26.7 C
Jakarta

Waspadalah! Nataru Adalah Momentum Pesta Pora Kaum Teroris

Artikel Trending

Milenial IslamWaspadalah! Nataru Adalah Momentum Pesta Pora Kaum Teroris
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Bayangkan, hari ini, kelompok teroris sedang mengadakan pertemuan bawah tanah. Tidak terendus aparat, tidak terlacak intelijen. Tidak dalam pantauan pemerintah, aman dari segala ancaman. Boleh jadi rapatnya menggunakan sandi tertentu. Itu adalah kemungkinan besar. Besok lusa adalah Hari Natal. Tak lama setelahnya adalah Tahun baru. Di seantero dunia, ini adalah momentum euforia. Namun tidak dengan di dunia kaum teroris: Nataru adalah momentum menebarkan ketakutan.

Dunia terorisme adalah dunia unpredictable, tidak bisa diprediksi siapa pun. Tidak ada yang tahu, umpamanya, dua dekade silam, tepatnya malam Natal tahun 2000, akan jadi malam paling menakutkan sepanjang masa. Bom meledak di sejumlah gereja di berbagai daerah—teror yang sangat sistematis. Bahkan jika semua orang tahu bahwa tahun 2022 tak lagi semencekam tahun 2000, aksi teror tetap ada peluang. Sebab, Natal adalah momen pesta pora mereka. Waspadalah.

Memang, belajar dari peristiwa memilukan tahun 2000, pemerintah saat ini melakukan pengamanan cukup ketat yang akan membuat orang berpikir: “kali ini Natal pasti aman”. Namun anggapan tersebut jelas keliru, karena keinginan kaum teroris adalah membuat masyarakat tidak menyangka bahwa mereka akan diteror. Kaum teroris tentu tertawa jika masyarakat merasa aman, apalagi umat Kristen, karena perasaan aman akan menciptakan kelalaian. Dan kelalaian adalah peluang teror. Ingat ini.

Karenanya, tulisan ini hendak menegaskan bahwa ancaman terorisme belum habis pada momentum Nataru. Masyarakat tetap harus waspada dan tidak menyepelekan keganasan terorisme. Operasi Lilin dengan ribuan personel tidak menjamin aksi teror berhasil diredam total. Kaum teroris bukan kelompok bodoh; siasat mereka lebih maju dari yang banyak orang kira. mau tahun 2000atau 2022, bagi teroris, Nataru tetaplah perayaan orang kafir, dan dari keyakinan itulah ritus teror akan terus mengancam.

Nataru Dianggap Kafir

Di Indonesia, setiap akhir tahun, ada dua wacana yang beredar di masyarakat. Di masyarakat pelosok, atau di kota-kota kecil di mana pemeluk Islam populasinya sembilan puluh sembilan persen seperti di Madura, wacananya adalah soal Kristenisasi.  Penggunaan atribut non-islami, misalnya trompet dan kostum Sinterklas, dicurigai sebagai agenda terselubung misionaris. Tidak mengherankan jika masyarakatnya sangat anti-Tahun Baru. Pandangan keislamannya sangat eksklusif.

Sementara itu di masyarakat urban, di mana Kristen bukan agama yang tabu, wacana yang mencuat adalah ancaman teror—di samping polemik izin tempat perayaan Natal seperti yang viral hari ini di Lebak, Banten. Ancaman teror di gereja-gereja lebih banyak tersiar di perkotaan ketimbang pedesaan. Namun demikian, kedua wacana tersebut pada akhirnya menuju satu titik yang sama, yakni anggapan diskriminatif bahwa Nataru adalah momentum tabu dan membahayakan Islam.

Tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa Natal bukan perayaan berbahaya. Eksklusivisme yang mengakar kuat menjadikan sementara kalangan tidak pernah bisa terima jika agama selain Islam mendapat hak setara. Apalagi sampai euforia Natal, mengucapkan selamat pun masih jadi debat tahunan. Dan ironisnya, kondisi sosial-masyarakat semacam itu dimanfaatkan betul oleh kaum teroris. Hasutan antarsesama, di Hari Natal, juga teror gereja, mereka lakukan.

Natal, Tahun Baru, serta ketidakamanan keduanya hingga harus menggelar Operasi Lilin adalah bukti bahwa iklim keislaman di Indonesia belum sempurna. Dan parahnya, seiring dengan maraknya Wahabisme, ancaman terhadap Nataru semakin besar. Nataru dianggap kafir dan kaum teroris tidak akan membiarkannya. Tak bisa dibayangkan andai aparat tidak bergerak mengamankan Nataru, mungkin banyak gereja sudah jadi sasaran terorisme. Namun, apakah itu sudah cukup?

Mawas Diri

Ini pertanyaan penting. Sebab, di media sosial, masih banyak komentar negatif bahwa kewaspadaan akan aksi teror pada momentum Nataru berlebihan. Mengerahkan ribuan personel ke lapangan, bahkan menggandeng Banser, sayap paramiliter NU, untuk mengamankan gereja, dituduh sebagai kecurigaan tak berdasar atas bahaya Islam di Indonesia. Padahal tidak demikian. Operasi saat Nataru digelar bukan karena takut pada Islam, melainkan bukti kehadiran negara untuk seluruh rakyatnya.

Sejauh ini, langkah pengamanan Nataru sudah cukup efektif. Personel yang diturunkan tidak terlalu banyak. Masalah selanjutnya ada pada personalitas masyarakat: apakah mereka akan merasa bebas dari ancaman atau justru terus mawas diri. Oleh karena kaum teroris itu banyak, dan setiap kelompok punya taktiknya masing-masing, sikap mawas diri harus jadi opsi satu-satunya. Jangan sampai kaum teroris merasa punya peluang karena kelengahan masyarakat itu sendiri.

Dalam rangka mawas diri, jika memungkinkan, aparat juga harus menyapu narasi-narasi provokatif mengenai Nataru. Seperti ceramah yang menuduhnya punya agenda Kristenisasi terselubung, atau wacana bahwa pengamanan Nataru merupakan bagian dari pendiskreditan Islam. Selain itu, sebagai upaya mawas diri juga, jaringan terorisme yang masih belum tertangkap harus dilacak secara detail. Sehingga jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi, tidak sulit untuk meringkus kaum teroris tersebut.

Demi kelancara Natal dan Tahun Baru, semua langkah pengamanan harus diambil. Jangan sampai sisa-sia kaum teroris kembali melanjutkan pesta poranya. Mereka adalah pasukan berani mati, sehingga tidak takut dengan senjata aparat. Pengaman seketat apa pun, selama ada celah, teror akan tetap terjadi. Maka, waspadalah. Nataru harus dijamin keamanannya. Islam pun mengajarkan toleransi antarsesama. Bukan lagi waktunya Indonesia jadi medan teror. Kaum teroris harus disapu total.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru