31 C
Jakarta
Array

Yang Hilang Dari Kita ( 2-Habis)

Artikel Trending

Yang Hilang Dari Kita ( 2-Habis)
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Dalam konteks mencapai kehidupan yang aman, sejahtera, dan bahagia, tidak bisa tidak segenap masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan sehari-hari harus menemukan sesuatu yang hilang dari kita, yakni akhlak mulia. Namun jauh sebelum itu, pembentukan akhlak mulia menjadi langkah pertama dan utama. terkait hal ini, Quraish Shihab dalam Yang Hilang dari Kita, Akhlak (2016) menyebutkan beberapa hal untuk membentuk akhlak luhur. Pertama, melakukan introspeksi. Kedua, menyibukkan diri dengan hal positif. Ketiga, memperhatikan dampak buruk ketiadaan akhlak. Terakhir, menerapkan nilai-nilai akhlak luhur.

Langkah selanjutnya adalah mempraktikkan satu atau dua nilai akhlak secara konsisten. Diantara nilai akhlak itu adalah: pertama, kebenaran (Ash-Shidq). Kebenaran itu mencakup empat hal; ucapan, janji, tekad dan kerja. Ada dua tahap; ucapan dan perbuatan. Ucapan seperti berkata benar dan berjanji untuk dipenuhi. Dan aspek perbuatan seperti bertekad yang tercermin dalam penebusan janji atau sumpah dengan hal yang baik. Jika segenap masyarakat Indonesia mematuhi dan mempratikkan nilai ini, maka kasus Saracen dan lain sebagainya tidak akan pernah tercatat dalam sejarah bangsa ini.

Kedua, amanah. Segala sesuatu yang dipercayakan kepada mansuia, baik yang menyangkut hak dirinya, hak orang lain, maupun hak Allah SWT disebut amanah. Amanah menjadi nilai akhlak yang amat sangat penting. Bahkan Nabi Muhammad memberikan pesan bahwa ketiadaan amanah adalah pertanda mendekatnya kiamat atau kehancuran sesuatu. Sebab seorang yang amanat akan mengantarkan pada kebahagiaan, keberuntungan dan kesuksesan. Amanah itu berlaku dan harus dipegang setiap individu dan dipraktikkan dalam seluruh sendiri kehidupan tanpa terkecuali. Bagi pemimpin, amanah adalah adalah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan penuh keikhlasan dan sungguh-sungguh, menciptakan keadilan serta merangkul semua orang.

Tegas kata, setidak-tidaknya dua nilai akhlak mulia di atas jika dipegang dan dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, maka seluruh sendi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara akan nyaman, sejahtera, harmoni dan menjadi negeri yang beradab. Sebaliknya, bangsa ini akan lebih cepat menggali lubang kuburan untuk kehancurannya karena akhlak telah hilang dan tidak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca:Yang Hilang Dari Kita (1)

Sebab, ilmu tanpa moral akan melahirkan manusia robot yang tidak mempunyai hati nurani. Berbisnis tanpa moral akan menciptakan kesenjangan dan parktik culas. Sama halnya dengan berpolitik tanpa mengindahkan moral, ia akan menjadi politisi, meminjam istilah Laswell, model politisi agitator (haus kekuasaan dan suka memeras rakyat kecil). Begitu juga beragama tidak cukup dengan tulus; cukup mengerjakan segi-segi formal seperti puasa, haji dan lainnya. Keagamaan sejati, tegas Cak Nur, menuntut adanya wujud nyata konsekuensi ibadah, yaitu budi pekerti yang luhur, yang dibidikkan ibadah itu. Jadi, akhlak yang (sempat) hilang dari kita, harus kita temukan (kembali) dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang demikian itu tidak bisa ditawar lagi, titik! Wallahu a’lam bi al-shawab. (NJ).

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru