30.2 C
Jakarta

Yang Hilang dari Gaya Dakwah Islah Bahrawi

Artikel Trending

Milenial IslamYang Hilang dari Gaya Dakwah Islah Bahrawi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Bagi teman-teman yang bergiat di NU, nama Islah Bahrawi pasti tidak asing. Ia pernah diundang dalam suatu kajian ke-NU-an. Bagi teman-teman yang concern di bidang kontra-narasi juga demikian; Islah Bahrawi merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia kontra-narasi itu sendiri. Islah masyhur dengan dakwahnya yang ‘nyengat’ terhadap Salafi-Wahabi. Ia merupakan tokoh garda depan, saat ini, dalam narasi melawan terorisme. Melihat Islah, ingatan juga akan tertuju pada Densus 88.

Islah Bahrawi, harus diakui, punya pengaruh besar. Gaya dakwahnya laik mendapat acungan jempol. Wahabi dilibas olehnya. Tak hanya Wahabi, para dai yang keras seperti Ustaz Abdul Somad juga ia labrak. Islah bahkan menjuluki UAS sebagai ustaz kontol, dalam sebuah komentar dirinya di Twitter. Soal keberanian, Islah bak tiada tandingannya. Bersama dengan itu semua, wawasannya luas. Jika seseorang hendak mendebatnya melalui kitab kuning, Islah juga jago baca literatur gundul.

Sosok yang tegas dan wawasan luas, apa yang kurang dari gaya dakwah semacam itu? Islah memiliki banyak pengikut. Setiap gagasan tegasnya tidak pernah kering tanggapan. Sekali ia membahas ustaz kontol atau manusia kadrun, ratusan akun siap jadi makmum di belakangnya. Segelintir orang memang menanggapinya dengan cemoohan, namun Islah bergeming. Dalam konteks ini, dengan gaya dakwah yang rawan semacam itu, semua orang tahu bahwa Islah pasti punya bekingan.

Tapi itu hanya sekilas. Semua orang punya perspektifnya masing-masing tentang Islah. Yang hendak dikaji di sini adalah: apa yang hilang dari gaya dakwah Islah Bahrawi. Persoalan ini penting dibahas karena semakin ke sini, seiring semakin tenarnya Islah di satu sisi dan dekatnya tahun politik 2024 di sisi lainnya, polarisasi membengkak. Tidak hanya itu, Wahabi juga seperti semakin menemukan tempat. Semakin dilabrak, mereka justru semakin menjamur plus semakin disukai masyarakat.

Tulisan ini bertolak dari dua fakta. Pertama, monotonnya gaya dakwah kontra-narasi. Kedua, dinamisnya gaya dakwah Wahabi. Dua hal tersebut berjalan secara vis-à-vis dan berdampak terhadap cara keberislaman masyarakat. Satu sisi, pelaku kontra-narasi seperti Islah—juga pengikutnya—akan semakin getol menggunakan cara-cara kasar dalam mengonter Wahabi atau pun terorisme. Di sisi yang lain, pengikut Wahabi semakin banyak dan simpatisannya semakin tak terhitung.

Hujat Salafi itu Bunuh Diri

Dari fakta tersebut, tulisan ini mempersepsikan bahwa ada yang hilang dari gaya dakwah Islah. Dan sesuatu yang hilang itu mesti segera ditemukan karena tidak hanya berhubungan dengan efektivitas dakwah kontra-narasi, melainkan dengan maraknya Wahabi itu sendiri. Jika masyarakat yang bermakmum kepada Islah semakin hobi menghujat dengan kata-kata “kontol”, “kampret”, “kadrun” dan sebagainya, akibatnya sangat fatal. Alih-alih Wahabi musnah, malah semakin beranak-pinak.

Pertama-pertama, perlu disadari bahwa orang-orang Wahabi itu cerdas. Mereka memulai langkah dengan mengubah namanya menjadi Salafi. Meski jelas-jelas mereka tidak mengikuti ulama salaf al-shalih dan justru mengikuti Bin Wahhab, Utsaimin, Bin Baz, dan Albani, mereka mampu meyakinkan umat bahwa merekalah yang paling murni keislamannya. Sebagai bukti, di media sosial, banyak netizen yang berargumen “mulia dengan manhaj salaf”.

Pernyataan tersebut, bagi seseorang yang tahu fakta sebenarnya, jelas adalah pernyataan bodoh. Wahabi adalah kelompok anti-mazhab. Wahabi juga bukan pengikut salaf dan justru sangat benci dengan ulama salaf. Tapi mereka sudah memanipulasi istilah “Salafi” dan umat sudah teperdaya. Ketika konter dicoba hadapkan, seperti yang Islah lakukan dengan cara menghujat, efektivitasnya menjadi nihil. Yang ada, Islah dan dakwah kontra-narasi menjadi tumpul.

Selain memanipulasi istilah Salafi, tokoh-tokoh Wahabi juga mengubah gaya dakwahnya. Mereka tidak lagi fokus dengan persoalan khilafiyah atau labelisasi seperti bid’ah, khurafat, dan sejenisnya. Bagi mereka gaya dakwah semacam itu sudah usang dan mudah dibantah. Kini strategi dakwah Wahabi fokus pada rasionalisasi Islam. Pendeknya, mereka seperti bilang ke jemaah, bahwa Islam adalah Al-Qur’an dan hadis, dan yang tidak ada pada keduanya silakan disimpulkan sendiri.

Maka, menghujat Salafi hari ini sama dengan bunuh diri, jika jurus konternya adalah dakwah yang keras. Yang hilang dari gaya dakwah keras adalah efektivitasnya. Dalam konteks Islah, ia memang berhasil mematahkan argumentasi ke-Wahabi-an. Namun yang bersimpati padanya adalah orang-rang yang selama ini memang anti-Wahabi dan anti-terorisme. Kalau dibilang Islah bisa menyadarkan orang Wahabi dan teroris sendiri, gaya dakwahnya perlu direvisi.

Gaya Baru Dakwah

Dengan demikian, harus ada gaya dakwah alternatif untuk mematahkan argumentasi Wahabi. Gaya dakwah yang efektif, mengaca pada strategi Wahabi sendiri, adalah bertolak dari sisi-sisi rasionalitas, dan membiarkan pembaca atau pendengar menemukan kesimpulannya sendiri. Misalnya, untuk mematahkan dalil Negara Islam. Dakwahnya tidak perlu memakai gaya ad hominem. Gaya dakwah baru seperti itu mesti menjadi strategi alternatif dalam kontra-narasi.

Itu yang pertama. Selanjutnya, dalam konteks gaya dakwah Islah, yang hilang juga adalah prinsip moderasi. Mengonter narasi ekstrem dengan yang cara yang ekstrem pula adalah pembunuhan pada prinsip moderasi itu sendiri. Karenanya, Islah bisa mengubah gaya dakwahnya untuk mengisi sesuatu yang hilang. Dakwah kontra-narasi dan anti-terorisme mesti memanfaatkan strategi-strategi brilian. Gaya dakwah konvensional harus disudahi; hujatan hanya melahirkan antipati.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru