28 C
Jakarta

UU Antiterorisme 2018 Belum Mampu Sentuh Paham Radikalisme

Artikel Trending

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Harakatuna.com. Jakarta – Akar radikalisme adalah ideologi yang menyimpang sedangkan faktor ekonomi hanya pendorong. Harus ada ada imunisasi dan vaksinasi ideologi yang bisa dilakukan pada masyarakat luas. Disinilah pentingnya organisasi masyarakat seperti Nadhlatul Utama (NU). Sebab, UU Antiterorisme tidak dapat menyentuh para pelaku teror.

”Ini pentingnya NU sebagai ormas untuk melindungi masyarakat awam. Mereka (kelompok teror) ini selau memanfaatkan celah antara agama dengan nilai kebangsaan atau nasionalisme atau Pancasila,” kata Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Ahmad Nurwahid dalam diskusi online yang digelar Ashor pada Minggu (27/9/2020) .

Menurut jenderal polisi bintang satu ini semua gerakan aktivitas agama yang bertentangan dengan empat konsensus nasional—yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI— maka itu sudah bisa disebut gerakan radikalisme dan jika sudah beraksi bisa disebut terorisme.

Namun Nurwahid meneruskan jika radikalisme dan terorisme bukan monopoli satu agama. Hal ini ada di seluruh agama dan kempok dan potensi ini ada dalam setiap individu manusia. Radikalisme dan terorisme atas nama agama adalah fitnah bagi agama. Sehingga kalau mengatasnamakan Islam maka itu hakikatnya fitnah bagi Islam.

“Ini karena mereka memecah belah Islam dan menyebarkan ketakutan. Radikalisme yang mengatasnamakan Islam malah menyimpang dari tujuan Islam yang rahmatan lil alamin. Di negara lain, seperti New Zealand, pelaku radikalnya malah membunuh (orang Islam) yang sedang salat Jumatan,” tambahnya.

UU Antiterorisme Perlu Revitalisasi

Hal lain yang digarisbawahi Nurwahid adalah semua teroris pasti radikal tapi tidak semua radikal pasti teroris. Ia juga mengatakan jika UU 5/2018 Antiterorisme belum mampu menjangkau paham radikal kecuali mereka telah masuk jaringan teror dan sudah siap beraksi dengan sejumlah indikator.

“Misalnya berdasarkan hasil analisis surveillance dan intelejen mereka sudah punya senjata api, bom, atau iddad (latihan paramiliter) yang mengindikasikan kuat akan melakukan aksi teror maka itu baru bisa dilakukan tindakan (penangkapan) atau preventif strike,” imbuhnya.

Namun UU 5/2018 yang merupakan revisi dari UU 5/2003 itu juga belum mampu mencapai hulu masalah dengan mereka yang telah terpapar paham radikal semisal HTI. Mereka ini belum bisa terjangkau sepanjang belum masuk kelompok teror. Ini menurutnya beda dengan di Malaysia yang punya ISA.

“Dulu di masa Orde Baru kita punya UU Anti Subversif tapi paska Orde Baru ini dihilangka. Inilah yang jadi problem bangsa ini. Berbicara radikal terorisme tidak bisa secara parsial tapi harus holistik dari hulu dan hilir. Hilirnya ya jaringan terorisme, hulunya yang perlu pencegahan,” lanjutnya.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Peran Sunan Giri dalam Islamisasi Indonesia Timur

Judul: Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur, Penulis: Hilful Fudhul Sirajuddin Jaffar, Penerbit: IRCiSoD, Cetakan: Oktober 2020, Tebal: 132, Peresensi: Willy Vebriandy. Bagaimana islamisasi Nusantara...

Yordania Khawatirkan Kondisi Palestina yang Semakin Terancam

Harakatuna.com. Amman - Kerajaan Yordania khawatir hubungan Arab Saudi dengan Israel yang mulai "mesra" dapat mengancam hak pengelolaannya atas Masjid al-Aqsa, salah satu situs tersuci Islam di...

BNPT Bentuk Gugus Tugas Pemuka Agama Tangkal Paham Radikalisme Terorisme

Harakatuna.com. Jakarta – Organisasi masyarakat (Ormas) Islam dan ormas keagamaan merupakan elemen penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Pemuka Agama dari berbagai ormas keagamaan ini...

Tanda-Tanda Diterimanya Sebuah Taubat, Apa Saja?

Sudah kita ketahui bersama bahwa manusia tidak akan lepas dari dosa. Supaya dosa diampuni, tentunya seorang hamba harus bertaubat. Lantas bagaimana tanda-tanda taubat  diterima?...

Khilafah Islamiyah ala ISIS Hanya Omong Kosong

Harakatuna.com. Surakarta-Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah IAIN Surakarta menggelar Bedah Buku “300 Hari di Bumi Syam” di Gedung Fakultas Syariah, pada Jum’at (27/11)...

Menulis itu Melukis dengan Kata

Tulisan yang bagus adalah guratan yang mampu membangun emosi pembaca. Bahwa menulis tidak sekadar mengumpulkan kata, disusun menjadi kalimat; kalimat yang dihimpun menjadi paragraf....

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...