26.6 C
Jakarta

Meneladani Semangat Menulis Imam an-Nawawi

Artikel Trending

Imam an-Nawawi; penyusun Arba’in an-Nawawiyah, konon adalah ulama dengan semangat menulis yang mengagumkan. Sebagian peneliti mengungkapkan, bila dibandingkan antara jumlah umur beliau dengan lembar kitab yang ia tulis, bisa diperkirakan seumur hidup beliau menulis dua halaman per hari. Ya, semenjak beliau lahir sampai meninggal.

Imam an-Nawawi adalah ulama asal Damaskus yang karyanya banyak dikaji di pesantren maupun kampus. Beberapa di antaranya: Riyadhus Shalihin, al-Majmu’ al-Adzkar, Syarah Sahih Muslim dan lainnya. Mungkin kita sepakat bahwa tidak mungkin menyamai profil hidup beliau yang penuh catatan semangat belajar yang cukup tinggi, utamanya di bidang literasi.

Tapi, saya lebih suka berpikir bahwa beliau adalah sama-sama manusia seperti kita. Andai tak mungkin menyamai, setidaknya saya bisa mempermalukan diri saya sendiri bila sedikitpun tidak terdorong semangat menulis. Terutama saat membandingkan jumlah karya beliau dengan lengkapnya fasilitas yang bisa kita miliki sekarang. Di tengah kompleksnya fasilitas tulis-menulis, adakah alasan untuk lalai berkarya?

Produktivitas Imam an-Nawawi

Imam an-Nawawi lahir tahun 1233 M dan meninggal tahun 1277 M. Beliau hanya dikaruniai umur 44 tahun dan mulai menulis pada umur 30 tahun. Jumlah lembar karya tulis beliau yang ditulis dalam rentang 14 tahun, menurut peneliti riwayat hidup beliau, dapat dinyatakan berbanding antara dua lembar perhari dari jumlah umur beliau. Maka tak mengherankan banyak kisah-kisah yang menunjukkan betapa besar semangat belajar dan menulis beliau.

Imam as-Suyuthi dalam karya beliau tentang biografi an-Nawawi yang berjudul al-Minhaj as-Sawi fi Tarjamati Imam an-Nawawi, mengutip keterangan bahwa an-Nawawi menulis dan baru berhenti saat tangan beliau tidak bisa menulis lagi. Pernahkah kita berhenti menulis saat jari tak mampu memencet tombol keyboard lagi? Atau, setidaknya saat kepala pusing memandangi layar dan punggung terasa pegal-pegal, kita mau beralih menulis memakai pena dan kertas HVS?

BACA JUGA  Menulis Bukan Sekedar Penuangan Ide, Tetapi Eksistensi

Imam an-Nawawi adalah sosok intelektual yang memiliki pandangan hidup bahwa waktu harus dihabiskan untuk berbuat kebaikan. Dan kebaikan itu adalah memberikan manfaat pada orang-orang yang membaca karya-karya beliau. Hal ini diungkapkan Imam al-Asnawi, tatkala beliau menyatakan bahwa ada ulama yang semangat berkaryanya didorong prinsip umur harus dihabiskan untuk kebaikan, dan ini diyakini oleh Imam an-Nawawi. Dan ada pula ulama yang berkarya baru setelah ia merasa keilmuannya sudah mencapai puncaknya, seperti Imam ar-Rafi’i dan Ibn Rif’ah.

BACA JUGA  Menguatkan Budaya Literasi di Tengah Merebaknya Propaganda Hoax

Tentu saja, Imam an-Nawawi dengan intensitas kepenulisan yang tinggi bukanlah sekadar menulis tanpa adanya bahan. Beliau baru menulis pada umur 30 tahunan adalah karena sebelumnya umur beliau dihabiskan untuk belajar. Semangat belajar beliau tergambarkan dalam keterangan bahwa konon beliau saat sudah tak bisa menahan kantuk, beliau akan bersandar pada buku-buku, tidur sekadarnya dan kemudian lanjut belajar kembali.

Suatu ketika Imam an-Nawawi pernah dikomplain tentang salah satu keterangan beliau yang mengutip dari kitab al-Wasith karya al-Ghazali. Beliau lalu membalas: “Apa kalian mau meragukanku sementara aku sudah berulang-ulang kali mempelajarinya sejumlah 400 kali?

Saya kira, manusia normal akan malu saat membaca biografi beliau. Dan bertekad untuk tidak mau lagi dipusingkan soal ide apa yang mau ditulis, rasa kurang piknik, apalagi kurang belaian kasih sayang dari orang lain. Tidak ada alasan untuk tidak menulis, dan Imam ann-Nawawi dapat kita jadikan teladan tentang produktivitas.

Avatar
Mohammad Nasif
Lulusan Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru