25.7 C
Jakarta

ISIS: Pabrik Konflik untuk Bisnis (Bagian XI)

Artikel Trending

KhazanahTelaahISIS: Pabrik Konflik untuk Bisnis (Bagian XI)
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Setelah sebelumnya saya suguhkan, memaparkan sekian banyak fakta sejarah dari berbagai lembaga peneliti yang telah membangkangi ISIS. Kasus serta kepentingan pembisnis kilang minyak dunia, kasus serta kepentingan bisnis senjata, hingga kasus perampasan pajak non-kontrol menunjukkan bahwa ISIS tak ubahnya pabrik konflik demi keuntungan bisnis.

The Economist mengistilahkan konflik ISIS  sebagai ‘The Business of Conflict’, bisnis konflik. Hitung-hitungan matematis menunjukkan angka 2 miliar dollar per tahun yang diperoleh ISIS dari bisnis ini. Sejak tahun 2000-an The Economist telah menyebutkan bahwa mayoritas konflik yang terjadi saat ini, yang terutama sekali adalah konflik ISIS sangat sarat akan kepentingan bisnis.

Jika coba telaah kasus terorisme yang melibatkan kelompok Taliban dan Al-Qaeda, hampir semuanya tak dapat dipisahkan dengan dunia bisnis. Sederhanya, konflik ini bersifat penguasaan dan perampasan sumber daya alam tertentu. Negara yang sedang mengalami kekosongan dan sedang bangkrut memanfaatkan konflik ini dengan investasi senjata hingga investasi ‘ISU’. Katakanlah Amerika dan NATO dalang besarnya.

Bila lihat konflik yang terjadi di Suriah dan Irak semuanya berhubungan dengan penguasaan sumber minyak. Di Liberia dan Sierra Leone berhubungan dengan intan, mineral dan kayu. Begitu pula di Kolombia, semuanya bermula dari bisnis kokain. Lebih tepat, menunjukkan bisnis konflik dapat dilihat di Afghanistan yang sengaja mencipta konflik demi perdagangan opium.

Industri Militer dan Sang Tuan ISIS

Untuk menegaskan premis itu, lihat pada peperangan ISIS yang melibatkan perputaran uang dalam jumlah besar. Nampak selaki pada indsutri militer dan persenjataan yang membisniskan senjatanya untuk perang.

Dapat dibilang, semakin banyak perang, maka industri militer dan persenjataan akan semakin besar memperoleh keuntungan. Karena demi bisnis pula, perusahaan senjata kerap kali menjual senjatanya kepada dua kelompok yang sedang berkecamuk. Lihat realitas, senjata yang digunakan oleh ISIS berasal dari 21 negara yang didominasi oleh  pabrik persenjataan Amerika Serikat. Inilah yang penulis sebut pabrik konflik demi bisnis.

ISIS Jualan Islam Sebagai Underbow Bisnis

Sejauh konflik berkecamuk, ISIS senantiasa menjual fundamentalisme Islam. Hal ini dilakukannya untuk menarik kekuatan sekaligus menebarkan ketakutan. Maka tak ayal bila melihat militan ISIS mereka selalu bilang terpengaruh ajaran agama. Dan itu adalah kebanggaan sebagai jihadis yang rela mati suci.

Pengakuan ini, dapat dipat dilihat dari Nina Arif misalnya yang bersaksi  bahwa dirinya bergabung ISIS masih dalam keraguan dalam beragama dan di sanalah dogma ISIS masuk. Abu Taubah, contoh lain juga menuturkan bahwa masuk ISIS sebagai pelarian dan untuk mencari masa depan yang lebih layak karena jaminan yang ditawarkan ISIS. Di Indonesia, kasus yang sama juga dapat dengan mudah ditemukan, artinya ISIS demi bisnis yang membadarinya, rela mengurbankan doktrin agama.

BACA JUGA  Gus Yaqut, Bagaimana Sebenarnya Kita Menanggapi?

Nalar rasional dapat membenarkan bahwa apapun demi ekonomi dapat dilakukan. ISIS sebagai‘mesin’ korporasi tentu rela mengorbankan segala potensi yang dapat menyult konflik. Dan itu semua hanya akan berjalan jika ada rantai ekonomi besar yang menggerakkannya. Oleh karena itu, terlalu sempit untuk memandang ISIS sekedar sebagai gerakan fundamentalisme agama Islam. Karena faktanya Islam hanya menjadi brand dari korporasi ekonomi itu sendiri.

Demi Bisnis ISIS Lebarkan Sayap

Demi memperbesar pendapatan korporasi ISIS senantiasa melebarkan sayap keberbagai daerah. Sebut saja di dalamnya adalah Marawi, Mindanao, Filipina. Kelompok kelompok ISIS di berbagai negara tersebut masih menebar ketakutan seejauh ini.

Di Mindanao kelompok Maute atau Abu Sayyaf, salah satu agen ISIS dalam aksi menebarkan ketakutan itu berharap mendapatkan dana bantuan dari investor negara negara adikuasa. Maka tak heran jika Abu Sayyaf yang menyandera warga Mindano selalu minta tebusan kepada pemerintah. Pola bisnis ini sangat mirip dengan yang dilakukan oleh ISIS.

Jika menilik potensi Mindanao ada kaitannya dengan Filipina, bahkan 8 dari 10 hasil komoditi ekspor utama Filipina berasal dari pulau Mindanao. Maka sampai di sini, penulis berasumsi bahwa pola bisnis konflik yang terapkan di ISIS sedang diterapkan di Mindanao. Yang jelas, ISIS memakai Islam sebagai brand of busines di berbagai negara-negara yangn memiliki potensi besar separatisme agama.

Bagaimana dengan Indonesia? Mungkinkah Ideologi ISIS beserta kasusnya akan diekspor ke Indonesia. Sepertinya masih tidak mudah mengikis dan memanfaatkan Indonesia ke rahan bisnis ini. Sebab di Indonesia kontrol dan legitimasi pemerintah masih sangat kuat di berbagai daerahnya.

Akan tetapi jika dilihat secara sepintas, branding Islam fundamentalis pada satu sisi telah berhasil menarik hati warga negara Indonesia. Tampak sekali jualan agama, aksi-aksi yang mengatasnamakan agama dapat dibilang sangat kuatan persebarannya di Indonesia. Bahkan aksi sweeping, teror dan pengeboman masih terus berjalan kencang hingga hari ini. Paling tidak di pada itu ada indikasi agen ISIS talah masuk Indonesia.

Pastinya, Indonesia telah berhasil mendamaikan kasus-kasus teror dengan skala besar yang sempat melantakkan Indonesia. Katakanlah Bom Bali, Bom Poso, Bom Tamrin dan lain sebagainya juga sempat menyeret Indonesia pada ketakutan yang akut pada kekerasan agama. Namunm, sepanjang pemerintah masih tegak mengusung ideologi dan hukumnya sendiri, pasti Indonensia tidak akan terlibat dalam bisnis konflik ISIS sebagaimana negara-negara lain yang telah dipaparkan sebelumnya.

Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru