26.5 C
Jakarta

Serial Pengakuan Eks Napiter (XLXXIII): Eks Napiter Atok Sekarang Tobat dan Rajin Jadi Penceramah di Klaten

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Eks Napiter (XLXXIII): Eks Napiter Atok Sekarang Tobat dan Rajin...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Radikalisme dan terorisme menjadi ideologi yang cukup berbahaya terhadap bangsa ini. Sudah banyak bangsa tanah air yang terpapar ideologi menyesatkan itu. Baik mereka yang sudah lama gabung dan menjadi pelaku sekaligus perekrut ataupun mereka yang hanya sebatas korban dari doktrin pelaku terorisme, sehingga gabung di dalamnya tanpa tahu keputusannya bergabung di dalam kelompok teroris akan menghancurkan masa depannya.

Meski banyak yang terpapar ideologi jahat itu, banyak pula yang sudah kembali alias bertobat dari dosa-dosa sosial berwajah terorisme yang telah mereka lakukan di masa lalu. Para mantan narapidana terorisme (napiter) ini membuka lembaran baru di tengah-tengah masyarakat, meski kehadirannya masih diragukan karena efek terorisme yang dilakukannya di masa lalu. Mereka tetap berusaha meyakinkan masyarakat bahwa mereka sudah bertobat, dan mereka melakukan kegiatan-kegiatan sosial sebagai bentuk menebus dosa sosialnya.

Seorang yang pernah terpapar ideologi radikalisme dan terorisme adalah Roki Apris Dianto alias Atok (selanjutnya disebut ”Atok”). Ia awalnya tergabung dalam kamp terorisme di Jalin, Jantho, Aceh. Ia kemudian bergabung dengan Sigit Qordhowi. Dari kasus itu ia kemudian dijatuhi hukuman 15 tahun kurungan penjara. Namun pada 2012, ia justru kabur dari tahanan. Dalam pelariannya ia membuat bom hingga akhirnya ia ditangkap dan ditambahi hukuman selama sembilan tahun penjara.

Pada hukuman kedua ini Atok mendapatkan hidayah. Di situlah dia bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Ia tinggalkan dosa yang lalu, yaitu terlibat dalam aksi-aksi terorisme. Setelah itu, Atok menjadi tim dakwah dari Yayasan De Bintal yang didirikan oleh Densus 88. Saat ini tim dakwahnya memiliki sejumlah program deradikalisasi dan kontra radikalisasi ke lapas-lapas seluruh Indonesia.

Atok mengaku sekarang ini aktif mendatangi Lembaga Permasyarakatan (LP) Klaten. Sebab di LP tersebut terdapat tiga eks napiter dan dari khilafatul muslimin. Ia melakukan pembinaan dengan ceramah untuk menyadarkan napi teroris. Ia lakukan ceramah dalam berbagai segi, baik sisi agama yang mengajak kepada perdamaian maupun sisi ekonomi.

Ceramah yang dilakukan Atok merupakan langkah paling efektif. Banyak orang yang terpapar ideologi radikalisme dan terorisme karena mereka mendengarkan ceramah seputar agama dari sumber yang salah, semisal dari pelaku teroris. Atok menggunakan metode ceramah dalam deradikalisasi karena, mungkin (sekali lagi: mungkin), ia memiliki bakat dalam ceramah. Orang punya bakat di situ akan lebih gampang menghipnotis pendengar untuk mengikuti segala yang dikatakannya.

Perjalanan Atok dari radikalisme-terorisme ke moderatisme adalah hijrah yang benar. Hijrah bukan seperti yang dipahami kelompok teroris, bahwa hijrah meninggalkan negara kafir dan bergabung dengan negara Islam yang dibangun ISIS. Itu bukan hijrah karena meninggalkan tempat yang baik menuju tempat yang buruk. Hijrah bukan mengkafirkan orang lain yang tidak sepemikiran, bahkan melakukan bom bunuh diri. Itu bukan hijrah tapi bunuh diri yang diharamkan oleh agama Islam. Karena, Islam tidak mengajar aksi-aksi terorisme semacam itu.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita mantan narapidana teroris Roki Apris Dianto alias Atok yang dimuat di media online Solopos.com

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru