34.2 C
Jakarta

Yang Luput dari Sorotan; Firanda Andirja, Wahabi-Takfiri yang Wajib Diboikot

Artikel Trending

Milenial IslamYang Luput dari Sorotan; Firanda Andirja, Wahabi-Takfiri yang Wajib Diboikot
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Ketika, beberapa waktu lalu, saya membahas Ustaz Basalamah, dan mengatakan bahwa Salafi-Wahabi otaknya bermasalah, maka Wahabi-Takfiri lebih parah dari itu. Ustaz Firanda, umpamanya. Seperti bakteri atau hama perusak tanaman, Firanda Andirja itu harus dibasmi, diberangus, diluluhlantakkan. Seperti menghadapi COVID-19, umat Islam harus disemprot disinfektan dan rutin memakai hand sanitizer agar tidak terpengaruh virus negara bernama Firanda.

Bagaimana tidak kesal menghadapi Firanda, dan betapa urgen sekali membasmi manusia seperti Firanda Andirja. Ia punya semua platform media sosial: YouTube, website, fanspage Facebook, Instagram, SoundCloud, Podcast, bahkan jual buku di Tokopedia untuk mengasongkan pemikiran takfirinya. Insyaallah saya akan mengulas secara tematik di tulisan-tulisan berikutnya. Sementara, ini untuk mengenalkan secara umum, betapa Wahabi-Takfiri sangat dekat dengan kita.

Propaganda di berbagai platform yang dimiliki Firanda Andirja sangat masif. Ia jualan gelarnya: MA, agar jemaahnya sangat yakin bahwa ia lebih otoritatif daripada kiai-kiai dan ulama kita. Salah satu dakwahnya yang sampai mengundang kemarahan Habib Rizieq adalah ketika Firanda Andirja dengan bahasa yang tidak sopan mencela Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, ulama Ahlussunnah yang masyhur. Firanda juga pernah mengolok-olok Abah Guru Sekumpul.

Bagi Firanda, sebagaimana lumrahnya Wahabi-Takfiri lainnya, kalau tidak mencela dan menghina ulama itu dakwahnya terasa tidak asyik. Isi dakwahnya, secara keseluruhan, berusaha menjadi policy, yang mengoreksi semua ulama yang dianggapnya keliru dan kafir. Otak Firanda adalah otak penghina, hatinya penuh kedengkian dengan ulama-ulama yang berbeda dengannya, seberapa masyhurnya mereka. Firanda adalah jelmaan penyakit, bakteri, yang harus diberangus dari negeri ini.

Firanda Andirja Ibarat Penyakit

Sebenarnya bukan hanya ibarat, tetapi memang sudah penyakit. Firanda Andirja sangat anti-pluralisme, jadi ia hidup di Indonesia merasa yang paling benar. Apalagi terhadap non-Muslim, kepada sesama Muslim saja ia selalu membid’ahkan. Maulid, tahlil, ziarah kubur, semua tradisi tersebut dianggap sesat. Sementara antipatinya terhadap pluralisme bisa dilacak melalui disertasi doktoralnya di Arab Saudi dengan judul:

نقض استدلالات دعاة التعددية الدينية بالنصوص الشرعية (Membantah Dai-dai Pluralisme yang Berdalil dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah)

Apakah tidak boleh seseorang menolak tradisi-tradisi yang dianggap bid’ah seperti tahlil? Bukannya ini negara demokrasi?

Tentu saja tidak masalah. Muhammadiyah tidak berkenan tahlil, tetapi mereka tidak jadi penyakit seperti Wahabi-Takfiri seperti gerombolan Firanda. Yang jadi masalah adalah kejulidannya: membid’ahkan, mengafirkan, merasa paling benar, yang jelas-jelas itu akan memantik ketidakrukunan antarumat Islam dan apalagi antarumat beragama. Bahkan selangkah lagi, provokasi semacam itu akan membawa seseorang ke dalam aksi terorisme.

Bagi Firanda, yang ia lakukan adalah dakwah. Ia bermazhab Salafi, dengan bertaklid pada Ibnu Taimiyah, tetapi secara implementatif ia lebih akrab dengan Wahabi yang memang suka berbuat onar. Firanda merupakan Khawarij modern yang sebagaimana pendahulunya, apalagi hanya ulama, Nabi pun pernah ditegur karena dianggap tidak benar dan tidak adil. Kata Ramadhan al-Buthi, bahkan andai saja mereka bisa membongkar makam Nabi, pasti mereka melakukannya. Sangat buruk.

BACA JUGA  Di Tengah Gusarnya Politik, Ada Teroris Bermain Pendanaan dan Intrik

Indonesia tidak bisa memelihara manusia seperti Firanda. Ia tidak hanya sesat, tetapi juga menyesatkan. Kalau kita lihat di Facebook, para jemaahnya menganggap ia Islam yang paling benar, dan paling berhak melabeli yang berbeda sebagai bid’ah dan kafir. Banyak sudah yang menjadi korban kebebalan Wahabi-Takfiri tersebut. Maka tidak berlebih untuk diungkapkan bahwa Firanda Andirja di Indonesia adalah penyakit bagi negeri: persatuan dan kesatuan.

Wahabi-Takfiri Musuh Negeri

Syekh Ramadhan al-Buthi dibunuh melalui bom di majelisnya. Karya-karyanya dibakar. Orangnya dikafirkan melalui televisi-televisi. Itu ulah Wahabi-Takfiri. Pendahulunya, yakni Khawarij, suatu ketika pernah menegur Nabi karena dianggap tidak adil dalam membagi  ghanimah. Di Indonesia, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dan Abah Guru Sekumpul dicerca oleh Firanda Andirja dan diolok-olok di depan para jemaahnya. Sangat keterlaluan, bukan?

Wahabi-Takfiri adalah mutlak musuh negeri. Seharusnya, otoritas terkait tidak boleh berdiam saja. Mereka harus diboikot dan diberangus sampai musnah. Apakah Firanda Andirja saja yang menjadi agen Wahabi-Takfiri? Jelas tidak. Puluhan bahkan ratusan dai dengan pandangan keagamaan yang eksklusif-puritan, sekawanan Firanda, bertebaran di majelis-majelis. Luput dari sorotan. Yang mereka sebarkan adalah tentang pembid’ahan, pengafiran, dan dakwak-dakwah batil lainnya.

Tidak terbayangkan kalau dai seperti Firanda Andirja bebas melakukan propaganda takfiri-nya. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi sepuluh tahun mendatang, ketika para kiai dan ulama sepuh kita banyak yang tiada, dan yang berkuasa di majelis-majelis mencekoki jemaah adalah Firanda bersama gerombolan Wahabi-Takfiri yang lain. Umat Islam akan tidak akan lagi mengenal pluralisme, demokrasi, dan ruang publik hanya dipenuhi oleh umpatan dan caci-maki.

Tantangan negeri ini begitu banyak. Masalah Islam transnasional belum selesai, terorisme belum sirna sama sekali dan bisa terjadi kapan saja, serta puritanisme semakin marak. Pada saat yang bersamaan, dai-dai kredibel semakin tidak menarik di kalangan milenial daripada dai karbitan dan produk Wahabi. Ulama-ulama semakin sering mendapat cacian, sementara ustaz bakteri nasional seperti Firanda Andirja semakin dipuji sebagai Islam yang murni, lurus, dan gelar palsu lainnya.

Nasib persatuan-kesatuan, kerukunan antarsesama warga negara, akan hadir jika musuh tersebut diboikot dan pergerakannya dan dibasmi eksistensinya. Seseorang boleh saja tidak percaya, tetapi Wahabi-Takfiri sangat buruk untuk persatuan. Mereka, meminjam bahasa Ustaz Arrazy Hasyim yang kemarin juga jadi sasaran cacian mereka, adalah para dajjal—gerombolan perusak. Apakah Firanda Andirja merupakan salah satu di antaranya? Jelas. Tidak pelak lagi.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru