29.4 C
Jakarta

Ustadz Fatih Karim dan Kepentingannya dalam Belajar Islam

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanUstadz Fatih Karim dan Kepentingannya dalam Belajar Islam
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Ustadz Fatih Karim. Pasti orang-orang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengenalnya, termasuk Ustadz Felix Siauw. Ustadz Fatih tidak terlahir dari darah keluarga penghafal Al-Qur’an, apalagi ia sendiri dikuliah bukan di jurasan keagamaan, tapi di jurusan pertanian, yaitu lulusan D3 Agribisnis Unpad dan S1 Di Institut Pertanian Bogor Jurusan Agribisnis.

Ilmu pertanian yang tempuhnya selama kuliah tidak menjadi bekal perjalanan hidup Ustadz Fatih, sehingga pada 1997 ia bergabung dengan HTI dan di situlah ia mendapat binaan langsung belajar agama. Bahkan, sampai sekarang Ustadz Fatih tetap aktif di HTI, meskipun HTI telah dibubarkan secara legal-formal oleh pemerintah.

Ustadz Fatih jatuh cinta kepada Islam jelas sejak bergabung dengan HTI. Ustadz Fatih berpandangan, bahwa Islam adalah risalah yang mengatur segalanya. Islam termasuk agama yang sempurna. Tiada cacat dan cela di dalamnya. Pandangan ini sesuai dengan hadis Nabi: Islam itu mulia/tinggi tidak ada agama yang lebih tinggi daripadanya. (HR. Bukhari).

Semenjak tumbuh kecintaan kepada Islam, Ustadz Fatih mulai tumbuh pula semangat belajar ajaran-ajarannya. Ustadz Fatih belajar perkara akidah, akhlak, dakwah, dan syariah. Bahkan, ia juga mengkaji Ulumul Quran, Hadits, Ushul Fiqh, Tafsir, Sirah Nabi, dan Dustur Negara Khilafah.

Beberapa aspek pengetahuan yang dipelajari Ustadz memang benar termasuk bagian dari memahami Islam yang sebenarnya. Namun, kecenderungan dalam berislam yang dipahami Ustadz Fatih terkesan politis. Ustadz Fatih mulai digiring untuk menegakkan Khilafah sebagai sistem yang bertentangan dengan sistem republik-demokratis yang berlaku di Indonesia.

Kecintaannya terhadap Islam tidak melupakan kecintaannya terhadap organisasi yang melahirkan Ustadz Fatih sendiri menjadi seorang pendakwah dalam hidup. Organisasi yang dimaksud adalah HTI. Sampai, Ustadz Fatih memiliki kesan positif, bahwa HTI layaknya ibu, dari rahimnya ia dilahirkan dan dibesarkan. Bahkan, dari pembinaannya ia tumbuh dan kembang, sehingga terus berjuang bersama mengembalikan kehidupan Islam.

Ustadz Fatih mengaku, bahwa HTI tidak melulu mengajarkan Khilafah seperti yang dipersepsikan banyak orang, namun pula HTI mengajarkan ajakan untuk hidup dalam naungan Islam dan berhukum hanya dengan aturan yang Allah turunkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Doktrin HTI yang diterima Ustadz Fatih ini serupa dengan pesan ayat Al-Qur’an yang dipahami oleh kelompok Khawarij pada masa dulu: Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. al-Maidah: 44).

BACA JUGA  Denny Siregar dan Kontra-Radikalisme yang Ia Lakukan

Karena hukum yang dipakai dalam HTI adalah hukum Allah, orang HTI menyebutkan bahwa Khilafah sebagai bagian dari ajaran yang mereka perjuangkan adalah bagian dari ajaran Islam. Maka, HTI berpandangan menolak sistem Khilafah sama dengan menolak ajaran Islam. Karena, Khilafah sama seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya. Beberapa ajaran HTI yang diyakini berasal dari Al-Qur’an dan Hadis telah mempengaruhi pemikiran Ustadz Fatih. Sehingga, Ustadz Fatih pasti membenarkan doktrin HTI tersebut.

Selain itu, ada suatu hal yang diwajibkan dalam HTI, yaitu dakwah. Ustadz Fatih memahami, bahwa dakwah itu Ila Allah, perintah Allah yang wajib dilakukan oleh manusia, bukan permintaan penguasa apalagi pesanan. Tugas dakwah ini sudah dilakukan oleh orang-orang Hizbut Tahrir yang tersebar di lima puluh dua negara di seluruh dunia.

Pesan dakwah ini sudah disampaikan oleh pendiri Hizbut Tahrir Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pada tahun 1953 di Al-Aqsa Palestina. Pesan dakwah ini tetap menggelora saat Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada 1983 hingga sekarang. Pesan dakwah yang diyakini oleh Ustadz Fatih sebagai aktivitas positif tentu merugikan negara, tidak korup, tidak kriminal, tidak melakukan kekerasan, apalagi menghindari teror. Bahkan, dakwah ini sangat mencintai Indonesia dan seluruh dunia Islam, berusaha menjauhkannya dari cengkeraman kapitalisme dan semua ideologi yang merusak fitrah manusia.

Sebagai penutup, perjalanan Ustadz Fatih dalam belajar Islam Hizbut Tahrir menjadi bekal dalam meraih kebahagiaan hidup. Meskipun, banyak tidak suka dengan cara dakwah yang disampaikannya, karena dakwahnya terkesan politis yang ditunggangi oleh doktrin HTI. Maka, pertanyaannya sekarang, apakah Anda berkeinginan menjadi seperti Ustadz atau tidak?[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari catatan Ustadz Fatih Karim yang dimuat di media online Trenopini.com

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru