Harakatuna.com – Dunia olahraga seharusnya menjadi ruang kompetisi, sportivitas, dan penghormatan antarmanusia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, industri olahraga global justru semakin sering berubah menjadi panggung eksploitasi kebencian. Agama, ras, kebangsaan, bahkan identitas budaya dijadikan bahan provokasi demi mendulang perhatian publik dan keuntungan bisnis.
Fenomena itu kembali terlihat dalam konferensi pers UFC 328 yang digelar pada 7 Mei 2026 di Prudential Center, Newark, New Jersey, Amerika Serikat. Dalam konferensi tersebut, petarung Muslim asal Chechnya-Swedia, Khamzat Chimaev, terlibat perang mulut panas dengan mantan juara UFC, Sean Strickland.
Situasi memanas ketika Strickland melontarkan hinaan bernada rasis dan Islamofobik kepada Chimaev. Dalam beberapa potongan video yang viral di media sosial, Strickland menyebut Chimaev sebagai “teroris” dan menghina latar belakang etnis serta agamanya.
Chimaev kemudian merespons dengan kalimat yang ramai dipelintir publik: “I am a terrorist for him.”
Kalimat itu dipotong dan disebarkan tanpa konteks, seolah-olah Chimaev sedang mengaku sebagai teroris. Padahal, jika melihat rekaman lengkap konferensi pers, ia sedang menyindir label yang diberikan lawannya.
Masalahnya bukan sekadar drama UFC. Yang jauh lebih berbahaya adalah bagaimana kata “teroris” kini dipakai sebagai bahan hiburan publik. Media sosial menjadikannya meme. Netizen menjadikannya candaan. Padahal, di balik kata itu ada sejarah panjang darah, trauma, diskriminasi, dan kebencian global terhadap umat Islam.
UFC dan Industri Provokasi
UFC atau Ultimate Fighting Championship adalah organisasi olahraga seni bela diri campuran (Mixed Martial Arts/MMA) terbesar di dunia. Sejak berdiri pada 1993, UFC berkembang menjadi industri hiburan bernilai miliaran dolar dengan jutaan penonton global.
Namun, UFC tidak hanya menjual pertarungan di atas oktagon. Mereka juga menjual konflik personal, drama, dan kontroversi. Konferensi pers sering kali dibuat panas agar menarik perhatian media dan meningkatkan angka penjualan tayangan berbayar.
Dalam konteks bisnis, strategi ini mungkin berhasil. Namun, dalam konteks sosial, dampaknya bisa sangat berbahaya. Ketika hinaan rasis dan stereotip agama terus dipertontonkan tanpa batas etika, masyarakat perlahan menganggap kebencian sebagai sesuatu yang normal. Kasus Chimaev hanyalah satu contoh terbaru.
Menurut laporan media internasional, tensi antara Chimaev dan Strickland memang sudah memanas sejak beberapa minggu sebelum UFC 328 digelar. UFC bahkan menambah pengamanan dan menghadirkan polisi bersenjata dalam konferensi pers karena khawatir terjadi bentrokan fisik.
Pada konferensi pers tanggal 7 Mei 2026, kedua petarung saling menyerang secara verbal. Strickland diketahui melontarkan komentar yang menyinggung agama dan keluarga Chimaev. Chimaev lalu berusaha memotong ucapan lawannya sambil terus berteriak. Situasi akhirnya berubah chaos ketika terjadi kontak fisik saat sesi face off. Publik kemudian lebih fokus pada keributan dan kata “teroris” daripada akar masalah sebenarnya: Islamofobia yang terus dinormalisasi.
Islam dan Stigma Global
Sejak tragedi September 11 attacks tahun 2001, citra Muslim di Barat mengalami perubahan besar. Banyak media internasional secara tidak langsung membangun asosiasi bahwa Muslim identik dengan kekerasan, radikalisme, dan ancaman keamanan.
Akibatnya, banyak Muslim harus hidup dengan stigma sosial yang tidak adil. Nama Arab dianggap mencurigakan. Jenggot dan hijab dipandang sebagai ancaman. Bahkan, atlet Muslim pun sering menjadi sasaran stereotip.
Fenomena ini bukan hal baru dalam dunia olahraga. Pada UEFA Euro 2020 misalnya, pemain Muslim asal Prancis, Karim Benzema, pernah menerima tuduhan dan ujaran kebencian bernuansa Islamofobia di media sosial. Begitu pula Mesut Özil yang berkali-kali menjadi sasaran diskriminasi identitas di Jerman.
Di UFC sendiri, sentimen anti-Muslim juga pernah muncul kepada Khabib Nurmagomedov. Setelah mengalahkan Conor McGregor pada UFC 229 tahun 2018, pertarungan justru berubah menjadi konflik identitas yang dipenuhi hinaan agama dan kebangsaan. Artinya, persoalan ini bukan insiden tunggal. Ada pola besar yang terus berulang: Muslim dijadikan “musuh ideal” dalam budaya populer global.
Radikalisme Tidak Melulu Berbentuk Bom
Ironisnya, banyak orang hanya memahami radikalisme sebagai aksi pengeboman atau kekerasan bersenjata. Padahal, radikalisme juga bisa tumbuh dari bahasa, stigma, dan dehumanisasi. Ketika seseorang terus-menerus dicap teroris hanya karena identitas agamanya, kebencian sedang diproduksi secara sistematis.
Inilah yang sering dilupakan dalam narasi kontra-terorisme modern. Dunia terlalu sibuk melawan pelaku kekerasan, tetapi lupa melawan budaya yang memelihara kebencian. Padahal, Islam sendiri sangat jelas menolak ekstremisme. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak membenarkan tindakan berlebihan, termasuk kekerasan dan ekstremisme. Karena itu, melawan radikalisme tidak cukup hanya dengan aparat keamanan. Kita juga harus melawan narasi kebencian, stereotip agama, dan eksploitasi identitas yang terus diproduksi media digital.
Media Sosial dan Industri Kemarahan
Masalah semakin rumit karena media sosial hidup dari emosi. Semakin marah publik, semakin tinggi interaksi. Semakin kontroversial sebuah video, semakin besar peluang viral.
Potongan video Chimaev yang berkata “I am a terrorist for him” disebarkan jutaan kali tanpa konteks lengkap. Banyak akun sengaja memotong video agar memancing emosi publik. Akibatnya, masyarakat tidak lagi mencari kebenaran, melainkan hanya mencari sensasi.
Fenomena ini berbahaya karena menciptakan apa yang disebut digital radicalization, yaitu proses ketika kebencian tumbuh lewat konsumsi konten emosional secara terus-menerus. Hari ini orang mungkin hanya menonton drama UFC. Namun, ketika stereotipe terhadap kelompok tertentu terus diulang, lama-kelamaan kebencian itu dianggap normal.
Di titik inilah literasi digital menjadi sangat penting. Publik harus belajar membedakan antara fakta dan potongan narasi yang sengaja dipelintir. Kita tentu sepakat bahwa terorisme adalah ancaman serius bagi kemanusiaan. Namun, perang melawan terorisme tidak boleh berubah menjadi perang terhadap identitas agama tertentu.
Jika kata “teroris” terus dipakai sebagai bahan hinaan kepada Muslim, dunia justru sedang memperbesar jurang polarisasi. Kasus Chimaev di UFC 328 menunjukkan bahwa dunia masih memiliki problem besar dalam memandang Islam secara adil. Bahkan, di arena olahraga sekalipun, identitas Muslim masih mudah dijadikan sasaran stigma.
Karena itu, kontra-radikalisme harus dimulai dari hal paling sederhana: menjaga bahasa, menghormati identitas orang lain, dan berhenti menormalisasi kebencian. Sebab, terorisme tidak selalu lahir dari senjata. Kadang, ia tumbuh dari ejekan yang dianggap biasa.
Referensi
MMA Mania, “Khamzat Chimaev reveals gameplan for UFC 328 press conference with Sean Strickland”
Times of India, “What happened between Khamzat Chimaev and Sean Strickland?”
Fox Sports Australia, “UFC 328 press conference video”
CBS Sports, “UFC 328 press conference: start time and live stream”
The Sun UK, “UFC 328 full card”
New York Post, “Extra police involved in troubling UFC 328 buildup”
Wikipedia, “UFC 328”
Wikipedia, “Khamzat Chimaev”
