32.8 C
Jakarta

Umat Islam Jangan Mudah Terprovokasi Pasca Insiden Penyerangan Syekh Ali Jaber

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Harakatuna.com. Semarang-Pascapenyerangan terhadap Syekh Ali Jaber di Masjid Fallahudin, Kota Bandar Lampung, Minggu (13/09/2020) lalu, beredar spekulasi tentang sesuatu di balik aksi tersebut. Ada yang menggunakan isu tersebut untuk mendiskreditkan pemerintah dengan tuduhan bahwa pemerintah gagal melindungi ulama. Ada pula yang mengkaitkan kejadian itu dengan isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menurut pengamat politik dan keamanan, Dr. Sri Yunanto, komentar-komentar spekulatif tersebut bernuansa ‘adu domba’. Hal itu justru memprovokasi atau mengompori umat Islam untuk mengecam, mendiskreditkan atau mendelegitimasi pemerintah dengan mengaitkan dengan PKI dan kemudian main hakim sendiri.

“Bisa jadi kelompok ini memanfaatkan momentum tanggal 30 September mendatang yang dalam sejarah Indonesia sebagai momentum pengkhianatan PKI terhadap bangsa Indonesia, untuk menyerang pemerintah dan memfitnah Presiden Jokowi,” kata Sri Yunanto dalam keterangan tertulis yang diterima Ayosemarang.com, Kamis (17/09).

Sri Yunanto menegaskan, bangsa Indonesia telah menutup rapat terhadap kebangkitan PKI. Bahkan, pemerinh dan negara terikat dengan Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang pembubaran PKI dan melarang pembentukannya.

Pengajar Ilmu Politik UI itu mengatakan, TAP MPR ini diperkuat dengan UU No 16 tahun 2017 dengan tegas melarang Ormas menyebarkan ajaran Ateisme, Komunisme, Leninisme sebagai sumber rujukan ideologi dan gerakan komunisme. UU ini juga menetapkan hukuman pidana yang keras bagi anggota organisasi PKI.

Lalu apa tujuan mengaitkan kejadian ini dengan kebangkitan PKI?. Sri Yunanto menduga kelompok ini menggunakan isu tersebut untuk menciptakan kekacauan sosial dengan cara mengadu domba umat Islam untuk main hakim sendiri dengan menawarkan hukum pembalasan (qishos). Kelompok ini seperti mengail di air keruh.

“Ketika bangsa Indonesia sedang mengalami kesulitan akibat pandemi Covid-19 dan sedang berusaha mengatasinya, mereka berusaha menggunakan semua kejadian termasuk penyerangan terhadap Syech Ali Jabir untuk menyerang pemerintah dan mendiskreditkan presiden Jokowi,” tegasnya.

Menurut Sri Yunanto, penyerangan terhadap Syech Ali Jabir, sebelumnya pernah dialami Wiranto (saat itu Menkopolhukam), dan ancaman pembunuhan terhadap tokoh -tokoh pemerintahan di sekeliling Jokowi adalah fakta.

“Kita belum tahu apakah ada kaitan antara penyerangan terhadap para imam masjid dan ulama seperti Syech Ali Jabir dan Wiranto yang dekat atau menjadi pendukung Jokowi,” ujarya.

Dikatakan Sri Yunanto, dalam perspektif para teroris, aparat pemerintah dianggap Thoghut dan ulama yang dekat dengan pemerintah dianggap sebagai “ulama buruk (syuk)” yang boleh diserang. Pemikiran ini juga bisa berkembang dengan suatu pertanyaan “apakah pelaku atau jaringannya punya kaitan dengan kelompok yang vocal menyerang pemerintahan?

“Berpendapat demikian merupakan bagian dari kebebasan berfikir dan dijamin oleh Konstitusi. Namun, sebagai warga yang taat hukum, tindak lanjut penanganan penyerangan terhadap Syech Ali Jabir, imam masjid dan tokoh pemerintahan memang harus diserahkan kepada aparat penegak hukum,” kata dia.

Oleh karenanya, Sri Yunanto meminta semua pihak perlu meningkatkan kewaspadaan. Bukan hanya ulama tetapi siapa saja termasuk aparat keamanan yang juga tidak bebas dari ancaman serangan seperti yang menimpa Syech Ali Jabir, pungkasnya.

 

 

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...

Hayya ‘Alal Jihad, Mari Berjihad Berantas FPI!

Boleh jadi, setelah membaca tulisan ini, atau sekadar membaca judulnya saja, Hayya ‘Alal Jihad, sementara orang akan berkomentar: “Bocah kemarin sore kok mau bubarkan...

Israel Musnahkan Tangga Bersejarah Masjid Al-Aqsa

Harakatuna.com. Yerusalem - Pemerintah Kota Yerusalem Israel menghancurkan tangga bersejarah yang mengarah ke Bab Al-Asbat, Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem. Penghancuran tangga bersejarah ini...