30.8 C
Jakarta

Abu Bakar Ba’asyir, Konsolidasi Umat, dan Deklarasi Khilafah 2024

Artikel Trending

Milenial IslamAbu Bakar Ba’asyir, Konsolidasi Umat, dan Deklarasi Khilafah 2024
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Semua berawal dari bebasnya Abu Bakar Ba’asyir dari Lapas Gunung Sindur, Jum’at (8/1) lalu, setelah menjalani 15 tahun penjara dengan remisi 55 bulan. Pendiri Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang juga dedengkot Jemaah Islamiyah (JI), organisasi teroris afiliasi Al-Qaeda, itu bebas tanpa syarat. Lagi pula, ia tidak akan mau meneken tanda setia NKRI. Ia bebas karena memang waktunya. Banyak yang menyayangkan. Tetapi, mau apa?

Abu Bakar Ba’asyir bebas dengan perasaan menang. Sebagai teroris paling loyal, teguh perihal anti-NKRI, itu prestasi yang laik apresiatif. Dari kemenangan tersebut, untuk mengatakan bahwa ia akan berhenti menjadi teroris, sebagaimana Abdul Rochim Ba’asyir, anaknya tegaskan, sulit dipercaya. Buktinya, ia mulai keliling ke pelbagai pesantren, salah satunya Ponpes Darussalam Gontor, Ponorogo, dan Ponpes Tebuireng, Jombang (Republika, 2021).

Apakah agendanya silaturahmi belaka? Mustahil. Bertahun-tahun ia menolak Pancasila, mengajarkan jihad teror, terlibat aksi terorisme. Mengatakan ia akan insaf, tentu itu hal yang mustahil. Pada Senin (15/2) kemarin, ketika Abu Bakar Ba’asyir menerima kunjungan dari rombongan Pemdes Cemani, yang dipimpin oleh Kepala Desa Cemani, Hadi Indrianto, di kompleks Ponpes Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, itu terbukti.

Abu Bakar Ba’asyir menegaskan, persaudaraan harus dirajut. Tetapi untuk sesama Muslim saja, karena non-Muslim bukan saudara. Ia juga mewanti-wanti, Al-Qur’an dan hadis harus menjadi pegangan teguh, hanya keduanya, tidak ada pegangan lainnya, dan tidak bisa tawar-menawar. Jika bertentangan, menolaknya adalah wjib, sekalipun itu berasal dari DPR bahkan Presiden. Eksklusivisme yang berujung pengkafiran (takfir), darinya, belum sembuh.

Ketika pesannya di banyak kunjungan ternyata sama, yakni kembali ke hukum Allah dalam Al-Qur’an dan hadis, yang faktanya itu kedok klasik teroris, maka satu kesimpulan bisa tersuguhkan: ia tengah melakukan konsolidasi umat. Untuk apa? Tidak lain adalah persiapan penyambutan tahun akan tegaknya khilafah. Ini akan dibahas secara panjang, berkelanjutan. Intinya, hari ini, Abu Bakar Ba’asyir tengah bergerilya melalui dakwah politik.

Dakwah Politik Abu Bakar Ba’asyir

Hari ini, pendiri organisasi teroris Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) itu tak ubahnya pemimpin yang melayang-layang (floating leader). Itu menurut Agus Wedi dalam artikelnya, Abu Bakar Ba’asyir dan Safari Politik Islam Menuju 2024. Ia mengatakan, safari politik Abu Bakar Ba’asyir adalah “demi menumpas dan mengupas kesan buruk di punggung namanya. Demi mengembalikan karir politik islamnya yang dinyatakan berakhir.”

Benarkah demikian? Iya, kurang-lebih begitu. Ponpes Darul Wahyain, Magetan, Jawa Timur, pimpinan Abdul Rosyid Ba’asyir, sang anak, yang satu dekade lalu mendapat penolakan warga lantaran khawatir jadi sarang teroris, juga Abu Bakar Ba’asyir kunjungi. Konsolidasi juga terjadi di Ponpes Al-Islam Gumuk, Banjarsari, Surakarta. Pengasuhnya, Ustaz Mudzakir, merupakan penasihat Tim Pembela Muslim (TPM), sahabat yang mengadvokasi Ba’asyir.

BACA JUGA  Teroris Al-Qaeda, JI dan Mencegah Terorisasi di Indonesia

Merujuk rekam jejaknya yang malang-melintang di dunia terorisme, dakwah politik Abu Bakar Ba’asyir diproyeksikan, setidaknya, untuk dua tujuan. Pertama, membangun solidaritas umat Islam lintas pesantren—markas umat. Seolah, ia berhenti berdakwah melalui bom bunuh diri, dan bermanuver ke dakwah politik praktis-birokratis (jihadul kalimah). Itu seperti yang dirinya tegaskan saat berkunjung ke Pondok Pesantren Isy Karima, Karangpandan, Karanganyar.

Kedua, dakwah politik tersebut bertujuan mendirikan organisasi teroris baru dengan gaya yang kian representatif. Artinya tidak lagi seekstrem JI, MMI, atau JAT yang pernah Abu Bakar Ba’asyir bangun, tetapi esensinya tetap berjuang untuk khilafah dan berhaluan takfiri. Juga boleh jadi untuk menyusun kekuatan baru lintas organisasi menjadi satu kekuatan baru, yakni kesatuan umat Islam, solid dalam satu gerakan yang sama-sama menentang pemerintahan.

Dakwah politik Abu Bakar Ba’asyir tidak akan jauh dari itu. Ia tidak mungkin menyerukan konsolidasi untuk NKRI. Mustahil. Beberapa pesantren yang dirinya—dibantu anaknya—kunjungi, adalah target. Karenanya, yang sangat mengkhawatirkan dari dakwah politiknya adalah satu, yaitu bersatunya umat yang sehaluan Ba’asyir. Atau dengan bahasa lain: bersatunya kaum radikal.

Kaum Radikal Bersatu

Salah satu kabar yang mengkhawatirkan dari konsolidasi umat, yang kita semua pasti takut itu terjadi, ialah bersatunya kaum radikal. Term ‘radikal’ di sini tidak dalam arti yang stigmatis, melainkan untuk mereka yang memiliki agenda mendelegitimasi pemerintah dan merongrong keutuhan NKRI. Maksudnya, mereka serumpun dalam agenda, meski tidak dalam ideologi. Apakah menyatunya kekuatan radikal memang sesuatu yang perlu dikhawatirkan?

Tentu saja jawabannya adalah iya. Deklarasi khilafah, berdasarkan sebuah observasi, akan berlangsung pada tahun 2024. Itu artinya tidak lama lagi. Persiapannya sudah mulai dari sekarang. Konsolidasi umat merupakan salah satu dari persiapan tersebut. Tidak mengherankan jika Abu Bakar Ba’asyir tak lagi menyerukan aksi teror bom, melainkan persatuan persaudaraan umat Islam (ukhuwwah Islamiyyah) dan persaudaraan seiman (ukhuwwah imaniyah).

Dua jenis ukhuwah tadi mengabsenkan aspek persaudaraan terpenting di NKRI, yaitu persaudaraan sesama bangsa (ukhuwwah wathaniyyah) dan persaudaraan sesama manusia (ukhuwwah insaniyyah). Padahal, dua yang terakhir ini sangat krusial, melihat NKRI yang majemuk—tidak hanya berisi umat Islam saja. Jalinan ukhuwah yang hendak Abu Bakar Ba’asyir rajut tetap takfiri, tetap eksklusif, tetap mengenyampingkan kemanusiaan.

Jika sampai ukhuwah tersebut berhasil ia bangun, maka jelas dan tidak ragu lagi, negeri ini akan penuh dengan umat-umat egois. Kepentingan mereka hanya sesama umat Islam, yang seiman,  atau dengan bahasa menakutkan adalah: akan terjalin persatuan para kaum radikal. Lalu, tinggal menunggu deklarasi khilafah, kemudian berbaiat. Abu Bakar Ba’asyir tengah merencanakan semua itu demi satu tujuan: menuju khilafah 2024.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru