Ustadz Moderat yang Silent Majority


0
17 shares
Harakatuna

Gagasan Islam moderat sesungguhnya bukanlah hal baru, yang sulit dipahami atau diterapkan. Islam moderat muncul dan menjadi pokok bahasan dalam beberapa tahun belakangan ini lantaran sebagian umat Islam terpapar ideologi Islam garis keras (radikal). Hal ini tak lantas memberikan stigma bahwa radikalisme identik dengan Islam. Bukan. Namun, ada dari sebagian umat Islam yang menganut paham-paham radikal.

Jika ditelisik lebih lanjut, maka akan ditemukan berbagai macam faktor penyebab sebagian orang Islam “mengamalkan” ajaran Islam garis keras. Salah satu faktor pertama dan utamanya adalah pengarus ustadz atau tokoh agama.

Ustadz atau tokoh agama menjadi faktor penyebab utama seseorang menganut paham radikal. Hal ini sangat logis mengingat posisi ustadz atau tokoh agama dalam beragama sangat dominan dan memiliki pengaruh yang besar terhadap seseorang atau jamaahnya.

Meminjam teori David Berlo, bahwa perkataan/ceramah ustadz ibarat sebuah peluru yang memasuki pikiran khalayak dan menyuntikkan beberapa pesan khusus yang nantinya masuk ke dalam pembuluh darah ini akan bereaksi seperti apa yang diharapkan oleh sang penempak peluru tersebut. Jelas kata, jika para da’i, ustadz, tokoh agama, bahkan negarawan menyebarkan/menarasikan paham radikal, maka pembuluh darah publik/jamaah akan kemasukan paham radikal.

Kini, cara-cara untuk menyebarkan paham radikal sudah berjalan begitu massif. Dikatakan demikian lantaran serangan kelompok radikal tak hanya melalui darat saja, melainkan juga sudah merambah pada serangan udara seperti melalui media sosial dan situs online lainnya.

Sementara itu, serangan darat yang saat ini massif dilakukan oleh kelompok radikal adalah melalui mimbar-mimbar masjid. Berbagai temuan yang bertebaran di media sosial belakangan ini menjadi bukti bahwa kelompok radikal sudah menguasai beberapa masjid strategis.

Baca Juga:  Membasmi PKI

Tentu kita tak bisa memutus/melumpuhkan gerakan meraka secara cepat dan tuntas. Meskipun demikian tak lantas mengendorkan langkah kita. Masih ada banyak cara untuk membendung laju kelompok radikal, salah satunya adalah memperkuat da’i, ustadz dan tokoh agama serta pegiat media sosial yang memiliki ideologi/pemahaman moderat. Terlebih saat ini, Ustad yang memiliki pandangan Islam moderat cenderung diam (silent majority).

Berdasarkan fenomena di atas, maka langkah-langkah taktis dan praktis yang harus gencar dilakukan adalah menyiapkan para ustadz, da’i, pegiat medsos, dan tokoh agama. Terkhusus untuk khotib jumat, harus benar-benar dikontrol.

Pembentukan organisasi/forum takmir masjid menjadi sebuah langkah yang tak bisa ditunda lagi. Diawali dari Forum Silaturrahmi Takmir Masjid Kementerian/Lembaga dan BUMN (FSTM-KLB) yang bergerak secara tepat dan terukur dalam mengangani/menindaklanjuti hasil-hasil temuan dari LP3M.

Dan belum lama ini juga, FSTM-KLB juga melakukan gebrakan, yakni akan menyiapkan daftar ustadz-ustadz moderat yang nantinya bisa dijadikan sebagai referensi oleh takmir masjid.

Langkah-langkah dan terobosan seperti itu harus diikuti oleh lembaga, kelompok dan wilayah lainnya di seluruh Indonesia. Dengan begitu, ustadz yang memiliki ideologi moderat, dan wawasan keislaman dan keindonesiaannya kuat dan lurus, akan berubah menjadi voice majority.

Jika sudah demikian, maka tujuan akhir ajaran Islam, yakni kemashlahatan, akan terwujud. Dan Islam yang diajarkan sekaligus diamalkan oleh segenap umat Islam adalah Islam yang rahmatan lil alamin.


Like it? Share with your friends!

0
17 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.