Wirausaha; Pendongkrak Kemiskinan Indonesia


Foto: Pixabay

Sebuah keniscahyaan, bahwa negara yang memiliki julukan “zamrud khatulistwa” yakni Indonesia mampu menghidupi dan mensejahterakan rakyatnya. Tapi, dalam realitanya tidak demikian, kemiskinan justru malah menyerang masyarakat Indonesia, bahkan sudah masuk ke berbagai pelosok negeri. Penyakit miskin inilah yang pertama kali harus dibinasakan, guna mensejahterakan rakyat Indonesia dan salah satu metode untuk menghadapinya adalah dengan berwirausaha.

Menurut Ippho Santosa, dalam berwirausaha mayoritas orang menggunakan otak kanan dari pada otak kiri. Sebab, otak kanan lebih berani mengambil resiko, pemberani, dan penuh imajinasi, biasanya dimiliki seorang pengusaha, sedangkan otak kiri lebih rasional dan mengedepankan logika, biasanya dimiliki seorang pekerja. Mayoritas masyarakat Indonesia memiliki mental pekerja, karena menurut BPS pengusaha Indonesia hanya mencapai 0,2 persen, padahal untuk menjadi negara yang ideal harus memliki 6-8 persen pengusaha.

Penggunaan teori Trickle down effect (efek tetesan ke bawah) oleh pemerintah kepada masyarakat juga menjadi penyebab ekonomi Indonesa melemah, karena dalam segi kenaikan harga rakyat tidak bisa berkutik, endingnya para konglomeratlah yang mendapat keuntungan banyak. Sedangkan di antara bentuk-bentuk kebijakan pemerintah adalah peningkatan produk-produk pabrik besar, tanpa memperhatikan pedagang-pedagang kecil dan UMKM. Sehingga produk rumahan akan mengalami keteteran (kuwalahan) dalam memasarkan produknya, karena kalah saing dengan produk pabrk-pabrik besar.

Rasulullah entrepreneur sejati

Manusia tidak lepas dari kebutuhan materi (red: uang) untuk bertahan hidup. Salah satu untuk  mendapat materi tersebut adalah dengan berwirausaha. Nabi Muhammad saja, orang nomor satu di dunia saja berwirausaha, apalagi kita? Hal tersebut terbukti dari ksah-kisah dalam al-Qur’an, al-Hadist dan kitab-kitab ulama terdahulu. Perjalanan awal Nabi Muhammad dalam berwirausaha adalah sejak berumur 12 tahun dan pamanya yakni Abu Thalib lah yang mengajari serta mengajak berwirausaha ( red : Abu bakr Siraj al-adin, Martin Ling’s).

Baca Juga:  Khilafah Sebagai Pilihan dalam Penyelenggaraan Negara

Melihat sekilas perjalanan beliau, dalam benak penulis muncul pertanyaan “sudahkah di Indonesia menanamkan sifat wirausaha sejak dini?” Sedangkan dalam realita belum maksimal. Nah, hal ini lah yang seharus diajarkan dan ditanamkan sejak dini pada generasi penerus bangsa, di samping penanaman ilmu agama.

Selain itu, paradikma yang keliru juga menjadi faktor masyarakat enggan berwirausaha. Mereka takut rugi dan takut mengambil resiko dalam berwirausaha. Nah, paradikma inilah merupakan pola fikir budak yang masih membekas di kepala mereka akibat lamanya penjajahan. Oleh sebab itu, penulis mengajak pembaca merubah paradikma itu, yakni dengan selalu berfikir positif dalam berwirausaha  meskipun resikonya berat. Setelah memiliki pola fikir yang betul, maka masyarakat akan memiliki mental yang kuat dalam menghadapi kemskinan.

Tidak hanya itu, peluang masuk surga bagi pengusaha sangatlah luas. Sebab, dalam hukum kausalitas mengatakan, jika berwirausaha maka akan menghasilkan uang, dari uang tersebut disodaqohkan untuk membangun rumah sakit, pesantren dan masjid.  Maka dari itu, akan tercipta suatu amal sholeh  dan itu merupakan bekal untuk menghadapi kematian serta sebagai amal yang tidak akan terputus.

Wirausaha, Senjata Utama Hadapi Kemsikinan

            Wirausaha merupakan orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun oprasi untuk pangan produk baru, memasarkannya serta mengatur permodalan operasinya (sumber : KBBI). Nah dari pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam berwirausaha harus ada yang namanya pengorbanan baik materi maupun mental. Oleh sebab itu, butuh penyuluhan oleh pemerintah akan pentingnya wirausaha pada masyarakat, karena dengan begitu akan terwujud mental yang siap dalam menghadapi problem ekonomi Indonesia khususnya kemiskinan.

Di samping itu, untuk menghadapi kemiskinan  harus menggunakan siasat. Seperti dalam hadist berikut : “Perang adalah siasat” , (Hadits riwayat al-Bukhori, Muslim, dan dari lainya, dari shahabat jabir bin Abdillah). Dari hadist tersebut dapat ditarik benang merah, bahwa perang harus memakai siasat, seperti halnya berwirausaha juga harus menggunakan siasat dan shodaqoh merupakan kuncinya. Hal ini, merupakan siasat yang digunakan orang terkaya sedunia yakni Bill Gets, dia menyisihkan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial (Red: Ippho Santosa, 7 Rahasia Rizki).

Baca Juga:  Ketika TKA Menyerbu Indonesia

Akan tetapi, harapan itu hanya fatamorgana semata, Jika dari setiap lapisan masyarakat tidak ikut serta dalam membantu mensukseskan penyuluhan tersebut. Caranya dengan  mengajarkan kepada anak mereka kecerdasan spiritual, intelektual, emosional serta berwirausaha sejak dini. Karena dengan menanamkan sifat tersebut, akan mencetak generasi yang memiliki keprbadian ulet, jujur, cerdas, bijaksana serta siap mengahadapi perekonomian di Indonesia yang kacau. maka dari itu, perlu keseimbangan dari masyarakat dan pemerintah  agar Indonesia merdeka dari kemiskinan. Wallahu a’lam bi  ash-showab.

Oleh : Ahmad Asrori, Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Tengah dan Ketua Umum HMI Komisariat Syari’ah UIN Walisongo Semarang.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.