27.3 C
Jakarta

Bisnis Perbudakan Manusia Teroris

Artikel Trending

Milenial IslamBisnis Perbudakan Manusia Teroris
Dengarkan artikel ini


image_pdfDownload PDF

Teroris itu bernyali. Secara berani melakukan apa saja menurut tafsiran dan ideologi wataknya. Ia bahkan rela mengorbankan barang terdekatnya (anak, istri, suami, sesama manusia, dan harta-benda) untuk mencapai tingkat apa yang ia sebut mati syahid.

Tujuannya cuma satu: surga. Surga menjadi tumpuan utama dengan mengambil jalan pintas dan mudah tapi mematikan: dor. Bom, meledakkan diri. Parsialitas atas pembacaan tafsir agama dan keringkihan membaca politik serta wacana dunia, menuntun para teroris menuju ke sana: kematian nista.

Tapi yang ia tidak dikenali adalah permainan politik bisnis manusia teroris. Saya menyebutnya bisnis perbudakan manusia teroris. Banyak yang menjadikan aksi-aksi teroris untuk mendapatkan cuan. Begitu juga sebaliknya, banyak cuan menjadi pemasok para kombatan teroris dunia. Pembisnis dan kotak amal, misalnya.

Bisnis yang lebih ngeri, adalah perbudakan manusia teroris itu sendiri. Indonesia salah satu pemasok manusia teroris terbanyak se Asia. Para perempuan dijadikan tumbal meledakkan diri. Selain itu, ia dijadikan peternak dan pembibitan teroris dengan cara perkawinan. Lewat rahimnya, ia jadikan sebagai jalan jihad atas nama kejayaan agama para teroris. Para returnis menyebutnya jihad khilafah.

Bahkan bisnis-bisnis perempuan yang mapan, menjangkau itu semua. Melewati banyak simpul dalam jaringan luas mafia teroris, pengusaha, dan politisi. Jika di Timur Tengah, lahir lewat aliran kilang minyak. Di Indonesia, dari bisnis kotak amal, catering, warung nasi, dan warung partai. Dari bawah tanah inilah bisnis teroris manusia berjalan secara lengang.

Jurnalis investigasi Lydia Cacho menemukan variabel itu. Meski tidak spesifik membahas perbudakan manusia teroris, tapi analisisnya bernyali kuat menjangkau perbatasan semua itu. Dalam bukunya, Bisnis Perbudakan Seksual: Menelusuri Perdagangan Perempuan dan Anak-anak Internasional (2021), tersimak kuat dan berhasil memetakan perbudakan kontemporer abad ke-21.

Lydia Cacho secara tajam dan berani mendongkel bisnis bejat itu. Ia menemukan perdangan manusia global yang melintas dari benua ke benua, dari negara ke negara, salah satunya dari Meksiko ke Turki. Dari Thailand ke Israel. Dari Jepang ke Spanyol.

Bisnis perbudakan manusia teroris ternyata beriringan dengan bisnis wisata hiburan malam, pornografi, penyelundupan narkoba, organ tubuh, pencucian uang, dan bisnis senjata. Dari perangkat “cuan” itulah, baik dalam negeri maju, berkembang, justru memperkuat jaringan kriminal teroris. Cuan jadi jalan tempuh bisnis perbudakan manusia-manusia menjadi teroris.

BACA JUGA  Gerakan Pembebasan Islam dalam Ketelatenan Kekerasan

Bisnis Sasaran dan Jihad Terorisme Global

Sasarannya perempuan, anak-anak muda, dan manusia dewasa. Kita menyebutnya generasi milenial. Generasi milenial inilah di Indonesia sedang mau diserbu oleh organisasi teroris atau orang yang sedang menjalani jihad teroristik.

Vormasinya jelas. Para teroris ini melihat bagaimana kelemahan perempuan, anak-anak muda, dan manusia dewasa ini yang makin tebal. Generasi ini memiliki daya kuat dan keinginan belajar agama tinggi. Tapi mengalami krisis identitas. Kondisi ini ditambah meningkatnya populasi agama dan kaum muda/perkotaan yang menjalankan ritus belajar agama di digital. Kesalehan dicari melalui perangkat digital. Kemudian oleh para teroris, ruang (kelemahan) itu dimanfaatkannya sebagai jalan perekrutan.

BACA JUGA  Radikalisme Rijikers dan Keadilan di Indonesia

Para generasi ini tidak mampu memiliki kemampuan untuk menangkap informasi yang utuh terkait dengan propaganda dan indoktrinasi yang dilakukan oleh kelompok terorisme. Sehingga krisis akal sehat itu tidak mampu melihat dibaliknya. Bahkan menganggap bahwa kekerasan teroris seperti ISIS, merupakan jalan keluar atau solusi dalam menyelesaikan permasalahan agama, sosial dan negara Indonesia.

Masa transisi krisis identitas kalangan pemuda terjerembab ke jalan gelap itu. Ia mengalami apa yang disebut Quintan Wiktorowicz (2005) sebagai cognitive opening (pembukaan kognitif), sebuah proses mikro-sosiologis yang mendekatkan mereka pada penerimaan terhadap gagasan baru yang lebih radikal. Alasan-alasan seperti itulah yang menyebabkan mereka sangat rentan terhadap pengaruh dan ajakan kelompok kekerasan dan terorisme (Merdeka.com 7/4/2021).

Contohnya dari beberapa aksi terorisme terkini. Misalnya, kelompok Jamaah Islamiyah membentuk tim Askari yang terdiri dari 5-10 orang sebagai tim penyerang yang beranggotakan anak-anak muda atau kaum millennial yang dalam hal ini juga melakukan aksi bom bunuh diri seperti yang bisa kita lihat pada kasus bom J.W. Marriot (18 tahun), Ritz Charlton (27 tahun), Bom Bali (20-23 tahun), hingga kasus terkini yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri (Merdeka.com 7/4/2021).

Fenomena aksi terorisme terjadi pada golongan pemuda karena kondisi psikologi, ajaran agama, cakrawala-wacana, politik yang belum stabil. Mereka dijadikan tumbal bisnis perbudakan manusia oleh para teroris. Nyawanya lenyap bersamaan dengan lenyapnya surga dan kemanusiaan dirinya.

Tapi ideologinya tak pernah lenyap. Ia bisa dekat dan hidup menghampiri pembaca semua. Tergantung pembaca mau, atau tidak, dengan memilih jalan kritik diri dan lian. Gimana?

Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru