Skip to content
Harakatuna.com
  • X
  • Instagram
Kirim Tulisan

  • Editorial
  • Agenda
  • Khazanah
    • Inspiratif
    • Ekonomi Syariah
      Artikel yang membahas tentang ekonomi syariah
    • Literasi
    • Opini
    • Perempuan
    • Perspektif
    • Resensi Buku
    • Resonansi
    • Suara Pembaca
    • Telaah
  • Asas-asas Islam
    • Akhlak
    • Al-Qur’an
    • Fikih Islam
    • Hadist
    • Ibadah
    • Sirah Nabawiyah
    • Syariah
    • Tafsir
    • Tasawuf
  • Akhbar
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
  • Islam dan Timur Tengah
    • Islam dan Kebangsaan
    • Ulasan Timur Tengah
  • Milenial Islam

Nasional

Jiwa Pancasila

Wapres Ma’ruf Amin Minta Lulusan IPDN Tingkatkan Jiwa Pancasila

Harakatuna.com. Jakarta – Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin mengingatkan, agar para pamong praja lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXVIII Tahun 2021,

by

Harakatuna

04/08/2021

Pembinaan dan Penguatan Pancasila Butuh Kolaborasi Pusat-Daerah

Pembinaan dan Penguatan Pancasila Butuh Kolaborasi Pusat-Daerah

Harakatuna.com. Jakarta-Salah satu tantangan besar Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) adalah memunculkan kolaborasi serta awareness bagi Pemerintah Pusat dan Daerah. Terpenting, membuka sebanyak-banyaknya ruang

by

Harakatuna

03/08/2021

Harmoni dalam Kebhinekaan Mampu Tangkal Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan di tengah kemajemukan Indonesia sebagai karunia, diperlukan pemahaman

by

Harakatuna

02/08/2021

Akademisi UI Cegah Munculnya Kombatan Perempuan Akibat Ekstremisme

Akademisi UI Cegah Munculnya Kombatan Perempuan Akibat Ekstremisme

Harakatuna.com. Jakarta – Dosen Program Studi Ketahanan Nasional Universitas Indonesia (UI) Margaretha Hanita mengatakan bahwa peran perempuan dibutuhkan dalam Rencana Aksi Nasional Pencegahan

by

Harakatuna

01/08/2021

Densus 88 Antiteror Tangkap Perempuan Terduga Teroris Jaringan Poso

Densus 88 Antiteror Tangkap Perempuan Terduga Teroris Jaringan Poso

Harakatuna.com. Jakarta – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menangkap seorang perempuan berinisial SR (56) di Jalan Camba Jawayya, Kelurahan Tello, Kecamatan Panakkukang, Makassar.

by

Harakatuna

31/07/2021

Kauatkan Ideologi Bangsa, BPIP Kembali Ulas Arti Penting Pancasila Bagi Bangsa Indonesia

Kuatkan Ideologi Bangsa, BPIP Kembali Ulas Arti Penting Pancasila Bagi Bangsa Indonesia

Harakatuna.com. Jakarta – Pancasila punya arti yang sangat besar bagi kehidupan bangsa Indonesia. Sebagai dasar negara, Pancasila memang tak mungkin lepas dari pembentukan karakter hingga praktik

by

Harakatuna

30/07/2021

Older posts
Newer posts
← Previous Page1 … Page293 Page294 Page295 … Page392 Next →

Latest Post

Negara-Negara Teluk Kompak Kecam Serangan Teror Bom di Damaskus

08/07/2026

Negara-Negara Teluk Kompak Kecam Serangan Teror Bom di Damaskus

Ballroom

08/07/2026

Dari Masjid Kampus ke Ballroom Hotel: Strategi Resiliensi HTI di Perkotaan

Prabowo dan PM Modi Sepakati Penguatan Kerja Sama Kontra Terorisme Indonesia–India

08/07/2026

Prabowo dan PM Modi Sepakati Penguatan Kerja Sama Kontra Terorisme Indonesia–India

Hijrah Muharram

08/07/2026

Hijrah Sebatas Tren: Muharram, Medsos, dan Tantangan Kita

Polda Sumsel Pastikan Pria yang Masuk Helipad Mapolda Tidak Terafiliasi Jaringan Terorisme

08/07/2026

Polda Sumsel Pastikan Pria yang Masuk Helipad Mapolda Tidak Terafiliasi Jaringan Terorisme

Hamas Siap Bubarkan Pemerintahan Sipil Gaza, Fokus pada Gencatan Senjata dan Rekonstruksi

07/07/2026

Hamas Siap Bubarkan Pemerintahan Sipil Gaza, Fokus pada Gencatan Senjata dan Rekonstruksi

Khilafah Amerika

07/07/2026

Khilafah di Amerika: Peluang dan Tantangan

Seni Mengakui Nikmat Allah: Menghitung yang Tak Terhitung Perkembangan di tengah kehidupan modern ini mendorong kita untuk memiliki daya saing. Di sisi lain, kita juga menghadapi tekanan untuk terus mencapai kemajuan yang semakin menantang. Hal yang dahulu bersifat sekunder atau bahkan tersier kini berubah seakan-akan menjadi kebutuhan primer. Selain itu, dimensi kebutuhan hidup manusia, seperti kebutuhan akan validasi dari orang lain maupun pengakuan sosial, berpotensi menyebabkan ketandusan spiritual dalam diri kita. Permasalahan tersebut dapat menjadi tabir yang menghalangi rasa syukur terhadap anugerah Allah yang tanpa henti diberikan kepada umat manusia sehingga berpotensi menggiring seseorang terjebak dalam lembah kekufuran (mengingkari nikmat Allah). Al-Qur'an sendiri dalam Surah Ibrahim ayat 7 menjelaskan: لَئِنْ شَكَرْتُمْ لاَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat)-Ku kepadamu. Akan tetapi, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras." Ayat ke-7 Surah Ibrahim ini mengajarkan kepada kita bahwa cukup dengan mensyukuri nikmat-Nya, niscaya nikmat tersebut akan ditambah. Sebaliknya, jika mengingkarinya, maka bersiaplah menghadapi azab-Nya yang sangat pedih. Pengertian Syukur Sebelum pembahasan lebih lanjut, perlu kita ketengahkan makna syukur itu sendiri. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum ad-Din, pada pembahasan as-Sabru wa as-Syukr juz IV, memaparkan pengertian syukur secara praktis bahwa: الشُّكْرُ هُوَ صَرْفُ الْعَبْدِ جَمِيعَ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ بِهِ عَلَيْهِ إِلَى مَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ "Syukur adalah seorang hamba yang mempergunakan seluruh nikmat yang diberikan Allah sesuai dengan tujuan diciptakannya nikmat tersebut." Definisi syukur tersebut semakin lengkap dipahami melalui jawaban Imam al-Junaidi ketika beliau ditanya tentang makna syukur. Sebagaimana dijelaskan Imam Al-Qusyairi dalam kitab ar-Risalah al-Qusyairiyyah, syukur adalah tidak bermaksiat kepada Allah dengan nikmat-nikmat yang diberikan-Nya. Sedangkan Ibnu 'Athaillah dalam al-Hikam menegaskan bahwa: الشُّكْرُ قَيْدُ الْمَوْجُوْدِ وَصَيْدُ الْمَفْقُوْدِ "Syukur adalah pengikat nikmat yang ada dan pemburu nikmat yang belum ada." Lalu, apa yang harus kita lakukan agar dapat masuk dalam ritme ayat ke-7 Surah Ibrahim di atas? Pertama: Menyadari bahwa segala nikmat berasal dari Allah Al-Qur'an menginformasikan melalui penggalan Surah an-Nahl ayat 53: وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ "Segala nikmat yang ada padamu berasal dari Allah." Dalam surah yang sama pada ayat 18 dijelaskan: وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا "Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." Penegasan pada dua potongan ayat di atas semestinya dapat menggugah kesadaran kita untuk mengakui dan mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah dalam setiap detik kehidupan, sekaligus menyadari betapa Maha Baik-Nya Allah. Terlebih jika kita menyoroti mafhum (makna implisit) dari ayat ke-53 Surah an-Nahl di atas, sampai kapan pun seseorang tidak akan pernah mampu membalas seluruh kebaikan Allah yang telah diterimanya. Sebab, segala sesuatu pada hakikatnya adalah titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Surah at-Takatsur ayat 8: ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ "Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan." Kedua: Menyadari bahwa setiap daya dan upaya manusia pada hakikatnya bergantung sepenuhnya kepada Allah Dalam Al-Qur'an Surah al-Insan ayat 30, Allah menjelaskan bahwa: وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا "Kamu tidak menghendaki (sesuatu), kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Ayat yang lain juga menegaskan: وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ "Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (Q.S. at-Takwir: 29) Pelajaran yang dapat kita petik dari kandungan kedua ayat tersebut adalah bahwa segala sesuatu yang diperoleh manusia semata-mata merupakan pemberian Allah. Sedikit pun manusia tidak memiliki kemampuan untuk memastikan keberhasilan dalam meraih keinginannya. Semua itu bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah. Dari sinilah akan lahir kesadaran bahwa setiap daya dan upaya bergantung kepada Allah, dan segala nikmat hanyalah pemberian-Nya. Dengan demikian, manusia akan mampu menjalani hidup dalam makna Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh yang sesungguhnya. Ketiga: Menanamkan dua kesadaran di atas dalam kehidupan sehari-hari Salah satu sifat Allah yang sangat tampak dalam kehidupan kita adalah bahwa Allah merupakan Zat Yang Maha Pengasih (ar-Rahman). Tidak ada seorang pun yang mampu melanjutkan hidupnya walau hanya sedetik tanpa kehendak-Nya. Sebutir nasi, seteguk air, setiap tarikan napas, hingga berfungsinya setiap organ tubuh semuanya terjadi atas izin-Nya. Pada hakikatnya, segala sesuatu berlangsung atas qudrah dan iradah-Nya. Dalam Surah Yunus ayat 107 dijelaskan: وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ اِلَّا هُوَۚ وَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖ "Jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya." Menjadikan Syukur sebagai Kompas Kehidupan Marilah kita berusaha menjadikan rasa syukur sebagai spirit dan motivasi dalam setiap keadaan, baik ketika memiliki kesempatan berbuat kebaikan maupun ketika menikmati setiap nikmat yang dianugerahkan-Nya. Hal tersebut merupakan sebuah keniscayaan yang seharusnya menjadi prinsip dalam menjalani kehidupan. Mulailah setiap ikhtiar dengan menyebut dan mengingat-Nya serta memohon pertolongan kepada-Nya, kemudian akhiri setiap ikhtiar itu dengan bersyukur kepada-Nya. Kesadaran seperti inilah yang sangat penting ditanamkan dan dilatih dalam setiap detik perjalanan kehidupan yang fana ini sehingga seseorang mampu menjadi pribadi yang pandai bersyukur kepada Tuhan-Nya. Seluruh uraian di atas mengarahkan kita pada satu pemahaman penting bahwa apa yang saat ini menjadi milik kita pada hakikatnya hanyalah titipan dari-Nya. Pada saatnya nanti, semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Teruslah berusaha menjadi pribadi yang pandai mengakui setiap nikmat dari-Nya serta senantiasa mempergunakan seluruh nikmat tersebut sebagai bentuk pembuktian ketaatan hanya kepada-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab. Muhammad Rosyidi merupakan alumni Ma'had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, dan saat ini menjadi pengajar di Pondok Pesantren Assholihiyah Santong, Terara, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

07/07/2026

Seni Mengakui Nikmat Allah: Menghitung yang Tak Terhitung

Ulama Kupi

07/07/2026

Dari Kebangkitan Menuju Aksi: Gerakan Ulama Perempuan KUPI, Wujudkan Indonesia Tanpa Kekerasan

07/07/2026

Densus 88 dan Diskominfo Maluku Perkuat Literasi Digital Cegah Radikalisme dan Terorisme

Popular

Densus 88 Tangkap Terdugga Teroris Afiliasi JI

Bus Pembawa Anak-Anak Jadi Target Bom Saudi di Yaman, 29 Orang Tewas

Catatan Akhir Tahun 2019: Terorisme Musuh Semua Negara dan Agama

Dalil Doa dan Amalan Mengusap Mata Saat Adzan

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Bagi Istri, Ridho Allah Itu Ada Pada Ridho Suami

Hadis Nabi, Di Akhir Zaman Islam Tinggal Nama Saja

Berapa Usia Para Istri Rasulullah Ketika Dinikahi? Ini Jawabannya

Harakatuna ©2026

Maintenance and Developed by Pondokgue Digital

Perdoman Media Siber Redaksi

KIRIM TULISAN