32.1 C
Jakarta

Pesantren dan Radikalisme: Catatan Kritis Untuk Kita Semua

Artikel Trending

Pesantren dalam deretan sejarah termasuk institusi keagamaan paling tua bahkan paling eksis sampai sekarang di Indonesia. Pesantren dengan khasnya pasti memediasi orang yang sudah beragama Islam dan mereka dididik untuk menjadi orang muslim yang menekuni ajaran-ajaran syariat Islam. Berikut adalah catatan kritis sebagai bahan refleksi kita bersama.

Pesantren dengan eksisnya pengajaran agama menjadi sesuatu yang menarik untuk didekati oleh kelompok radikalis yang menjelma HTI, FPI, bahkan teroris. Paham radikal pasti tumbuh subur di pesantren yang santri-santrinya sangat patuh terhadap kyai dan ustadz. Para santri biasanya tidak banyak berpikir untuk menerima apa disampaikan kyai dan ustadz.

Santri yang sangat patuh terhadap kyai dan ustadz, sehingga apapun yang disampaikan menjadi kebenaran mutlak merupakan sikap yang fanatik. Fanatisme tentunya tidak baik dikonsumsi oleh siapapun. Karena, santri itu adalah manusia yang dikaruniai akal untuk berpikir. Aktivitas berpikir ini mendorong santri untuk memilih sesuai hati nurani sendiri.

Bahaya fanatisme adalah ketika kyai atau ustadz di pesantren terjebak propaganda radikalisme. Kyai dan ustadz ini akan mudah menggiring seluruh santri untuk mengikuti apa yang dipahami, sementara santri sendiri biasanya belum tahu bahwa yang disampaikan kyai dan ustadznya bertentangan dengan Islam. Karena, radikalisme itu dilarang dalam Islam.

Pesantren yang biasanya terpapar radikalisme jika pesantren ini terjebak dalam tiga ciri radikalisme: 1- Takfiri (mengkafirkan orang lain yang tidak sepemikiran), 2- Menjadikan aksi-aksi kekerasan sebagai solusi dalam berdakwah, dan 3- Menempatkan kepentingan politik di atas kemanusiaan.

BACA JUGA  Islam Tidak Disebarkan dengan Amarah

Dengan tiga ciri radikalisme tersebut, tulisan ini secara tidak langsung memberi catatan kritis untuk membatasi pada pesantren yang takfiri, melakukan aksi kekerasan, dan berpolitik dengan berlindung di balik instrumen agama yang menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Pesantren inilah yang dimaksud terpapar paham radikal. Tentunya, model pesantren ini juga bersikap fanatik terhadap kyai dan ustadz.

Tidak semua pesantren terjebak paham radikal. Ada banyak pesantren yang selamat dari paham picik ini. Pesantren yang selamat jika pesantren ini menegakkan nilai-nilai moderasi yang diajarkan oleh Islam. Nilai-nilai moderasi ini meliputi perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan. Nilai-nilai ini menjangkau semua manusia tanpa melihat perbedaan di antara mereka.

Lebih spesifik, pesantren yang selamat dari paham radikal adalah pesantren yang berlindung di bawah organisasi NU dan Muhammadiyah di Indonesia. Tidak bermaksud fanatik pada dua organisasi ini. Kedua organisasi ini, mulai masa didirikannya sampai sekarang, tetap menjaga nilai-nilai moderasi. Sehingga, perbedaan agama pun tidak menjadi persoalan di tengah NU dan Muhammadiyah. Semua manusia, bagi kedua ormas ini, bersaudara satu sama lain. Karena itu, catatan kritis ini menganjurkan agar tidak boleh saling mengkafirkan, melakukan tindakan kekerasan, bahkan menyudutkan.

BACA JUGA  Kembalinya Rizieq Shihab Sinyal Merebaknya Nalar-Sikap Kekerasan?

Sebagai penutup, tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan pesantren, tapi lebih mengajak orang-orang pesantren lebih berhati-hati terjebak paham radikal. Karena, paham radikal ini bertentangan dengan Islam. Jika pesantren sudah terpapar paham radikal, terus institusi keagamaan mana lagi yang dapat diharapkan untuk membentengi Indonesia?[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. Pesantren tidak berwajah tunggal. Ada pesantren yang merawat harmonisasi kehidupan masyarakat. Tetapi ada juga pesantren yang kurang mendukung harmonisasi kehidupan masyarakat. Pesantren yg merawat harmonisasi kehidupan masyarakat inilah yang cocok dijadikan media efektif dalam membangun sikap moderasi beragama dengan meningkatkan kemampuan santrinya memahami Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi negara, Bhineka Tunggal Ika sebagai sikap hidup berbangsa bernegara, dan NKRI sebagai bentuk final system bernegara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru