Ucapan Elite yang Menyejukkan


0
46 shares
Foto: Harakatuna

Penetrasi ujaran kebencian, saling serang-menyerang, sindir, nyinyir, provokasi dan sejenisnya nyaris tak terbendung lagi. Celakanya, laku yang merobek suasana menyejukkan itu juga dilakukan oleh sejumlah elite, baik elite politik maupun agama. Kondisi semacam ini tentu saja harus menjadi perhatian bersama. Sebab, jika laku yang sayarat dengan kepentingan jangka pendek dan sektoral itu berpotensi besar menimbulkan konflik dan perpecahan di masyarakat.

Memang harus diakui dan disadari bahwa munculnya ucapan yang bernuansa kebencian dan provokatif itu akibat kompetisi yang akan berlangsung tidak lama lagi, April 2019 mendatang (Pileg dan Pilpres). Di momen inilah, antar kelompok akan berusaha saling menyerang dan menjatuhkan. Dan inilah yang trejadi saat ini.

Jika diteliti lebih dalam, kondisi masyarakat yang gampang bereaksi, gaduh dan menjadi terpolarisasi sesungguhnya akibat ucapan elite yang tak menyejukkan. Hal ini bukan mengada-ada namun realita lapangan yang berbicara. Sebut saja satu peristiwa yang terjadi belakangan ini, yakni ada seorang elite yang melontarkan kata-kata yang dapat menyinggung kelompok tertentu. Kelompok yang merasa tersinggung, melakukan “pembalasan” dengan aksi-aksi yang melibatkan banyak orang. Akibatnya, kegaduhan semakin membuncah nyaris menjadi bom yang bisa meledakkan emosi nasional.

Kondisi elite yang gemar membuat kegaduhan mencerminkan bahwa mereka hanya mencari kekuasaan semata, sehingga alpa terhadap kepentingan bersama. Entah mereka ini belajar dan meneladani siapa. Yang jelas, Nabi bahkan para founding father kita mengajarkan bahwa menjadi pemimpin itu bukan soal bagaimana merebut dan mempertahankan kekuasaan, melainkan untuk mengabdi kepada masyarakat, bertanggung jawab dan terlbat dalam menciptakan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Secara psikologis, masyarakat Indonesia membutuhkan sosok yang ucapannya menyejukkan. Menjadi tempat berlabuhnya dunia, khususnya dunia maya, yang disesaki oleh konten negatif. Kini saatnya para elite beralih dari menjual-jual surga dan memproduksi kebongan ke hal yang menyejukkan, seperti pentingnya membangun persaudaraan, solidaritas dan sinergitas tanpa memandang kelompok tertentu.

Baca Juga:  Toleran dan Intoleransi

Elite, baik politik maupun agama, adalah sosok panutan. Sebagai panutan, ia harus mendidik pengikutnya agar tak larut dalam suasana yang merugikan banyak orang. Sekali lagi, sudahi laku-laku yang dapat memunculkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat.

Dan kini, masyarakat rinduk akan kesejukan dan kedamaian. Semua itu bisa tercipta manakala elite tidak mengucapkan kata-kata yang bisa memancing berjuta-juta emosi masyarakat.


Like it? Share with your friends!

0
46 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.