Tuntunan Islam dalam Mendidik Anak


0
4 shares

Ada sebuah pepatah yang menyatakan bahwa rakyat suatu bangsa adalah cerminan dari pemimpinya, pepatah lain mengatakan buah turun tak jauh dari pohonnya. Pepatah ini menunjukan bahwa perilaku dan sikap serta sifat atasan akan menurun kepada bawahanya, entah itu raja kepada rakyatnya, ataupun bapak kepada Anaknya.

Sekumpulan anak ketika kelak tumbuh menjadi dewasa akan membentuk suatu kelompok, kelompok ini bisa dinamakan masyarakat atau rakyat. anak yang berkualitas jelas akan menentukan peradaban suatu bangsa kelak. Untuk menghasilkan anak yang berkualitas, orang tua sudah harus berikhtiar dari mulai sebelum mengandung, sedang mengandung dan paska mengandung. oleh karenanya para orang tua harus mengetahui bagaimana tuntunan mendidik anak yang baik dan sesuai panduan Islam.

Kehadiran sang anak memang sangatlah dinanti-nantikan oleh para orang tua. Bahkan seringkali para orang tua mengungkapkan bahwa tidak lengkap rasanya kebahagian itu kalau tanpa kehadiran sang anak. Perlu diketahui pula bahwa anak merupakan suatu amanah yang dititipkan Allah SWT kepada para orang tua. Oleh karena itu, ia harus dijaga dan dirawat dengan baik. Menelantarkan anak sama saja artinya dengan menghianati amanah dari Allah SWT. Perlu diketahui bahwa Al-Qur’an menginformasikan setidaknya ada empat tipologi anak, yaitu sebagai berikut:

Pertama, anak sebagai perhiasan hidup (QS. Al-Kahf/ 18: 46). Dalam ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa anak adalah perhiasan hidup. Kita tentu mengetahui bahwa yang namanya perhiasan itu sangat indah dan tak jarang ia memalingkan manusia dari mengingat Allah SWT sehingga lalai dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.

Kedua, anak sebagai ujian (QS. Al-Anfal/ 8: 28). Kehadiran anak sebagai ujian bagi para orang tua. Sejatinya Allah SWT hendak menguji para orang tua, apakah dengan kehadiran sang anak menjadikan mereka semakin dekat kepada Allah SWT atau malah sebaliknya?

Baca Juga:  Apakah Agama Membolehkah Demonstrasi?

Ketiga, anak sebagai musuh (QS. At-Taghabun/ 64: 14). Di sisi lain anak juga bisa menjadi malapetaka bagi orang tua. Kadang-kadang anak dapat menjerumuskan orang tua untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Oleh sebab itulah anak dikatakan sebagai musuh.

Keempat, anak sebagai penyejuk hati (QS. Al-Furqan/ 25: 74). Tipologi anak yang seperti inilah yang menjadi dambaan setiap orang tua yaitu anak sebagai Qurrata a’yun (penyejuk hati orang tua).

Dari empat tipologi anak tersebut, tentu kita sangat menginginkan tipologi anak yang keempat yaitu anak yang Qurrata a’yun. Oleh sebab itu, perlu kita sadari bahwa kehadiran sang anak tidak semata-mata sebagai pelengkap atau sebagai perhiasan saja dalam sebuah keluarga, akan tetapi ada amanah besar dipundak orang tua, yaitu menjadikan mereka sebagai anak-anak yang Qurrata a’yun.

Jika para orang tua tidak bisa menjaga dan merawat anak dengan baik, maka boleh jadi anak akan menjelma sebagai musuh baginya. Na’udzubillah min dzalik.

Oleh karena itu, supaya menjadi anak yang Qurrata a’yun penting kiranya kita memperhatikan bagaimana Al-Qur’an berbicara tentang konsep pendidikan anak. Al-Qur’an menjadikan Luqman Al-Hakim sebagai role model  bagi para orang tua dalam mendidik anak.

Lukman Al-Hakim adalah salah seorang yang dianugerahkan hikmah oleh Allah SWT (QS. Luqman/ 31: 12). Al-Biqa’i dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hikmah adalah diperolehnya pengetahuan yang didukung oleh pengalaman yang benar dan dilandasi oleh ilmu.

Oleh sebab itu, seseorang tidak disebut “hakim” (penyandang hikmah) kecuali jika menyatu dalam dirinya ilmu dan pengalaman (M. Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Qur’an, 2013, hlm. 95).

Di antara model pendidikan yang diterapkan Luqman Al-Hakim terhadap anaknya dalam membentuk anak yang Qurrata a’yun adalah sebagai berikut:

Baca Juga:  4 Kondisi yang Menjadikan Kematian Menjadi Sebuah Kenikmatan

Pertama, pendidikan akidah (QS. Luqman/ 31: 13). Akidah adalah fondasi awal bagi setiap muslim. Ibarat sebuah bangunan jika ingin kokoh maka harus memiliki fondasi yang kuat. Itulah pentingnya menanamkan pendidikan akidah kepada anak sejak kecil supaya ia tumbuh besar menjadi pribadi yang kokoh dan tidak mudah terseret oleh arus perkembangan zaman.

Dengan demikian, anak tidak akan terjerumus dalam perilaku-perilaku menyimpang sebagaimana banyak yang terjadi saat ini, misalnya terjebak pada pergaulan bebas, zina, narkoba, tauran, dan lain sebagainya.

Kedua, pendidikan akhlak. Perkenalkan kepada anak kita tentang akhlak. Ajaran akhlak ini memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Bahkan Rasulullah SAW diutus pun untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Ajarkan kepada anak kita tentang akhlak terhadap orang tua (QS. Luqman/ 31: 14), akhlak terhadap sesama manusia (QS. An-Nisa’/ 4: 36), dan lain sebagainya. Dengan memiliki akhlak yang baik maka InsyaAllah anak akan terhindar dari perilaku-perilaku yang buruk.

Ketiga, pendidikan ibadah. Setelah menanamkan akidah dan mengajarkan akhlak yang baik kepada anak, ajarkan pula kepada anak tentang ibadah. Ajarkan dan anjurkan mereka untuk mendirikan shalat (QS. Luqman/ 31: 17).

Shalat adalah suatu ibadah yang sifatnya wajib dilaksanakan bagi setiap muslim. Oleh sebab itu, para orang tua hendaknya membiasakan anak untuk mengerjakan shalat sedari kecil. Salah satu keutamaan shalat adalah sebagai upaya preventif untuk mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar (QS. Al-Ankabut/ 29: 45).

Dengan demikian, anak yang tertib shalatnya maka InsyaAllah ia akan terhindar dari segala perbuatan yang buruk.

Keempat, pendidikan dakwah. Ajarkan anak-anak kita untuk menyampaikan dan mengajak manusia kepada kebaikan (QS. Luqman/ 31: 17). Dengan menjadi seorang penyeru kebaikan, sang anak tidak mungkin terdorong untuk berbuat keburukan sebab ia menyadari bahwa sebagai seorang penyeru kebaikan haruslah berakhlak yang baik. Dengan demikian, anak akan terhindar dari perilaku-perilaku yang menyimpang.

Baca Juga:  Apakah Hukum di Indonesia Thogut? (Bagian II-Habis)

Kelima, tanamkan dalam diri anak sifat tawadhu’ (Baca QS. Luqman/ 31 ayat 18-19). Tawadhu’ artinya rendah hati dan tidak sombong. Dengan memiliki sifat tawadhu’ anak akan terhindar dari sifat suka merendahkan orang lain, menganggap diri lebih dari orang lain, dan sebagainya.

Penting untuk kita ketahui bahwa pendekatan yang digunakan oleh Luqman Al-Hakim dalam mendidik anak adalah dengan rasa kasih sayang. Hal ini terlihat ketika Luqman Al-Hakim menyapa anaknya dengan panggilan “Yaa Bunayya” (QS. Luqman/ 31: 13). Kata “Yaa Bunayya” mengandung arti panggilan mesra dari seorang ayah kepada anaknya, sebagai isyarat bahwa mendidik anak hendaknya dilandasi dengan rasa kasih sayang dan penuh kelembutan.

Itulah lima kiat Luqman Al-Hakim dalam mendidik anaknya. Dengan menerapkan kelima hal tersebut dan dengan pendekatan penuh kasih sayang serta kelembutan dalam mendidik anak, InsyaAllah anak akan tumbuh besar menjadi anak yang Qurrata a’yun (penyejuk hati orang tua).


Like it? Share with your friends!

0
4 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka