34.4 C
Jakarta

Ustaz Amiruddin Dewa: Amir Khilafatul Muslimin Borneo, Si Paling Fatalistik Membahayakan Umat

Artikel Trending

Milenial IslamUstaz Amiruddin Dewa: Amir Khilafatul Muslimin Borneo, Si Paling Fatalistik Membahayakan Umat
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Sudah ada beberapa daftar nama Amir Khilafatul Muslimin yang saya ulas dari pelbagai sudut pandang, taktik, dan cara kerjanya. Mulai dari pimpinan pusat internasional atau untuk seluruh Dunia Kholifah/Amirul Mukminin: Syekh Abdul Qadir Hasan Baraja, Amir Daulah Sumatra: Ustaz Supriono Hadi (Meliputi Lampung Sampai Aceh), Amir Daulah Jawa: Ustaz Hamzah SAT (Meliputi Merak sampai Madura), Amir Daulah Indonesia Timur: Ustaz Zulkifli Rahman (NTB sampai Sorong Papua), dan yang terakhir ini adalah Ustaz Amiruddin Dewa (Meliputi Kalimantan dan Sulawesi).

Kita tahu Ustaz Amiruddin Dewa adalah menjadi Amir yang beroperasi di wilayah khusus atau wilayah Borneo. Ia adalah keturunan Makasar (Bugis), tinggal di Balikpapan untuk melakukan dakwah fisabilillah katanya. Ke orang-orang, Ustaz Amiruddin Dewa mengaku menjadi amir, yaitu pemimpin umat Islam yang wajib dipatuhi.

Wajib Menaati Ustaz Amiruddin Dewa

Ustaz Amiruddin Dewa selalu mewartakan bahwa semua umat islam wajib taat kepada mereka yang memiliki otoritas. Bahasa dia, taatilah Allah dan taatilah Rasul. Dan ulil amri pemimpin umat Islam: khilafah dan amirul mukminin. Bahasa ini yang seringkali diulang-ulang olehnya, baik di mimbar dan twitnya.

Taat pada ulil amri bagi dia adalah taat kepadanya. Karena di dunia yang menamakan ulil amri, atau yang diberi gelar ulil amir/amir hanyalah Ustaz Amiruddin Dewa sendiri. Di mana ia menjadi amir di Khilafatul Muslimin cabang Borneo. Ulil amri dia tafsirkan adalah dirinya, bukan pemerintah, ulama, presiden atau lainnya.

Untuk menegaskan pernyataannya itu, Ustaz Amiruddin Dewa menyebut bahwa amir itu adalah orang yang memimpin umat Islam. Bukan orang yang memimpin bangsa dan negara. Bagi dia, amir adalah pemimpin umat Islam se Dunia. Pengganti atau wakil Allah di muka bumi untuk mengatur alam semesta berdasarkan aturan Allah.

Jika dilihat dari penafsiran saja, Ustaz Amiruddin Dewa, sesungguhnya pintar dalam mengolah bahasa. Bahasa agama dijadikan sebagai bahasa politis yang menunjuk pada dirinya sendiri. Bayangkan, bagi dia, Amir Khilafatul Muslimin adalah pemimpin umat Islam se-Dunia. Dan umat Islam wajib taat kepada perintah dan segala macamnya. Dan dia telah direstui oleh Allah. Waw!

Menurut Ustaz Amiruddin, tidak ada contoh bersatu/berjemaah kecuali dalam kekhalifahan Islam dan tidak ada contoh ketaatan kepada pemimpin bagi kaum muslim se dunia kecuali taat kepada khalifah/amirul mukminin. Jadi, ada dua term yang dimainkan. Satu umat Islam wajib hukumnya untuk masuk kepada Khilafatul Muslimin. Kedua, umat Islam di dunia ini, mereka harus wajib taat kepada amir, yakni Ustaz Amiruddin ini.

“Bersatu wajib hukumnya sejak turun perintahnya dan berlaku sampai hari kiamat. Taat kepada khalifah/amirul mikminin juga wajib hukumnya sejak turun perintah dan juga berlaku sampai hari kiamat”, tuturnya. Jadi, kita-kita ini, menurutnya sudah wajib taat kepada pimpinan Khilafatul Muslimin sejak kita dilahirkan sampai kiamat tiba. Jika tidak taat, kita dianggap sebagai pembangkang dan bukan menjadi muslim yang taat.

BACA JUGA  Pengkhianatan Pancasila: Indonesia Diprank Ustaz Abu Bakar Ba'asyir?

Si Paling Percaya Diri

Sebagai orang muslim, menurut Ustaz Amiruddin, wajib menaati perintah agama. Perintah agama yang dimaksud adalah mendirikan khilafah dengan cara menyokongnya, membantunya, dan mengkampanyekannya. Bagi dia, tidak ada sistem pemerintahan yang baik kecuali organisasi dia, yaitu Khilafatul Muslimin. Suatu pikiran yang sempit dan penuh pembangkangan terhadap sistem yang Indonesia jalankan saat ini.

Ustaz Amiruddin menyebut, “bergabunglah (berbaitlah) kepada sistem kekhalifahan Islam (Khilafatul Muslimin) untuk menghindari perpecahan (kemusyrikan) guna menyempurnakan ketaatan kepada Allah (Al-Qur’an), kepada Rasul (Hadis), dan kepada pemimpin Islam (Khalifah/Amirul Mu’minin). Wadah kesatuan Islam se-Dunia.

Ajakannya sangat aneh? Bagi siapa yang belum pernah melihat dan mendengar doktrin aktivis khilafah, barangkali sangat terdengar aneh. Tapi bagi mereka yang tiap harinya melihat, mungkin bisa dibilang menjemukan. Betapa tidak, aktivis ini sering melontarkan sesuatu yang tidak masuk akal, absurd, dan menjurus ke “tipu-tipu”. Bagaimana mungkin Khilafatul Muslimin dibilang wadah persatuan umat Islam, wong di pusatnya saja (di Lampung), orang banyak menolak. Bahkan mayoritas di sana beranggotakan kepada Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Bukankah Khilafah ini yang membikin perpecahan di Indonesia ini, bukan?

Namun demikian, Ustaz Amiruddin tetap saja mengklaim dirinya menjadi panglima umat Islam untuk seluruh dunia. Suatu sikap ketidakmaluan yang sengaja dipertontonkan tiap hari. Menurut Ustaz Amiruddin mengapa umat harus taat dan berbaiat kepada Khilafah, karena Khilafah wadah kesatuan umat untuk berjemaah atau tempat bersatunya umat untuk mempraktikkan Al-Qur’an dan hadis. “Mengapa harus khilafah? Karena itu contoh bersatu dan khilafah telah terbukti umat Islam dalam rahmah Allah kurang lebih 13 abad lamanya”, tegasnya.

Jadi, klaim-klaim aktivis khilafah di atas ditinjau dari semiotiknya, mereka sebenarnya mempermainkan bahasa dan konteks. Bahasa agama dibawa-bawa untuk kemudian dia argumentasikan menjadi pemukul mereka yang lemah secara keagamaan. Misalnya, dia Ustaz Amiruddin, mengatakan, “Khilafatul Muslimin sistem Rabbani. Siapapun yang menentangnya maka berhadapan dengan Allah”.

Nah, di sini, bagi mereka yang tidak paham agama, maka bakal langsung ikut dan berbaiat kepada Khilafatul Muslimin. Karena di sana ada kalimat, bagi siapa menentangnya, maka berhadapan dengan Allah. Jadi Allah dibawa untuk menakuti seseorang dan untuk menipu orang supaya masuk pada organisasinya. Ustaz Amiruddin, juga bermain psikologis di sana. Mencoba mengarahkan orang kepada ketakutan-ketakutan dalam beragama dan membelokkan agama kepada politisasi dogma. Sikap yang fatalistik.

Namun semua itu tercipta, dari hasil penafsiran sempit terhadap agama dan negara. Agama diandaikan hanyalah mengajarkan bagaimana menegakkan khilafah, yang mereka klaim titipan dari Nabi. Sedangkan cara berpikir kenegaraan, mereka tahunya, bahwa sistem khilafahlah yang bakal menyejahterakan umat dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada di muka bumi ini. Emang kita percaya?

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru