27.3 C
Jakarta

WAWANCARA: Memahami Erdogan dalam Pusaran Konflik Israel-Palestina

Artikel Trending

KhazanahResonansiWAWANCARA: Memahami Erdogan dalam Pusaran Konflik Israel-Palestina
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Konflik Israel dan Palestina terus bergulir. Beberapa waktu lalu, kantor biro Al-Jazeera di Jalur Gaza diruntuhkan Israel karena diduga jadi tameng Hamas. OKI pun Minggu (16/5) kemarin menggelar rapat virtual yang di antara resolusi yang dihasilkan ialah genjatan senjata. Baru-baru ini, Presiden AS Joe Biden juga meminta Israel melakukan genjatan senjata. Okupasi Israel, bagaimana pun, banyak ditentang oleh dunia.

Kendati demikian, yang tidak kalah menarik perhatian publik adalah sikap tegas Erdogan yang meminta seluruh umat Islam di berbagai dunia bersatu menyelamatkan Al-Quds. Pernyataan Presiden Turki dalam konferensi pers tersebut pun mendapat sorotan. Satu sisi, umat Islam terutama di Indonesia, banyak menaruh harap padanya sebagai penyelamat Isla. Namun di sisi yang lain, hubungan diplomatik Turki dengan Israel faktanya sangat mesra.

Benarkah Erdogan merupakan representasi Islam hari ini? Pertanyaan seputar Erdogan menarik karena di Indonesia, ia terus dielu-elukan. Untuk itu, Redaksi Harakatuna melakukan wawancara dengan Mohamad Syauqillah, Ph.D, Ketua Program Studi Kajian Terorisme SKSG Universitas Indonesia. Sebagai alumni Universitas Marmara Istanbul, Pak Syauqi, sapaan akrabnya, tentu sudah tahu banyak tentang Recep Tayyip Erdogan. Berikut wawancaranya dengan Tim Redaksi Harakatuna:

Saya ingin memulai pertanyaan dari yang paling mendasar, yaitu konflik Israel-Palestina. Hari-hari ini publik tengah santer membicarakan mengenai konflik Israel dan Palestina. Bagaimana Anda menyikapi konflik tak berkesudahan tersebut?

Menurut saya, ini berkaitan dengan okupasi wilayah, jadi berkaitan dengan wilayah yang dikuasai oleh Israel. Jadi okupasi wilayah sejak tahun 1948. Nah itu yang kemudian menyebabkan terjadinya konflik yang berkepanjangan hingga saat ini. Persoalan yang muncul bukan soal agama, akan tetapi kemanusiaan, di mana warga negara pemilik sah tanah diusir dari wilayahnya.

Ada juga yang tak kalah heboh dibicarakan oleh umat Islam, yakni pernyataan sikap Recep Tayep Erdogan, Presiden Turki, yang menyerukan umat Islam di seluruh penjuru dunia bersatu membela Al-Quds. Bagaimana menurut Anda?

Himbauannya sah-sah saja. Tapi kan, bahwasanya, himbauan dari Erdogan itu sah-sah saja dilakukan berdasarkan yang sudah-sudah terjadi. Walaupun kita tahu bahwasanya situasinya tidak berangsur membaik ya. Sering kali sejak tahun 2015 ketika terjadi deklarasi Amerika Serikat untuk Jerusalem Timur, pengakuan Amerika terhadap Jerusalem Timur dan kemudian para pemimpin Islam bertemu di Istanbul tahun 2015. Hingga saat ini sejak pertemuan tersebut, tidak ada sesuatu yang signifikan dihasilkan dan mengubah situasi.

Apakah itu artinya hanya gimmick Erdogan dan Partai AKP yang memang suka memainkan narasi populisme Islam?

Sebenarnya Erdogan memainkan narasi populasi Islam karena memang kalau kita lihat situasi yang ada. Turki sebenarnya dari sisi politik sebetulnya telah mengalami normalisasi dengan Israel sebelum terjadinya kudeta tahun 2016 pasca misalkan hubungan diplomatik yang terputus-putus sejak insiden Mavi Marmara ya. Tapi Erdogan kemudian memutuskan untuk menormalisasi dengan Israel, jauh sebelum negara-negara Arab pada tahun 2020 menormalisasi hubungan dengan Israel.

BACA JUGA  Bimtek PPIH 2024: Upaya Kementerian Agama Melahirkan Uwais Al-Qarni di Zaman Modern

Seberapa besar kemungkinan Erdogan ikut campur dalam konflik Israel-Palestina, apakah Turki akan juga sebaris dengan Yordania, Iran atau Hizbullah dalam menentang Israel?

Mungkin Yordania memainkan peranan penting ya, karena berbatasan langsung. Saya ingin katakan bahwa, sebetulnya kalau dalam konteks Timur Tengah, pasca-Arab Spring itu, negara-negara di Timur Tengah melakukan normalisasi dan itu sebetulnya seperti memojokkan Palestina. Jadi satu sisi banyak negara Timur Tengah melakukan normalisasi, tetapi di sisi yang lain proses perdamaian Palestina itu seperti mandek.

Bagaimana dengan hubungan diplomatik Turki dengan Israel sekarang dan masa depan hubungan diplomatik tersebut di tengah konflik Israel-Palestina?

Hubungan diplomatik Israel dengan Turki sangat kuat ya. Hubungan perdagangan, kerja sama perdagangan, kerja sama militer, dan kerja sama pertahanan gitu ya itu sangat kuat antara Turki dengan Israel.

Tetapi kenapa bisa banyak masyarakat terutama Muslim yang mengidolakan Erdogan?

Sebenarnya pasca Mursi (eks-Presiden Mesir) jatuh gitu ya lalu kemudian ada yang lain, karena kan sering kali orang Indonesia ini terpesona dengan perkembangan yang ada di Timur Tengah. Entah itu dalam konteks apa pun, selalu saja Timur Tengah memiliki resonansi dari negara-negara lain. Mursi dulu diidolakan gitu ya, kemudian Mursi jatuh dan hari ini juga orang mengidolakan Erdogan. Walaupun sebenarnya tidak tahu bahwa itu retorika politik saja menurut hemat saya.

Menurut Anda apakah ada agenda politik terselubung Erdogan dengan sikapnya mengenai konflik Israel-Palestina?

Saya pikir itu karena Turki memiliki interdependensi (ketergantungan) yang kuat terhadap beberapa negara di kawasan. Jadi bagaimanapun Turki perlu menaikkan posisi tawar yang kuat, sehingga Turki dipandang sebagai satu kekuatan yang berpengaruh di dunia Islam, dan satu lagi pasca-Arab Spring, ada semacam persaingan untuk menjadi pemimpin regional, dan bisa saja Erdogan sedang memainkan itu.

Adakah saran/pesan yang ingin Anda sampaikan ke publik mengenai Erdogan dan konflik Palestina?

Ya saran saya memang apa yang dilakukan oleh Erdogan lebih kepada manuver politik, ya, di tengah situasi misalkan di mana Turki juga hari ini mengalami situasi yang tidak menguntungkan, Turki mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan memiliki neraca perdagangan yang cukup fantastis dengan Israel. Dan dia harus mengeratkan kerja sama dengan berbagai macam kelompok, dan karena juga Turki memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan sekutu-sekutu Israel di Timur Tengah, seperti Arab Saudi dalam konteks energi ya. Menurut hemat saya, publik semestinya ya biasa saja melihat menuver politik atau seruan yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin di mana pun, di mana seruan-seruan itu perlu dibuktikan dengan aksi nyata seperti apa ke depan gitu ya.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru