dicampur) gitu. Kemudian saya mengadu ke bapak (Gus Dur) dengan harapan akan diizinkan untuk berangkat camping. Waktu itu, Gus Dur menjawabnya begini, ‘urusan pendidikan kalian, ibu itu komandannya. Jadi kalau ibu bilang tidak boleh, bapak ikut ibu.’ Nah, di situ saya belajar banget bagaimana kemudian orang ketika menghormati orang lain itu harus secara utuh gitu loh ya. Tidak ada perkataan, ‘kok pendapatku beda, jadi aku harus begini,’ tidak ada itu. Karena sudah kesepakatan beliau berdua, kalau urusan pendidikan anak, yang akan menjadi jenderalnya adalah ibu. Jadi bapak akan mengikuti ibu,” kenangnya. Alissa juga mengemukakan bahwa pembentukan karakter anak akan sangat dipengaruhi oleh keluarganya di rumah. Ia memberikan gambaran seperti pada kasus pemukulan yang dilakukan oleh anak dari seorang PNS Ditjen Pajak. “Akar kehidupan seorang manusia terdapat di keluarganya. Pada kasus Mario Dandy kita melihat cara mengelola keluarga yang diterapkan orang tuanya Mario itu bermasalah. Dengan menggunakan cara-cara yang tidak baik, akhirnya pola asuh tersebut jadi akar (penyebab) kepada anaknya. Memang dimulainya dari keluarga,“ ungkap wanita yang menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU periode 2022-2027 ini. Menurutnya, kasus kekerasan yang dilakukan oleh Mario Dandy merupakan salah satu contoh dari relasi kuasa. Ia berharap, praktik relasi kuasa ini tidak dilakukan bahkan pada lingkup keluarga karena akan menimbulkan ketidakharmonisan. “Relasi kuasa itu contohnya seperti pada pemukulan yang dilakukan Mario, karena dia yakin bahwa bapaknya akan bisa menyelesaikan semuanya. Bahkan hal itu yang dia sampaikan ke temannya. ‘Nanti di urus bapakku.’ Dia pakai relasi kuasa. Ketika dia melakukan penyiksaan, dia pakai relasi kuasa. Karena dia merasa sebagai anak orang yang lebih berkuasa, kemudian menghajar orang yang dipandang sebagai rakyat jelata. Dia (Mario) tidak tahu siapa keluarga David (korban), sehingga korban diperlakukan sebagai orang kebanyakan atau rakyat kecil. Itu relasi kuasa,” jelas Alissa. Ia berharap perempuan Indonesia memiliki kemauan untuk terus mengembangkan dirinya. Dengan semakin berkembang dan bertambahnya pendidikan serta wawasan yang didapat, diharapkan kaum perempuan dapat memiliki kontribusi yang lebih baik di lingkup keluarga dan masyarakat. “Dari sikap tumbuh dan mau belajar terus menerus itu, kita bisa berproses menjadi perempuan yang baik untuk dirinya sendiri. Kemudian yang kedua, dia bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Lalu yang ketiga, dia baik dalam kehidupan bermasyarakat,” tandas Alissa.

Perempuan Benteng Kokoh Halau Kekerasan dan Intoleransi Sejak Dini

Harakatuna.com. Jakarta – Segala bentuk tindak kekerasan, baik di sekolah, perkantoran, ataupun di lingkungan tempat tinggal, bersumber dari pola pendidikan yang diterapkan di

by

Harakatuna

09/03/2023

Alissa Wahid Sebut Perusakan Rumah Ibadah Jamaah Ahmadiyah Sebagai Bentuk Terorisme

Alissa Wahid Sebut Perusakan Rumah Ibadah Jamaah Ahmadiyah Sebagai Bentuk Terorisme

Harakatuna.com. Jakarta-Direktur Nasional Gusdurian Network Indonesia, Alissa Qotrunnada Munawaroh atau yang karib disapa Alissa Wahid merasa kecewa ketika ada perusakan sarana ibadah jamaah

by

Harakatuna

04/09/2021

Latest Post

Ballroom

08/07/2026

Dari Masjid Kampus ke Ballroom Hotel: Strategi Resiliensi HTI di Perkotaan

Prabowo dan PM Modi Sepakati Penguatan Kerja Sama Kontra Terorisme Indonesia–India

08/07/2026

Prabowo dan PM Modi Sepakati Penguatan Kerja Sama Kontra Terorisme Indonesia–India

Hijrah Muharram

08/07/2026

Hijrah Sebatas Tren: Muharram, Medsos, dan Tantangan Kita

Polda Sumsel Pastikan Pria yang Masuk Helipad Mapolda Tidak Terafiliasi Jaringan Terorisme

08/07/2026

Polda Sumsel Pastikan Pria yang Masuk Helipad Mapolda Tidak Terafiliasi Jaringan Terorisme

Hamas Siap Bubarkan Pemerintahan Sipil Gaza, Fokus pada Gencatan Senjata dan Rekonstruksi

07/07/2026

Hamas Siap Bubarkan Pemerintahan Sipil Gaza, Fokus pada Gencatan Senjata dan Rekonstruksi

Khilafah Amerika

07/07/2026

Khilafah di Amerika: Peluang dan Tantangan

Seni Mengakui Nikmat Allah: Menghitung yang Tak Terhitung Perkembangan di tengah kehidupan modern ini mendorong kita untuk memiliki daya saing. Di sisi lain, kita juga menghadapi tekanan untuk terus mencapai kemajuan yang semakin menantang. Hal yang dahulu bersifat sekunder atau bahkan tersier kini berubah seakan-akan menjadi kebutuhan primer. Selain itu, dimensi kebutuhan hidup manusia, seperti kebutuhan akan validasi dari orang lain maupun pengakuan sosial, berpotensi menyebabkan ketandusan spiritual dalam diri kita. Permasalahan tersebut dapat menjadi tabir yang menghalangi rasa syukur terhadap anugerah Allah yang tanpa henti diberikan kepada umat manusia sehingga berpotensi menggiring seseorang terjebak dalam lembah kekufuran (mengingkari nikmat Allah). Al-Qur'an sendiri dalam Surah Ibrahim ayat 7 menjelaskan: لَئِنْ شَكَرْتُمْ لاَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat)-Ku kepadamu. Akan tetapi, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras." Ayat ke-7 Surah Ibrahim ini mengajarkan kepada kita bahwa cukup dengan mensyukuri nikmat-Nya, niscaya nikmat tersebut akan ditambah. Sebaliknya, jika mengingkarinya, maka bersiaplah menghadapi azab-Nya yang sangat pedih. Pengertian Syukur Sebelum pembahasan lebih lanjut, perlu kita ketengahkan makna syukur itu sendiri. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum ad-Din, pada pembahasan as-Sabru wa as-Syukr juz IV, memaparkan pengertian syukur secara praktis bahwa: الشُّكْرُ هُوَ صَرْفُ الْعَبْدِ جَمِيعَ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ بِهِ عَلَيْهِ إِلَى مَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ "Syukur adalah seorang hamba yang mempergunakan seluruh nikmat yang diberikan Allah sesuai dengan tujuan diciptakannya nikmat tersebut." Definisi syukur tersebut semakin lengkap dipahami melalui jawaban Imam al-Junaidi ketika beliau ditanya tentang makna syukur. Sebagaimana dijelaskan Imam Al-Qusyairi dalam kitab ar-Risalah al-Qusyairiyyah, syukur adalah tidak bermaksiat kepada Allah dengan nikmat-nikmat yang diberikan-Nya. Sedangkan Ibnu 'Athaillah dalam al-Hikam menegaskan bahwa: الشُّكْرُ قَيْدُ الْمَوْجُوْدِ وَصَيْدُ الْمَفْقُوْدِ "Syukur adalah pengikat nikmat yang ada dan pemburu nikmat yang belum ada." Lalu, apa yang harus kita lakukan agar dapat masuk dalam ritme ayat ke-7 Surah Ibrahim di atas? Pertama: Menyadari bahwa segala nikmat berasal dari Allah Al-Qur'an menginformasikan melalui penggalan Surah an-Nahl ayat 53: وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ "Segala nikmat yang ada padamu berasal dari Allah." Dalam surah yang sama pada ayat 18 dijelaskan: وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا "Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." Penegasan pada dua potongan ayat di atas semestinya dapat menggugah kesadaran kita untuk mengakui dan mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah dalam setiap detik kehidupan, sekaligus menyadari betapa Maha Baik-Nya Allah. Terlebih jika kita menyoroti mafhum (makna implisit) dari ayat ke-53 Surah an-Nahl di atas, sampai kapan pun seseorang tidak akan pernah mampu membalas seluruh kebaikan Allah yang telah diterimanya. Sebab, segala sesuatu pada hakikatnya adalah titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Surah at-Takatsur ayat 8: ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ "Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan." Kedua: Menyadari bahwa setiap daya dan upaya manusia pada hakikatnya bergantung sepenuhnya kepada Allah Dalam Al-Qur'an Surah al-Insan ayat 30, Allah menjelaskan bahwa: وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا "Kamu tidak menghendaki (sesuatu), kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Ayat yang lain juga menegaskan: وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ "Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (Q.S. at-Takwir: 29) Pelajaran yang dapat kita petik dari kandungan kedua ayat tersebut adalah bahwa segala sesuatu yang diperoleh manusia semata-mata merupakan pemberian Allah. Sedikit pun manusia tidak memiliki kemampuan untuk memastikan keberhasilan dalam meraih keinginannya. Semua itu bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah. Dari sinilah akan lahir kesadaran bahwa setiap daya dan upaya bergantung kepada Allah, dan segala nikmat hanyalah pemberian-Nya. Dengan demikian, manusia akan mampu menjalani hidup dalam makna Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh yang sesungguhnya. Ketiga: Menanamkan dua kesadaran di atas dalam kehidupan sehari-hari Salah satu sifat Allah yang sangat tampak dalam kehidupan kita adalah bahwa Allah merupakan Zat Yang Maha Pengasih (ar-Rahman). Tidak ada seorang pun yang mampu melanjutkan hidupnya walau hanya sedetik tanpa kehendak-Nya. Sebutir nasi, seteguk air, setiap tarikan napas, hingga berfungsinya setiap organ tubuh semuanya terjadi atas izin-Nya. Pada hakikatnya, segala sesuatu berlangsung atas qudrah dan iradah-Nya. Dalam Surah Yunus ayat 107 dijelaskan: وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ اِلَّا هُوَۚ وَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖ "Jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya." Menjadikan Syukur sebagai Kompas Kehidupan Marilah kita berusaha menjadikan rasa syukur sebagai spirit dan motivasi dalam setiap keadaan, baik ketika memiliki kesempatan berbuat kebaikan maupun ketika menikmati setiap nikmat yang dianugerahkan-Nya. Hal tersebut merupakan sebuah keniscayaan yang seharusnya menjadi prinsip dalam menjalani kehidupan. Mulailah setiap ikhtiar dengan menyebut dan mengingat-Nya serta memohon pertolongan kepada-Nya, kemudian akhiri setiap ikhtiar itu dengan bersyukur kepada-Nya. Kesadaran seperti inilah yang sangat penting ditanamkan dan dilatih dalam setiap detik perjalanan kehidupan yang fana ini sehingga seseorang mampu menjadi pribadi yang pandai bersyukur kepada Tuhan-Nya. Seluruh uraian di atas mengarahkan kita pada satu pemahaman penting bahwa apa yang saat ini menjadi milik kita pada hakikatnya hanyalah titipan dari-Nya. Pada saatnya nanti, semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Teruslah berusaha menjadi pribadi yang pandai mengakui setiap nikmat dari-Nya serta senantiasa mempergunakan seluruh nikmat tersebut sebagai bentuk pembuktian ketaatan hanya kepada-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab. Muhammad Rosyidi merupakan alumni Ma'had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, dan saat ini menjadi pengajar di Pondok Pesantren Assholihiyah Santong, Terara, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

07/07/2026

Seni Mengakui Nikmat Allah: Menghitung yang Tak Terhitung

Ulama Kupi

07/07/2026

Dari Kebangkitan Menuju Aksi: Gerakan Ulama Perempuan KUPI, Wujudkan Indonesia Tanpa Kekerasan

07/07/2026

Densus 88 dan Diskominfo Maluku Perkuat Literasi Digital Cegah Radikalisme dan Terorisme

06/07/2026

Kelompok Saraya Ansar al-Sunna Klaim Serangan Bom di Kafe Damaskus, Aparat Suriah Lakukan Perburuan

Popular

Densus 88 Tangkap Terdugga Teroris Afiliasi JI

Bus Pembawa Anak-Anak Jadi Target Bom Saudi di Yaman, 29 Orang Tewas

Catatan Akhir Tahun 2019: Terorisme Musuh Semua Negara dan Agama

Dalil Doa dan Amalan Mengusap Mata Saat Adzan

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Bagi Istri, Ridho Allah Itu Ada Pada Ridho Suami

Hadis Nabi, Di Akhir Zaman Islam Tinggal Nama Saja

Berapa Usia Para Istri Rasulullah Ketika Dinikahi? Ini Jawabannya

Harakatuna ©2026

Maintenance and Developed by Pondokgue Digital

Perdoman Media Siber Redaksi

KIRIM TULISAN