29.4 C
Jakarta

Ukhti, Mari Hijrah Tanpa Rasa Takut

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuUkhti, Mari Hijrah Tanpa Rasa Takut
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Judul buku: Wanita yang Merindukan Syurga, Penulis: Esty Dyah Imaniar, Penerbit: Buku Mojok, Jumlah Halaman: 184 hlm, Tahun terbit: 2019, ISBN: 978-602-131887-4.

Harakatuna.com – Kata hijrah menjadi trend di kalangan milenial ketika banyak sekali bertebaran akun-akun media sosial yang mengajak anak muda untuk hijrah, berubah menjadi lebih baik serta sekelumit alasan lain yang membuat anak muda tertarik menjadi ukhti hijrah. Apalagi, merebaknya artis yang hijrah dengan beragam alasan, membuat para penggemarnya tidak mau ketinggalan oleh artis idolanya.

Ini tentu baik, sebab persoalan menuju kebaikan dan menjadi lebih baik harus kita dukung dan support dalam rangka membangun pemahaman Islam sejak dini. Apalagi anak muda saat ini. Dengan berbagai trend kekinian, arus globalisasi, westernisasi yang semakin merajalela, pilihan hijrah tidak lain sebagai upaya self control untuk menghindari diri dari perbuatan yang dilarang oleh agama, khususnya agama Islam.

Untuk itu, hijrah menjadi pengingat untuk anak muda yang sedang menjcari jati diri, belajar memahami agama secara kompleks, serta perjalanan panjang menatapi terjalnya kehidupan. Namun, apa jadinya jika hijrah yang dijalani hanya secuil dari apa yang ditampilkan? Misal: ketika kita memilih hijrah namun hanya bergaul dengan teman sohibul hijrah saja? Atau kemudian menciptakan sekat antara hijrahers dengan yang tidak.

Apa jadinya jika memilih hijrah justru diri kita menghalalkan untuk mencaci maki teman yang tidak memakai jilbab, atau berbeda pandangan soal Islam, atau justru menjadi sombong dan merasa paling ‘alim. Na’udzubillah.

Esty Dyah Imaniar dalam tulisannya mengajak pembaca untuk menelaah secara kritik tentang pemaknaan hijrah yang dipahami oleh kebanyakan perempuan. sohibul hijrah, khususnya menjadi sorotan penting dalam tulisan ini. sebagian orang menganggap sohibul hijrah eksklusif, hanya bergaul dengan sesamanya, menolak segala bentuk hal yang tidak sama dengan pemikirannya, serta sikap-sikap tidak enak lainnya.

Tulisan ini berupa refleksi kritis tentang hijrah yang dipahami oleh sebagian orang ketika menanggapi sohibul hijrah, ataupun kepada para sohibul hijrah itu sendiri. Setidaknya, ada 5 aspek yang dikritisi oleh Esty dalam memaknai hijrah, sehingga hijrah ini dipahami amat mudah, dan tidak mencederai makna hijrah itu sendiri, di antaranya:

Hijrah bisa dimulai dari penampilan. Lalu tidakkah disebut hijrah untuk orang yang tidak merubah penampilannya? Bagaimana menyikapi orang-orang yang tidak memakai jilbab? Atau Cuma memakai jilbab kecil? Sebenarnya standar untuk bisa dikatakan sesuai syar’i itu seperti apa sih? Atau jangan-jangan pilihan fashion untuk memakai jilbab panjang adalah arabisasi? Lalu mengklaim diri paling syar’i dan paling benar.

BACA JUGA  Wasathiyah: Status Quo Corak Islam di Indonesia

Sikap semacam ini yang kemudian membentuk sikap bergaul hanya dengan orang yang sesama hijrah, lalu enggan untuk bergaul dengan yang lain.  Selanjutnya menyebabkan perasaan yang tidak nyaman, tidak enak hingga merasa iri dan sombong lantaran merasa pengetahuan agama yang dimiliki sudah cukup untuk menjadi seorang muslimah sejati.

Tidak hanya itu, melaksanakan hijrah juga berdampak pada stigmatisasi pekerjaan yang semuanya haram dilakukan. Alhasil, mengklaim pekerjaan orang lain dengan dosa akibat tidak syariah dan tidak sesuai dengan tuntutan Islam, dan klaim semacamnya.

Pengajianpun, turut direfleksikan oleh para sohibul hijrah sebagai sumber pengetahuan agama dirinya. Tidak jarang, pengajian para ukhti hijrah tidak sejalan dengan orang kebanyakan, perspektif tidak sejalan dengan Islam dijadikan sebagai sebuah patokan negara yang turut dikritisi oleh sohibul hijrah. Padahal, konsep semacam ini harus menjadi titik kesadaran oleh para sohibul hijrah untuk tidak salah memilih sumber pengetahuan ketika hijrah.

Tulisan ini mengingatkan pada ukhti hijrah bahwa ajaran Islam semestinya tidak dipahami secara tekstual. Pemaknaan yang kontekstual serta melihat sejarah dan budaya yang berkembang di Indonesia memiliki pemaknaan tersendiri sebagai Islam Nusantara yang dipahami oleh Indonesia. Dan ini harus dipahami oleh sohibul hijrah agar tidak terjerat pada teks-teks dan memaknainya secara prematur.

Memaknai hijrah tidak seperti sisi koin yang hanya memiliki dua sisi, putih dan hitam. Banyak aspek yang semestinya perlu dipahami secara kompleks. Berhijrah secara asik dengan tidak menghakimi orang lain, atau memandang sebelah mata orang-orang yang tidak sama dengan kita. Sebab kehadiran agama seyogianya bisa menjadi jalan bagi para pemeluknya untuk menjalani relas sesama manusia yang saling memandang manusia lainnya sama, tanpa menghakimi kualitas keagamaan.

Persoalan pilihan yang kita anut tentang cara berpakaian, pemahaman agama, serta pemikiran-pemikiran, seharusnya membuat kita semakin toleran melihat manusia dan bisa membuka cakrawala pikir kita untuk melihat betapa banyaknya keanekaragaman kehidupan. Pastinya, Allah itu satu dan milik seluruh alam. Lucu, jika mengklaim rahmat Allah hanya diberikan kepada kelompok kita saja. Saling menghargai antarsesama manusia.

Anisia
Mahasiswi IAIN Madura, Program Studi Hukum Keluarga Islam. Aktif di UKK LPM Acitivita.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru