30 C
Jakarta

Ulama, Liberalisme, dan Narasi Penjungkirbalikan Rezim yang Harus Dilawan

Artikel Trending

Milenial IslamUlama, Liberalisme, dan Narasi Penjungkirbalikan Rezim yang Harus Dilawan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.comAl-‘ulama waratsatu al-anbiya’. Ulama adalah pewaris para nabi. Seperti itu riwayat yang sangat familiar dalam tradisi sosial masyarakat kita. Mereka yang dianggap tokoh masyarakat, keturunan orang-orang mulia, lebih-lebih keturunan Rasulullah, harus dihormati. Hierarki ini mereka sadari, dan dari itu kemudian, beberapa hal harus terjadi, sebagai konsekuensi. Ulama dan habaib jadi kasra tertinggi yang by design, yang belakangan seperti selalu bertabrakan dengan rezim.

Sebenarnya yang demikian sangat dimaklumi. Dalam sejarah, Walisongo adalah para ulama yang berperan penting daalam penyebaran Islam di Indonesia. Sementara Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan, dan ulama seangkatan di luar pulau Jawa berperan penting dalam memperoleh kemerdekaan. Di negeri ini, ulama berandil besar, baik dalam perpolitikan maupun keagamaan. Tetapi, bagaimana bila ada perebutan terhadap kriteria ‘ulama’ itu sendiri?

Beberapa hari lalu, salah satu ulama kebanggaan, ustaz Abdul Somad, dijegal masuk Singapura. Pihak Singapura mengatakan, ceramah Abdul Somad yang menyinggung non-Muslim menjadi penyebabnya. Singapura sebagai negara multi-ras dan multi-agama tidak mengizinkan dirinya masuk karena dianggap akan mencederai kerukunan antarumat di Singapura. Pemerintah di Indonesia kemudian menjelaskan bahwa semua itu sepenuhnya merupakan kebijakan lokal Singapura.

Namun, setelah penjegalan tersebut, ustaz Abdul Somad seperti mendapat angin segar untuk semakin keras. Hal itu karena sebagian umat justru menganggap dirinya sebagai macan Tuhan (asad Allah), yang memang harus keras kepada siapa pun dan tidak mengenal kompromi. Sekitar tiga hari setelah dijegal di Singapura, ia keliling Indonesia memenuhi undangan ceramah. Madura jadi salah satu tujuan safari dakwahnya. Di Madura, ia berkunjung ke sejumlah pesantren.

Di sini tidak akan menanggapi ihwal kunjungan ustaz Abdul Somad ke sejumlah pesantren tua di Madura. Yang ingin ditanggapi adalah narasi yang beredar bersama safari dakwah tersebut. Misalnya, Abdul Somad dianggap sebagai benteng Islam dari liberalisme—narasi yang mirip dengan produk HTI untuk mendiskreditkan pemerintah dan Muslim moderat: NU dan Muhammadiyah. Ujung-ujungnya rezim yang disalahkan.

Perhatikan keunikan umat berikut: Abdul Somad yang ceramah keras, Singapura yang menjegal, tapi pemerintah Indonesia yang disalahkan. Dianggap islamofobia, dianggap tidak membela ulama, dan narasi sampah sejenis. Ujung-ujungnya juga malah ingin menjungkirbalikkan rezim untuk menjayakan Islam. Ulama dijadikan umpan, liberalisme dijadikan tumbal. Semua itu mesti dilawan, minimal dengan bertanya: benarkah liberalisme sedang bangkit?

Benarkah Liberalisme Bangkit?

Liberalisme sudah lama jadi senjata untuk menakuti umat oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Biasanya ia dipertentangkan dengan Islam secara vis-à-vis, juga dengan ulama dalam kasus yang lain. Kasus ustaz Abdul Somad masuk kategori yang terakhir ini, yang berusaha mempertentangkan liberalisme dengan gagasan keislaman Abdul Somad yang konservatif.

BACA JUGA  Khilafatul Muslimin (1); Organisasi Masyarakat Islam yang Lagi Khilaf

Tetapi, mereka yang teriak anti-liberalisme sejujurnya tidak paham apa itu liberalisme. Bagi mereka, pokoknya anti-Abdul Somad adalah ulah manusia-manusia liberal. Degan semakin merebaknya penolakan ustaz Abdul Somad, semakin jelaslah bagi mereka bahwa liberalisme tengah bangkit. Jadi tolok ukur liberalisme bagi mereka sangat pragmatis: sejauh mana kepentingan mereka terkekang, di situlah liberalisme dianggap bersarang.

Liberalisme adalah yang tidak pernah benar-benar ada. Pemikiran keislaman di Indonesia progresif, bukan liberal. Banyak yang salah paham di sini, dengan mengatakan bahwa wacana keislaman di Indonesia bergerak ke arah yang merugikan Islam itu sendiri. Karenanya, menyikapi wacana kebangkitan mereka memerlukan sensitivitas maksimal. Perang wacana adalah problem yang mesti disikapi dengan sangat hati-hati, apalagi jika itu beririsan dengan kepentingan transnasional. Harus waspada.

Wacana liberalisme maupun wacana pendiskreditan ulama, semua itu adalah isu belaka yang harus dilawan. Sering sudah diulas, bahwa ulama di negara ini jauh lebih dihormati daripada di negara-negara multikultural lainnya. Liberalisme juga tidak berkembang sebagaimana isu yang beredar. Para aktivis khilafah memang selalu menabuh perang politik. Perang politik inilah yang tidak pernah surut.

Melawan Narasi Politik

Jika persoalannya adalah perseberangan pandangan politik, maka tidak lagi perlu untuk membicarakan panjang lebar. Membela agama adalah wajib, sewajib melindungi negara dari siapapun yang berpotensi menghancurkannya. Ulama tidak seharusnya bergandeng dengan umara’ (pemerintah), tetapi bukan berarti boleh memprovokasi rakyat agar tak mempercayai kinerja mereka. Usaha untuk menjungkir-balikkan pemerintah bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan.

Semestinya, ulama memberi masukan konstruktif, bukan mengambil sikap memosisikan diri sebagai pihak outsider yang tidak ingin membantu kebijakan pemerintah dan justru malah ingin mengacaukannya. Menjadi rakyat cerdas seharusnya menyelematkan seseorang dari provokasi negatif, terlebih narasi-narasi murahan yang tak berdasar. Ulama adalah sanjungan bangsa ini, dan liberalisme hanyalah isu murahan yang diproduksi oleh para aktivis khilafah, utamanya HTI.

Mengapa semua umat jadi paranoid dengan isu tersebut, yang sebenarnya tidak pernah ada? Narasi politik semacam ini mesti dilawan dengan membungkam para aktor di baliknya. Ulama dan liberalisme itu memiliki rincian tersendiri, yang lengkap dan tidak manipulatif-eksploitatif. Kasus ustaz Abdul Somad tidak boleh dijadikan justifikasi untuk menyudutkan wacana Islam progresif, juga jangan sampai dimanfaatkan untuk memojokkan rezim yang, dalam kasus tersebut, tak ada kaitannya.

Narasi menjungkirbalikkan rezim adalah angin kuat yang dihembuskan oleh berbagai kalangan dan dari berbagai sisi. Para aktivis khilafah akan tertawa, mungkin terbahak-bahak, bersorak-sorak, melihat ulama berbenturan dengan pemerintah, dan terlebih melihat umat Islam berhasil terpedaya jualan para aktivis khilafah. Semua harus introspeksi: Abdul Somad sebagai ulama, juga masyarakat sebagai target khilafahisasi melalui narasi penjungkirbalikan rezim.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru