28.3 C
Jakarta

Yang Harus Generasi Muda Tahu tentang Menegakkan Khilafah di NKRI

Artikel Trending

Milenial IslamYang Harus Generasi Muda Tahu tentang Menegakkan Khilafah di NKRI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Saudaraku, Muslim Intelektual. Siapa di dunia ini yang tidak merindukan kejayaan Islam? Semua merindukannya. Kerinduan akan kejayaan Islam seperti di abad pertengahan adalah konsekuensi logis kita sebagai Muslim. Kita, terutama generasi muda, ingin sekali menjadi seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, dan cendekiawan lainnya. Melahirkan ilmuwan-ilmuan Muslim di bidang filsafat, kedokteran, fisika, dan lainnya, sungguh kita menginginkannya kembali.

Tidak ada seorang Muslim pun yang mau tertindas dan tidak punya peradaban. Tidak ada yang terima Islam didiskreditkan. Tidak ada yang rela Islam absen dari keilmuan-keilmuan modern. Teknologi hari ini berkembang ratusan kali lipat lebih cepat yang dibayangkan. Betapa nikmat misalnya penemu Artificial Intelligence (AI) adalah seorang Muslim. Tak terkira rasa syukur kita andai Islam saat ini menguasai peradaban dunia. Semua itu adalah keinginkan yang niscaya.

Tetapi, apakah kita sebagai generasi muda bisa mencapai semua itu hanya dengan mendirikan khilafah? Apakah agama kita, Islam, kehilangan kejayaan karena Turki Utsmani runtuh? Dan yang terpenting, apakah khilafah harus ditegakkan di NKRI? Tulisan ini akan menjawab tiga pertanyaan tersebut. Kita harus berjuang demi kejayaan Islam dan keutuhan negara. Maka, sebagai generasi muda, kita harus paham tentang bagaimana penegakan khilafah di NKRI.

Generasi Islami, Generasi Khilafah

Khilafah sering kali dipersepsikan sebagai sistem pemerintahan Islam. Padahal, jika kita membaca sejarah Nabi, khulafa’ al-rasyidin, hingga para Dinasti, kita akan melihat sendiri bahwa pemerintahan Islam dijalankan dengan sistem yang berbeda-beda. Beberapa orang boleh jadi tidak percaya fakta tersebut, namun itu bisa ditelusuri dengan mudah dalam kitab sejarah. Umar bin Khattab dipilih secara demokratis, sementara Yazid ditunjuk oleh ayahnya, Muawiyah.

Kalau pun pemerintahan monarki dianggap khilafah, kita mesti tahu bahwa selama pemerintahan Muawiyah, keluarga Nabi jadi bahan celaan wajib dalam khotbah-khotbah Jum’at mereka. Artinya, Muawiyah yang “katanya” khalifah, sama sekali tidak islami bahkan tidak terpuji. Selain itu, selama masa Dinasti Muawiyah dan Abbasiyah, pembunuhan sesama Muslim marak sekali. Ketika Abbasiyah merebut kekuasaan, Muawiyah dibantai hingga medan perang banjir darah.

Bukankah dengan fakta itu, label islami untuk khilafah sudah runtuh? Iya. Generasi khilafah tidak seislami yang kita bayangkan. Bahkan, di masa keemasan Islam, Filsafat—yang hari ini dianggap ilmu haram—dikaji secara intens. Sultan menyewa para penerjemah Yahudi dan Kristen agar Filsafat jadi berbahasa Arab. Jika Filsafat tidak islami bahkan haram, berarti generasi khilafah saat itu juga bukan generasi islami, bukan? Generasi muda harus paham sejarah tersebut.

Menjadi Muslim Cerdas

Yang kita tahu, Turki Utsmani menguasai tiga benua. Yang generasi muda hari ini tahu, Islam berjaya karena seorang penakluk bernama Muhammad Al-Fatih. Apakah kejayaan Islam diraih hanya dengan perang? Tidak. Jauh sebelum Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel, Islam sudah berjaya melalui Darul Hikmah, sebuah megaperpustakaan berisi jutaan literatur, laboratorium, dan segala atribut riset, dari berbagai keilmuan. Islam menguasai peradaban dengan ilmu.

Namun, ilmu-ilmu tersebut kini diharamkan. Filsafat, astronomi, dianggap haram untuk kita pelajari. Generasi muda yang mengaku islami dan ingin menegakkan khilafah pasti juga tidak akan mau belajar ilmu-ilmu tersebut. Di sinilah masalahnya. Banyak generasi muda yang belum tahu bahwa kejayaan Islam hilang bukan karena keruntuhan Turki Utsmani, tapi enggannya Muslim sendiri belajar keilmuan karena dianggap haram. Fenomena ini dikenal sebagai otoritarianisme.

Itulah yang kita, generasi muda, harus tahu tentang khilafah. Adapun tentang penegakannya di NKRI, kita harus menjadi Muslim cerdas yang memahami persoalannya dengan utuh. Kurang islami bagaimana negara ini, ketika kegiatan keislaman punya hak istimewa. Sistem pemerintahan kita sudah demokratis, sebagaimana yang diterapkan di masa Umar bin Khattab. Ideologi negara kita juga sama dengan Piagam Madinah yang dirumuskan Nabi Saw., berprinsip keadilan dan kesetaraan.

Maka, jika ingin menegakkan khilafah, kita sebagai generasi muda dituntut pertama-tama bukan dengan merebut kekuasaan politik, melainkan melek di bidang keilmuan yang beragam. Generasi muda tidak boleh anti-Filsafat dan sains. Islami atau tidaknya bukan masalah, yang terpenting kita bertentangan dengan Islam. Selain itu, generasi muda mesti menyadari bahwa NKRI sudah sesuai dengan spirit Islam. Kita harus jadi Muslim yang cerdas, yang tidak teperdaya Hizbut Tahrir.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru