34.4 C
Jakarta

Meresensi Itu Cara Ampuh Belajar Menulis

Artikel Trending

KhazanahMeresensi Itu Cara Ampuh Belajar Menulis
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Banyak jalan menuju Roma, banyak pula cara belajar menulis. Banyak orang ingin bisa menulis dengan baik, tapi kebingungan cara memulainya. Alhasil, tanpa bimbingan mentor yang mumpuni dan pengetahuan memadai, mereka belajar secara otodidak. Sebagian mungkin berhasil dan bisa menghasilkan tulisan yang terus berkembang secara kualitas dari waktu ke waktu. Namun, sebagian besar lainnya hanya jalan di tempat. Tulisannya tetap buruk mutu, walaupun dia bersemangat menulis.

Lantas, bagaimanakah cara menulis yang baik? Tentu saja tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan itu. Saya pun bukanlah orang yang sudah mahir menulis dan menguasai seluruh keterampilan menulis dengan sempurna. Saya juga masih terus belajar menulis yang baik. Tulisan ini dibuat semata-mata sebagai upaya untuk berbagi ilmu dan pengalaman.

Ada yang bilang tulisan yang baik adalah tulisan yang sanggup mengantarkan pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembacanya. Ada pula yang menyebut tulisan yang baik adalah tulisan yang sudah memenuhi unsur kepenulisan dengan sempurna semisal kalimatnya sudah rapi, gagasannya jelas, datanya akurat, argumentasinya bagus, dan pemilihan diksinya tertata.

Menghasilkan tulisan yang cakap jelas bukan perkara gampang. Sama halnya dengan membuat kursi yang bagus atau perabotan yang ciamik, kerja kepenulisan juga butuh usaha dan keterampilan khusus, serta ketekunan yang tiada habisnya. Rasanya akan panjang kalau saya menuturkan semua cara untuk menghasilkan tulisan yang baik. Atau setidaknya untuk mengembangkan kualitas tulisan.

Meresensi Modal Sebelum Menulis

Oleh karena itu, saya hanya ingin membahas satu kiat, yaitu belajar menulis dengan cara meresensi. Meresensi atau menulis resensi adalah upaya kita membuat ulasan atas suatu bacaan. Kita bisa menuliskan kesan, saran, keluhan, atau apa pun tentang buku yang kita baca.

Mungkin sebagian orang menganggap meresensi itu kerjaan sepele. Padahal, meresensi itu hal yang rumit. Untuk bisa menulis resensi yang cakap, kita harus memahami betul isi bacaan kita, mampu mengungkap sisi-sisi kekurangan maupun kelebihan buku yang kita baca. Perlu ketelitian dan kritisisme untuk menulis resensi.

Dalam esai Meresensi Itu Membaca, Muhidin M. Dahlan menulis, “Tak ada resensi buku tanpa lewat praktik membaca. Bahkan, meresensi adalah salah satu modus membaca paling intim; tak hanya melibatkan emosi, tapi juga intelektual dan keterampilan merumuskan ulang lewat tulisan pemikiran yang tersaji dalam buku.”
Ia melanjutkan, “Meresensi adalah menuliskan kembali apa yang tersirat maupun tersurat dalam buku yang dibaca.

BACA JUGA  Meramal Kepunahan Buku, Bagaimana Masa Depan Dunia Literasi?

Tak ada resensi buku tanpa lewat praktik membaca. Bahkan, meresensi adalah salah satu modus membaca paling intim; tak hanya melibatkan emosi, tapi juga intelektual dan keterampilan merumuskan ulang lewat tulisan pemikiran yang tersaji dalam buku. Meresensi adalah menuliskan kembali apa yang tersirat maupun tersurat dalam buku yang dibaca.”

Membaca Sebelum Meresensi

Jadi, meresensi itu mengolah berbagai kemampuan kita sekaligus. Di antaranya kemampuan mencerna bacaan, menulis ulang bacaan, mengkritisi bacaan, juga menafsirkan bacaan. Dengan itu, kita tahu bahwa meresensi adalah semacam olahraga pikiran yang tidak bisa dibilang sederhana.

Zen RS, seorang penulis prolifik yang banyak menulis esai dan karya sastra, pernah mengatakan dalam akun Twitternya, “Dulu belajar nulis esai dengan resensi buku. Gak apa-apa hasilnya buruk. 20 kali resensi buku gak dimuat, tapi artinya ada 20 buku yang kau baca.”

Betul belaka apa yang dikatakan Zen. Dengan menulis resensi, kita mendapat banyak untung. Bukan hanya secara otomatis membuat kita lebih banyak membaca, tapi juga mengembangkan kemampuan kita menulis. Orang yang rajin menulis esai atau cerpen belum tentu ia membaca satu buku utuh terlebih dahulu sebelum menulis, tapi orang yang menulis resensi, sudah pasti setidak-tidaknya ia membaca terlebih dahulu sebuah buku.

Pollycarpus Swantoro atau lebih dikenal P. Swantoro, pendiri Kompas Gramedia, punya serial buku berjudul Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu. Dalam buku tersebut, ia menulis secara khusus ulasan atas buku-buku yang dibacanya. Ia menulis resensi, tapi dalam bentuk yang lebih luhung dan serius. Buku itu bukan buku yang enteng dibaca. Walaupun “cuma” buku kumpulan resensi, itu adalah buku yang penting, terlebih bagi orang yang berkeinginan belajar menulis.

Begitu pentingnya menulis resensi. Ia bukan sekadar upaya membahas ulang suatu buku, tapi juga cara belajar menulis yang ampuh. Sila saja para pembaca sekalian praktikkan. Baca satu buku tiap pekan, misalnya, lalu buat resensi atas tiap buku yang dibaca. Percayalah, cara itu bukan hanya memperluas wawasan kita, tapi juga meningkatkan kualitas tulisan kita. Sila dicoba kalau tidak percaya. Dan jangan lupa: bacalah buku-buku yang bagus.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru