25 C
Jakarta

Serial Pengakuan Eks Napiter (XLXXII): Kisah Mantan Napi Teroris Yudi Zulfahri Berjuang Mendapatkan Pekerjaan

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Eks Napiter (XLXXII): Kisah Mantan Napi Teroris Yudi Zulfahri Berjuang...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Terorisme memang bukan isu yang baru-baru ini terdengar. Di Indonesia kegiatan terorisme mulai terlihat di permukaan pada tahun 2000, bertepatan malam Natal. Sasaran pengeboman pada waktu itu adalah gereja di Jakarta, di antaranya, Gereja Katedral, Gereja Kanisius Menteng Raya, Gereja Santo Yoseph Matraman, Gereja Koinonia Jatinegara, dan Gereja Oikumene Halim.

Pengeboman terhadap gereja-gereja ini disebabkan isu anti-Barat yang merupakan efek dari serangkaian serangan Osama bin Laden terhadap World Trade Center (WTC) di Kota New York, Amerika Serikat. Barat saat itu dianggap sebagai musuh yang diklaim kafir karena telah banyak mengubah Islam ke arah, yang menurutnya, tidak baik.

Kemudian, pengeboman beralih dari gereja ke institusi kepolisian. Tentu, peralihan ini punya motif tersendiri, yaitu anti-thaghut. Sebut saja, pengeboman yang terjadi di Masjid Mapolresta Cirebon pada tanggal 15 April 2011 dan baru-baru ini bom bunuh diri meledak di Polsek Astana Anyar Bandung. Itu motif di balik kegiatan terorisme.

Melihat kenyataan seperti itu kegiatan terorisme jelas menjadi musuh bersama. Bangsa ini harus berani melawan terorisme. Lebih-lebih menyadarkan pelaku teror untuk kembali ke jalan yang benar (hijrah). Tentu, ini tidak mudah. Butuh strategi untuk menyadarkan mereka dengan pembinaan deradikalisasi.

Deradikalisasi, baik yang dilakukan pihak kepolisian atau lainnya, telah menghasilkan banyak manfaat. Banyak napi terorisme yang sadar dan bertobat. Salah satunya, Yudi Zulfahri alias Barok. Pria kelahiran Banda Aceh, 18 Maret 1983, itu bergabung dengan kelompok radikal di Aceh. Di saat bersamaan, pada 2010 Aceh dijadikan kamp pelatihan militer.

Yudi mulanya terpengaruh media ekstrem yang mengubah pemikirannya menjadi seorang radikal. Media ekstrem yang dia pelajari saat itu soal pemahaman syariah Islam dan negara Islam. Ia dengan mudah mengakses media ekstrem itu dari Internet dan membaca buku. Sebagai seorang pemuda ia sangat bersemangat setelah memahami isi media ekstrem itu.

Yudi tidak pernah mencari referensi lain untuk mencari pembenaran tentang apa yang telah dipelajarinya. Semua ajaran dari media ekstrem itu dia telan mentah-mentah. Ia lalu ikut bergabung dalam pelatihan militer di Aceh yang berperan sebagai koordinator lapangan. Tugas utamanya menyediakan sarana dan prasarana (sarpras) pelatihan.

Tepat pada 22 Februari 2010 di perbukitan Jalin, ia ditangkap Densus 88 dan ditetapkan sebagai tersangka teroris dalam penggerebekan di kamp pelatihan militer. Ratusan orang dari Aceh, Jawa, dan sekitarnya ditangkap Densus 88 pada saat itu. Pimpinan kamp militernya adalah Dulmatin dan beberapa buron teroris lainnya. Di persidangan, Yudi divonis 5 tahun penjara.

Yudi menjalani hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Banda Aceh dan Polda Metro Jaya. Saat berada di LP Polda Metro Jaya, ia bertemu Ali Imron, salah seorang napi terorisme yang mengajaknya kembali ke jalan yang benar. Ia merasakan setelah keluar dari penjara stigma sebagai napi teroris masih melekat sampai sekarang. Bahkan orang yang sebelumnya tidak tahu profil dirinya menjadi tahu setelah mengakses Internet.

Yudi berharap pemerintah ikut mengembalikan nama baiknya agar dirinya tidak lagi dicap sebagai teroris. Ia mengaku kesulitan mencari kerja karena label tersebut. Kemudian, ia menjelaskan kesibukannya sekarang membantu pemerintah dalam memberikan pemahaman tentang bahaya paham radikalisme. Kesibukan lainnya menyelesaikan kuliah Program Pascasarjana Studi Kajian Ketahanan Nasional di Universitas Indonesia (UI).

Sebagai penutup, perjalanan Yudi jelas bukanlah sesuatu yang diinginkan. Ia menyesal, karena telah menyia-nyiakan waktu untuk kegiatan yang tidak berguna. Apalagi, PNS-nya dicopot, bahkan yang paling ”ngenes” kesulitan diterima di tengah-tengah masyarakat dan sulit ”apply” pekerjaan. Tapi, jika memang benar-benar bertobat, tebuslah dosa sosialnya dengan perbuatan yang baik, sehingga bisa mengetuk hati masyarakat untuk menerima dia kembali.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita mantan napi teroris Yudi Zulfahri yang dimuat di media online Solopos.com

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru