25.1 C
Jakarta

Ustadz Fatih Karim dan Keterlibatannya dengan HTI

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanUstadz Fatih Karim dan Keterlibatannya dengan HTI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Ustadz Fatih Karim. Pasti orang-orang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengenalnya, termasuk Ustadz Felix Siauw. Ustadz Fatih tidak terlahir dari darah keluarga penghafal Al-Qur’an, apalagi ia sendiri kuliah bukan di jurasan keagamaan, tapi di jurusan pertanian, yaitu lulusan D3 Agribisnis Unpad dan S1 di Institut Pertanian Bogor Jurusan Agribisnis.

Ilmu pertanian yang ditempuhnya selama kuliah tidak menjadi bekal perjalanan hidup Ustadz Fatih, sehingga pada 1997 ia bergabung dengan HTI dan di situlah ia mendapat binaan langsung belajar agama. Bahkan, sampai sekarang Ustadz Fatih tetap aktif di HTI, meskipun HTI telah dibubarkan secara legal-formal oleh pemerintah.

Memang begitu perjalanan hidup seseorang. Kebanyakan jurusan tidak mengantarkan seseorang menuju tujuan yang sebenarnya. Apalagi jurusan kuliah di mana Ustadz Fatih belajar bukan jurusan agama, tapi jurusan pertanian. Biasanya orang yang masuk di jurusan itu tidak memiliki dasar pengetahuan agama yang mendalam, sehingga mudah terpapar radikalisme semacam HTI itu.

Ustadz Fatih jatuh cinta kepada Islam jelas sejak bergabung dengan HTI. Ustadz Fatih berpandangan, bahwa Islam adalah risalah yang mengatur segalanya. Islam termasuk agama yang sempurna. Tiada cacat dan cela di dalamnya. Pandangan ini sesuai dengan hadis Nabi: Islam itu mulia/tinggi, tidak ada agama yang lebih tinggi daripadanya. (HR. Bukhari).

Berawal dari kecintaannya kepada Islam, Ustadz Fatih mulai semangat belajar ajaran-ajarannya. Ustadz Fatih belajar akidah, akhlak, dakwah, dan syariah. Bahkan, ia juga mengkaji Ulumul Quran, Hadits, Ushul Fiqh, Tafsir, Sirah Nabi, dan Dustur Negara Khilafah.

Beberapa aspek pengetahuan yang dipelajari Ustadz memang benar termasuk bagian dari memahami Islam yang sebenarnya. Namun, kecenderungan dalam berislam yang dipahami Ustadz Fatih terkesan politis. Ustadz Fatih mulai digiring untuk menegakkan Khilafah sebagai sistem yang bertentangan dengan sistem republik-demokratis yang berlaku di Indonesia.

Kecintaan Ustadz Fatih kepada ajaran-ajaran agama Islam bukanlah sesuatu yang keliru. Hanya saja, tempat di mana Ustadz Fatih belajar itulah yang keliru. HTI bukanlah tempat yang tempat untuk belajar Islam. Siapapun termasuk Ustadz Fatih yang pernah belajar di HTI akan digiring untuk anti-pemerintah, anti-negara kebangsaan, dan anti perbedaan. Sungguh, sangat disayangkan siapapun yang belajar di sana. Niatnya mendapatkan ilmu yang mengantarkan kepada kebenaran, ternyata mengantarkan kepada kesesatan.

Kecintaannya terhadap Islam tidak melupakan kecintaannya terhadap organisasi yang melahirkan Ustadz Fatih sendiri menjadi seorang pendakwah. Organisasi yang dimaksud di sini adalah HTI. Sampai, Ustadz Fatih memiliki kesan positif, bahwa HTI layaknya ibu, dari rahimnya ia dilahirkan dan dibesarkan. Bahkan, dari pembinaannya ia tumbuh dan berkembang, sehingga ia terus berjuang bersama mengembalikan kehidupan Islam.

Ustadz Fatih mengaku, bahwa HTI tidak melulu mengajarkan Khilafah seperti yang dipersepsikan banyak orang, namun pula HTI mengajarkan ajakan untuk hidup dalam naungan Islam dan berhukum hanya dengan aturan yang Allah turunkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Doktrin HTI yang diterima Ustadz Fatih ini serupa dengan pesan ayat Al-Qur’an yang dipahami oleh kelompok Khawarij pada masa dulu: Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. al-Maidah: 44).

BACA JUGA  Kampanye Khilafah di tengah Demonstrasi Kenaikan BBM

Karena hukum yang dipakai dalam HTI diyakini oleh pengikutnya sebagai hukum Allah, orang HTI menyebutkan bahwa Khilafah sebagai bagian dari ajaran yang mereka perjuangkan adalah bagian dari ajaran Islam pula. Maka, HTI berpandangan menolak sistem Khilafah sama dengan menolak ajaran Islam. Karena, Khilafah sama seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya. Beberapa ajaran HTI yang diyakini berasal dari Al-Qur’an dan Hadis telah mempengaruhi pemikiran Ustadz Fatih. Sehingga, Ustadz Fatih pasti membenarkan doktrin HTI tersebut.

Sudah bukan rahasia lagi. Ustadz Fatih semenjak bergabung dengan HTI bukan dituntun berpikir nasionalis atau cinta terhadap tanah airnya sendiri. Ia malah dibuat fanatik terhadap HTI yang mengantarkannya mengenal Islam. Bahkan, saking fanatiknya Ustadz Fatih melihat HTI tanpa cacat sedikitpun, semisal HTI tidak melulu berbicara Khilafah padahal kenyataannya paling getol mengampanyekannya.

Selain itu, ada suatu hal yang diwajibkan dalam HTI, yaitu dakwah. Ustadz Fatih memahami, bahwa dakwah itu Ila Allah, perintah Allah yang wajib dilakukan oleh manusia tanpa terkecuali, bukan permintaan penguasa apalagi pesanan. Tugas dakwah ini sudah dilakukan oleh orang-orang Hizbut Tahrir yang tersebar di lima puluh dua negara di seluruh dunia.

Pesan dakwah ini sudah disampaikan oleh pendiri Hizbut Tahrir Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pada tahun 1953 di Al-Aqsa Palestina. Pesan dakwah ini tetap menggelora saat Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada 1983 hingga sekarang. Pesan dakwah yang diyakini oleh Ustadz Fatih sebagai aktivitas positif seharusnya tidak merugikan negara, tidak korup, tidak kriminal, tidak melakukan kekerasan, apalagi melakukan teror. Bahkan, dakwah ini sangat mencintai Indonesia dan seluruh dunia Islam, berusaha menjauhkannya dari cengkeraman kapitalisme dan semua ideologi yang merusak fitrah manusia.

Dakwah yang diajarkan HTI tidak dapat disamakan dengan dakwah Nabi Saw. Dakwah HTI sebagaimana yang dilakukan Ustadz Felix hanya dibangun di atas kepentingan kelompok, bukan ditegakkan di bawah nilai-nilai kemanusiaan. Bukankah banyak pengikut HTI termasuk Ustadz Fatih yang ngawur dalam berdakwah? Maka, berhati-hatilah dalam menerima ajaran HTI yang menyesatkan itu.

Sebagai penutup, perjalanan Ustadz Fatih dalam belajar Islam Hizbut Tahrir menjadi bekal dalam meraih kebahagiaan hidup. Meskipun, banyak tidak suka dengan cara dakwah yang disampaikannya, karena dakwahnya terkesan politis yang ditunggangi oleh doktrin HTI. Maka, pertanyaannya sekarang, apakah Anda berkeinginan menjadi seperti Ustadz Fatih atau tidak?[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini hanya menyempurnakan tulisan sebelumya yang dimuat di media yang sama

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru