Tuhanpun Berinisiatif Mencipta Perbedaan (Bagian V-Habis)


0
5 shares

Jika kita kembali kepada akar bahasa dari kata ini kita akan sampai pada kesimpulan yang sama karena at-taqwa berasal dari kata ¬al-wiqayah yang maknanya adalah tekun dan berusaha menjaga sesuatu dalam hal ini maksudnya adalah menjaga jiwa agar tidak tercemari oleh segala jenis kotoran dan memusatkan kekuatan pada hal-hal yang diridhoi oleh Allah.

Beberapa ulama’ menyebutkan tiga tingkatan pada takwa:

Menjaga diri dari siksa yang kekal dengan cara mendapatkan keyakinan-keyakinan yang benar

Menghindari semua dosa dan ini lebih umum dari meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan

Berusaha menahan diri dan sabar atas ajakan hati untuk melakukan sesuatu yang dapat menjauhkannya dari kebenaran dan ini adalah inti ketakwaan bahkan yang paling spesifik.

Beberapa Hadits Berkaitan dengan Takwa Dalam Nahjul Balaghah Imam Ali as. memberikan pernyataan yang indah dan fasih berkaitan dengan permasalahan takwa di mana permasalahan ini banyak disebutkan dalam khutbah beliau dan kata-katanya yang singkat.

Dalam sebagian ucapannya beliau as. mengumpulkan takwa dan dosa dan berkata:

ألا وإنّ الخطايا خيل شُمس حمل عليها أهلها وخلعت لجمها فتقحّمت بهم في النار ألا وإنّ التقوى مطايا ذلل حمل عليها أهلها وأعطوا أزمتها فأوردتهم الجنة

Sesungguhnya dosa seperti sekawanan kuda yang tidak taat yang dikendarai oleh penunggangnya dan terlepas tali kekangnya maka ia akan menceburkannya (si penunggang – red) ke dalam neraka, sedangkan takwa adalah seperti binatang tunggangan yang taat kepada penunggangnya maka ia akan membawanya ke surga

Berdasarkan penyerupaan yang disebutkan pada hadis ini, maka dapat dipahami bahwa takwa adalah kondisi penjagaan diri dan penguasaan syahwat, sedangkan tidak adanya ketakwaan merupakan penerimaan terhadap syahwat dan tidak adanya penguasaan terhadapnya.

Baca Juga:  Tuhanpun Berinisiatif Mencipta Perbedaan (Bagian I)

Pada tempat lain Imam Ali as. berkata:

اعلموا عباد الله أن التقوى دار حصن عزيز والفجور دار حصن ذليل لا يمنع أهله ولا يحرز من لجأ إليه ألا وبالتقوى تقطع حمة الخطايا

Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa takwa adalah rumah pertahanan yang kuat sedang kemaksiatan adalah rumah pertahanan yang rapuh yang tidak mampu melindungi orang yang mendiaminya dan tidak dapat menjaga orang yang berlindung kepadanya,ketahuilah bahwa hanya dengan ketakwaan kebatilah bisa terputus

Di tempat lain beliau as. juga menambahkan:

فاعتصموا بتقوى الله فإنّ لها حبلا وثيقا عروته ومعقلا منيعا ذروته

Berpegang teguhlah kepada takwa sesungguhnya pada ketakwaan terdapat tali yang kuat ikatanya dan benteng yang kokoh puncaknya

Melalui ungkapan-ungkapan dari Imam Ali as. di atas hakikat ketakwaan pun menjadi jelas. Yakni bahwa takwa adalah buah dari pohon keimanan dan untuk mendapatkan buah yang langka dan mahal ini maka landasan iman haruslah kokoh. Tentu taat dan menjauhi maksiat serta memperhatikan akhlak akan menjadikan ketakwaan kokoh di dalam jiwa dan hasilnya adalah munculnya cahaya keyakinan di dalam diri manusia.

Setiap kali cahaya takwa bertambah, bertambah pulalah cahaya keyakinan dan iman, oleh karenanya kita temukan dalam riwayat-riwayat Islam bahwa takwa itu derajatnya lebih tinggi dari iman dan lebih rendah dari yakin. Imam Ali bin Musa ar-Ridha as berkata:

الايمان فوق الاسلام بدرجة و التقوى فوق الايمان بدرجة و اليقين فوق التقوى بدرجة و ما قسم في الناس شيئ اقل من اليقين

Iman berada satu derajat di atas Islam sedang takwa berada satu derajat di atas iman dan yakin berada satu derajat di atas takwa dan tidak ada sesuatu pun bisa dibagi dalam diri manusia yang ukurannya lebih kecil dari yakin.

*Fairozi, Pengiat ISQH Nasional, sedang menyelesaikan studi magister di Pascasarjana UNUSIA Jakarta


Like it? Share with your friends!

0
5 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.