27.7 C
Jakarta

Tuntutan Menulis bagi Guru

Artikel Trending

KhazanahTuntutan Menulis bagi Guru
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Kemampuan untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, dan kecerdasan intelektual dalam tulisan bukan perkara mudah. Bagi guru, khususnya ada kendala dan hambatan menghampiri. Mudah-mudahan tidak dijadikan alasan untuk berkarya. Terlebih dengan berlakunya Peraturan Menteri Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, mau tidak mau guru harus ekstra bekerja dan semangat menulis. Hal ini mengingat makin kompleksnya variabel yang harus dipenuhi dalam kenaikan pangkat dalam rangka memenuhi peraturan menteri tersebut.

Redaksi kalimat tersebut tak bermaksud mengerdilkan perjuangan dan kerja keras (pengabdian) guru yang telah dilaksanakan selama ini. Semangat bekerja yang dimaksud tak lain bermuatan persuasif. Ini upaya menembus tantangan dalam dunia pendidikan berkaitan dengan menulis.

Menulis pada hakikatnya sebuah proses dan kemauan. Maka kekuatan besar bernama proses dan kemauan harus jadi daya dukung guru untuk senantiasa berkarya. Dan pada akhirnya berbuah prestasi. Guru menulis memiliki sejumlah manfaat. Di antaranya, kesempatan untuk berprestasi, kesempatan mendapatkan penghargaan, dan paling penting mempromosikan profesionalitas guru serta lembaga pendidikan tersebut.

Menulis Bagian Kinerja Guru

Tak kalah penting, guru menulis merupakan bagian kinerja dalam rangka pengembangan keprofesian berkelanjutan. Pengembangan keprofesian berkelanjutan itu sendiri selain pengembangan diri (PD) didukung komponen lainnya. Yakni, melaksanakan publikasi ilmiah (PI) dan atau karya inovatif (KI). Dengan begitu, memandang sisi positif pemberlakuan peraturan di atas jauh lebih penting. Misalnya, sebagai sistem dalam pembinaan karir dan prestasi kerja guru. Manakala hasil pemikiran dan karyanya muncul atau diterbitkan sangat potensial dijadikan wahana komunikasi sekaligus diseminasi karya bagi sesama guru.

Bukankah apabila yang dihasilkan mampu memberikan manfaat bagi orang lain adalah hal ideal yang kita harapkan? Lantas, mengapa bagi sebagian guru masih berpandangan menulis itu sulit? Tak jarang mengeluh dan berkata “saya tidak bisa menulis” atau “menulis itu sulit sekali”.

Bertalian dengan hal itu, meminjam kata bijak yang diungkapkan Mario Teguh “tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan membangun kesempatan untuk berhasil. Pernyataan tersebut apabila dikaitkan dengan berbagai sumber refrensi tentang menulis dapat diketahui bahwa memulai menulis berawal dari kemauan, banyak membaca, banyak belajar, berlatih, serta membuang jauh ketakutan kegagalan. Nah, dengan demikian yakinlah bahwa menulis tidak sulit dilakukan oleh guru. Sebenarnya bukan karena tidak bisa, tetapi belum mencoba, takut gagal, dianggap jelek, dan utamanya ialah tidak membiasakan dan melatih diri.

BACA JUGA  Book Shaming, Salah Satu Penyakit Kronis di Tengah Krisis Literasi

Oleh Karena itu, upaya menemukan dan membangun kesempatan untuk berhasil dalam menulis harus dimulai dari guru itu sendiri. Untuk mengubah pola pikirnya yang selama ini dari tidak bisa menulis menjadi bisa menulis. Sesungguhnya potensi menulisnya itu ada, tinggal bagaimana membangun kemauan tinggi merobohkan tembok bernama dalih yang cenderung mengkungkung untuk selalu berada pada zona nyaman selama ini.

Sesungguhnya jika seseorang berhasil memecahkan kendala dan hambatan dalam menulis, niscaya akan bersualah ia dengan segala kemungkinan berkaitan dengan kreativitas intelektual. Yang mampu disajikan dengan apik yang mengukuhkan eksistensinya yang terbiasa dekat dengan ilmu pengetahuan.

Mengikat Ilmu dengan Tulisan

Selain itu, bukankah guru merupakan produk perguruan tinggi yang mensyaratkan tugas akhir karya tulis sebagai salah satu kriteria kelulusan. Kita sebenarnya telah menyusun dan memaparkan gagasan, menyebarluaskan ilmu pengetahuan, atau hasil penelitian dalam bentuk laporan tertulis yang memenuhi kaidah dan etika keilmuan.

Jadi, sudah saatnya guru mulai aktif membangun tren positif menulis. Mewariskan karya tulis yang terus bisa digunakan oleh generasi masa depan hendaknya pula jadi pemacu semangat untuk menulis. Sebagaimana diungkapkan Sayyidina Ali r.a– sahabat Nabi Muhammad SAW yang mengatakan “Sejarah dan ilmu pengetahuan tidak akan pernah sampai pada generasi berikutnya tanpa ada tulisan. Ikatlah ilmu dengan tulisan”.

Pada akhirnya, sudilah kiranya guru mau mengikat ilmu dengan tulisan. Hal ini bisa dimulai dengan tulisan-tulisan ringan yang berkaitan dengan pengalaman pembelajaran di kelas maupun kejadian sehari-hari di sekolah, rumah, lingkungan sekitar, dan di mana pun. Mari berkarya dan berprestasi dengan menulis.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru