25 C
Jakarta

WAWANCARA: Menyingkap Gerakan Indoktrinasi Radikal NII KW-9 di Tengah Kita

Artikel Trending

KhazanahResonansiWAWANCARA: Menyingkap Gerakan Indoktrinasi Radikal NII KW-9 di Tengah Kita
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Berbicara kelompok radikal di Indonesia, ingatan awal kita pasti tertuju pada Negara Islam Indonesia (NII) yang didirikan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Hingga hari ini, gerakan radikal yang bercita-cita merampas pemerintahan itu terus eksis, bermetamorfosa ke berbagai bentuk dan modus indoktrinasi. Yang terbaru, beredar kabar, menjelang lebaran kemarin, puluhan warga Bandar Lampung tanggalkan kewarganegaraan NKRI dan berbaiat ke NII.

Info gerakan hantu NII ini didapat dari Ken Setiawan, Pendiri NII Crisis Center. Abdullah (nama samaran), bersama istri dan anaknya, sedang dalam pendampingan setelah menjadi korban rekrutmen hijrah dan berbaiat ke NII dan dituntut untuk ikut aktif dalan kegiatan pengajian radikal dan merekrut anggota baru. NII Komandemen Wilayah 9 (KW-9) mencakup Jakarta Raya, sehingga gerakan NII jelas dekat dan, bahkan, ada di tengah-tengah kita semua.

Sabtu (22/5) kemarin, Redaksi Harakatuna melakukan wawancara dengan Ken Setiawan, mantan anggota NII KW-9 yang saat ini memimpin NII Crisis Center, lembaga swadaya yang membantu para korban pengrekrutan kelompok itu. Ken yang pernah nyantri empat tahun di Pondok Pesantren Al-Zaytun Indramayu, Jawa Barat, alias ibu kota bagi NII KW-9, bersedia diwawancara melalui WhatsApp. Berikut wawancara Tim Redaksi Harakatuna dengan Ken Setiawan:

Mas Ken, apa benar info yang beredar bahwa ada puluhan warga Bandar Lampung tanggalkan kewarganegaraan NKRI dan berbaiat ke NII menjelang lebaran kemarin?

Nah iya. Kemarin bulan puasa kita kaget gitu kan, ada laporan dari masyarakat dan tim yaitu sebuah dokumen NII KW-9 yang pusatnya di Indramayu, Jawa Barat. Al-Zaytun. Jadi saya datangi langsung mereka. Saya kaget yang disasar sekarang ini malah justru madrasah Aliyah, Muhammadiyah, itu kan. Kalau kampus gak kaget ya, karena ada oknum dosen juga ke sana. Jadi kalau muda mereka menggunakan komunitas keagamaan seperti komunitas hijrah, masuk ke situ nanti di-screening dan dipilih ke forum berikutnya. Itu untuk kalangan milenial, jadi modelnya keagamaan, bimbel, hal-hal yang anak muda suka gitu kan. Untuk kalangan dewasa, mereka masuk melalui usrah, kekeluargaan. Misalnya minggu ini ada 6-7 orang di rumah si A, besok rumah si B. Pendekatan kekeluargaan.

Oh jadi mereka sama dengan gerakan salafi itu ya, Mas, melalui pengajian-pengajian atau forum yang nanti diselipkan indoktrinasi ideologisnya?

Bedanya kalau Salafi kan terbuka, kalau yang NII kalangan dewasa ini tertutup. Jadi misalnya dari rumah ke rumah. Kalau Salafi dia kan di masjid-masjid atau mungkin punya komunitas sendiri. Kalau ini memang gerakan underground. Ia tidak muncul di permukaan bahwa punya ideologi NII, muncul di umum itu ya kegiatannya bagus seolah pelatihan karakter, motivasi-motivasi gitulah, jadi nanti di-screening mana kira-kira orang yang tertarik dengan dialognya, nanti diserempet-serempetin baru dibawa ke forum selanjutnya.

Tapi sumber yang datang ke NII Crisis Center itu, yang mengadu ke Mas Ken dan tim, itu yakin bahwa mereka tengah menjadi korban NII?

Sebelumnya masih bingung. Pas ketemu sama saya, langsung saya suruh bawa dokumen-dokumen yang ketika dia ngaji kan ditulis gitu kan. Ya doktrinnya jelas, RMU yakni Rububiyah (​hukum), Mulkiyah (tempat), Uluhiyah (umat), yang mereka itu seperti pohon: akar, batang, buah. Akarnya mangga, pohonnya mangga, ya buahnya juga harus mangga. Jadi konsep mereka masuklah ke dalam Islam secara kaffah ya, jangan separuh-separuh. Orang Islam tinggal di negara Islam dan hukumnya hukum Islam gitu. Kalau kita tinggal di negara hukum yang tidak sesuai dengan hukum Islam berarti kita bukan kaffah namanya. Gitu.

Untuk ajakan rekrutmen sendiri apakah mereka, NII KW-9 ini, ada sinyal mengajak ke aksi-aksi seperti terorisme misalnya?

Kalau di NII Komandemen Wilayah 9 belum mengarah ke sana ya. Jadi di sini masih berupa paham. Paling juga tanggung jawab seseorang ketika sudah direkrut ya cari duit, cari orang sebanyak-banyaknya untuk menegakkan program negara. Jadi memang belum mengarah ke dalam aksi terorisme. Mereka tahu bahwa Undang-undang Terorisme Nomor 5 Tahun 2018 itu hanya bisa menindak orang-orang yang sudah melakukan tindakan terorisme, sementara pahamnya belum berbahaya oleh negara. Jadi mereka memanfaatkan betul iklim demokrasi ini, kebebasan berpendapat, mau teriak negara Islam, khilafah pun gak apa-apa bagi mereka. Masih ada hukum yang melindungi mereka. Jadi gak pernah mereka menginstruksi bahwa besok amaliah. Masalahnya adalah, orang-orang yang keluar dari NII KW-9 ini yang berbahaya. Mereka setiap hari mendapat doktrin bahwa kita itu dalam kondisi perang. Ada yang gak sabar ini kita bicara perang kok gak perang-perang. Akhirnya dari NII pindah ke kelompok lain yang sudah siap untuk melakukan amaliah teror. Tapi sejauh ini memang belum ada ya laporan masyarakat, termasuk dulu ketika saya bergabung, belum ada tindakan yang kita harus melakukan amaliah bom bunuh diri misalnya atau nembak aparat. Memang kita benci dengan aparat, tetapi belum ada i’dad atau pelatihan-pelatihan, belum seperti kelompok JI atau JAD.

BACA JUGA  Cara Kerja Intelijen Al-Qaeda

Tetapi ada sinyal ke aksi-aksi sporadis nggak, Mas, maksudnya aksi-aksi selama ini itu ada yang berasal dari mereka anggota NII KW-9?

Bisa jadi. Ini yang kita sebut sebagai teror lone wolf. Kenapa? Dia sudah punya pemahaman radikal, benci kepada negara, benci kepada aparat. Jadi ketika itu tadi, anak muda itu gak sabar, bahwa kita ini bicara perang, negara ini thaghut, negara ini berhala. Akhirnya punya inisiatif sendiri, dia punya pemahaman radikal, dia punya keberanian dan dia punya kesempatan, maka ini yang memungkinkan dia melakukan tindakan lone wolf. Memang tidak bergabung pada kelompok JI dan JAD, hanya bergabung di kelompok NII yang belum melakukan latihan perang atau teror. Seperti yang kemarin misalnya yang di Mabes Polri, ikut Perbakin terus dia punya senjata lalu melakukan tindakan terorisme. Ini yang perlu kita takutkan.

Baik. Untuk NII Crisis Center sendiri sejauh ini apa saja yang telah dilakukan untuk menanggulangi gerakan hantu NII KW-19 ini, Mas?

Kami hanya forum komunikasi ya. Para mantan NII, atau kalau masyarakat menyebut kami pusat rehabilitasi korban NII karena memang di sini kita semuanya adalah para mantan yang sudah keluar dari NII. Dan kami merasa punya tanggung jawab untuk mengeluarkan teman-teman yang di dalam. Dulu kan pernah merekrut, walaupun mungkin belum banyak, tetapi bagaimana menarik orang-orang yang pernah kami rekrut. Selain itu, juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat bahwa gerakan NII ini ada. Ini bukanlah hanya pengalihan isu, konspirasi, apa segala macem. Walaupun terserah ya ada yang bilang konspirasi ya mungkin saja, karena dalam dunia politik orang yang mempunyai massa besar pasti akan diperhitungkan dalam kelompok politik ya kan. Misalnya kalau sudah punya seratus ribu jemaah gak perlu kan kampanye masif, cukup pegang kepalanya saja. Jemaah nanti coblos partai ini gitu misalnya. Itu mungkin saja terjadi. Tapi kami gak mau masuk ke sana. Kami bagaimana NII Crisis Center ini ada tiga program yang kita lakukan untuk masyarakat. Yang pertama kita membuka hotline pengaduan kepada masyarakat, terutama orang-orang yang sudah pernah teridentifikasi, terpapar, atau mungkin keluarganya atau lingkungannya pernah terpapar. Kami berusaha untuk mendampingi dan berdialog, karena mereka kan rata-rata tidak mau berdialog dengan orang lain. Ulama, kiai, semua kan bagi mereka kafir, jadi mereka gak mau membuka diri. Ketika kami datang, mereka mau membuka diri. Hotline pengaduan kami kemudian mengidentifikasi. Dia masih baru atau sudah lama, ia dari kelompok mana, misalnya kelompok mahasiswa, siswa, artis, pejabat, dan lain sebagainya. Identifikasi tersebut perlu karena penanganannya berbeda. Ada yang ketika kita tangani ia diam, ada yang aktif bicara. Jadi kita identifikasi personal karena kita butuh juga pendekatan psikologi. Kita butuh jadi semacam motivator biar ia juga bisa merasa nyaman. Setelah identifikasi, kita lanjut ke investigasi. Nah, setelah investigasi kita bisa menentukan bagaimana merehabilitasi. Misalnya ada yang depresi, stres, ada juga yang mau gila. Pola rehabilitasi kita sesuai dengan hasil investigasi. Ada yang dengan cara psikologi keluarga, ada yang kadang dialog sambil makan bersama dan sebagainya. Kita tidak menghakimi mereka. Saya gak bilang kamu salah, tapi kamu kurang benar. Karena kalau dihakimi, kamu salah, kamu tersesat, maka mereka makin jauh. Kami membuka diri bersama kawan-kawan NII Krisis Center, misalnya, cerita pengalaman saya waktu di NII, lalu setelah itu mereka para korban yang mengadu juga berkenan membuka diri. Ketika ada dialog, delapan puluh persen potensi untuk kembali itu besar, karena NII itu ujung-ujungnya duit, ternyata. Jihadnya gak jelas. Alhamdulillah banyak mereka yang menyadari salah dan kemudian keluar.

Untuk wilayah teritorial mereka itu gimana, Mas?

Karena NII KW-9 itu Jakarta Raya ya maka kawasan Jabodetabek semuanya termasuk. Jadi misalnya saya di Lampung, Riau dan sebagainya, tetapi direkrut oleh orang di Jakarta, tetap ngomongnya kita NII KW-9 gitu. Dan jadi sebenarnya teritorial mereka sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

 


Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas (Khr)

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru