26.7 C
Jakarta

Tren Baru Aksi Terorisme yang Memanfaatkan Keluarga

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanTren Baru Aksi Terorisme yang Memanfaatkan Keluarga
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Tren terbaru dalam kegiatan terorisme sering melibatkan keluarga besar yang meliputi istri, anak, serta saudara. Perhatikan saja peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada Minggu, 13 Mei 2018. Kegiatan terorisme ini dilakukan oleh satu keluarga yang terdiri dari enam orang: seorang ayah, seorang ibu, dua anak laki-laki yang satunya berusia delapan belas tahun dan satunya lagi berusia enam belas tahun, beserta dua anak perempuan yang satu di antaranya berusia dua belas tahun dan satu yang lain berusia sembilan tahun.

Tren keluarga terorisme yang dinilai baru ini juga pernah terjadi pada para pelaku Bom Bali tahun 2002, yaitu Ali Ghufron, Amrozi, dan Ali Imron yang ketiganya adalah bersaudara. Bahkan, beberapa teroris yang lain seperti Baharuddin Latif menjadi mertua Noordin M. Top setelah ia menikahi anak perempuannya, Arina Rahma. Tercatat pula di luar negeri, bedasarkan Riset Komisi PBB, sembilan belas pembajak pesawat dalam kegiatan terorisme yang menyerang World Trade Center (WTC) di Kota New York Amerika Serikat adalah bersaudara.

Mungkin Anda bertanya, mengapa melibatkan keluarga dalam kejahatan terorisme ini? Sebegitu kompak satu keluarga berbondong-bondong melakukan kejahatan? Bukankah ini sangat membahayakan masa depan mereka? Seberapa penting pengaruh tren keluarga dalam kegiatan terorisme ini, sehingga menjadi tren yang cukup efektif dalam melakukan kejahatan berwajah terorisme? Keluarga merupakan orang yang paling dekat dan bahkan orang yang paling percaya dan mendukung apa yang dilakukan oleh sebagian dari anggota keluarganya. Meskipun salah, kadang ada keluarga yang masih membelanya. Begitulah bukti kekuatan keluarga dalam membela anggota keluarga yang lain!

Kepercayaan yang tinggi dan loyalitas yang besar suatu keluarga tidak menutup kemungkinan dimanfaatkan oleh para teroris untuk memudahkan segala urusan mereka. Tidak heran, jika Dita sebagai pimpinan keluarga mengajak istri dan empat anaknya untuk sama-sama menjadi teroris. Mereka memilih bergabung dengan organisasi teroris internasional Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Tentu, selama di Suriah keluarga Dita, baik istri dan anaknya, telah mengalami tahap radikalisasi. Maka, ketika kembali ke Indonesia, satu keluarga ini mudah melakukan bom bunuh diri sebagai dampak radikalisasi itu.

Anggota keluarga yang dimanfaatkan ini jelas mereka adalah korban. Mereka hanyalah teroris “ikut-ikutan”. Pada kasus yang sudah disinggung tadi istri dan anak-anak Dita adalah korban yang sejatinya mereka tidak tahu tentang bahaya terorisme. Namun, ketika mereka terdoktrin oleh Dita, lebih-lebih diajak untuk masuk dalam lingkungan teroris, istri dan anak-anaknya dengan sendirinya terpengaruh, sehingga otak mereka dicuci dan lupa menggunakan akal sehatnya untuk membedakan mana yang baik (ma’ruf) dan mana yang batil (munkar). Bahkan, sebab kuatnya doktrin itu istri dan empat anaknya meyakini bahwa terorisme adalah bagian dari ajaran agama yang dibenarkan.

Mungkin Anda masih ingat mantan narapidana teroris Ali Imron yang pernah menjadi pelaku Bom Bali I pada tahun 2002. Ali Imron dapat juga dikatakan sebagai teroris ikut-ikutan karena diajak kakaknya, Ali Ghufron. Tidak jauh berbeda, Dzokar Tsarnaev pelaku Bom Boston hanyalah teroris ikut-ikutan pula karena ia didoktrin kakaknya, Tamerlan Tzarnaev. Kedua pelaku kejahatan terorisme itu, Ali Imron dan Dzokar Tsarnaev, merupakan korban dari doktrin keluarganya yang terpapar terorisme. Mereka sangat mudah mengkonsumsi doktrin tersebut, tanpa mempertanyakan dan mendalaminya terlebih dahulu, karena mereka sudah terlanjur percaya terhadap segala keputusan keluarga dan mereka terlampau berbaik sangka bahwa apa yang diarahkan keluarganya tidak bakal menyesatkannya.

Dengan adanya unsur-unsur yang ada dalam keluarga seperti rasa percaya, rasa cinta kasih, dan rasa memiliki, ini semua akan sangat memudahkan pelaku teroris dalam perekrutan. Mereka dengan mudah mengajak keluarganya sendiri, meski mereka sadar ini semua akan menjerumuskan keluarganya sendiri, karena mereka telah dibutakan mata hatinya dan tertutup segala pendengarannya, sehingga yang ada dalam pikirannya adalah kepentingan yang sedang mereka kejar untuk dicapai. Dengan cara inilah, mereka akan semakin luas menyebarkan terorisme.

Selain itu, perekrutan pelaku teroris terhadap keluarganya sendiri adalah pilihan yang paling efektif dan aman dari pantauan aparat keamanan seperti Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sebab, perekrutan model keluarga termasuk dalam block recruitment, perekrutan terhadap kelompok yang sudah terbentuk sebelumnya. Sehingga, dengan cara inilah perekrutan ini berjalan dengan mulus dan benih-benih radikalisme dan terorisme semakin bertambah. Bahkan, segala hal yang dikhawatirkan itu dapat dihindari, seperti resistensi dan penghianatan.

Mudahnya perekrutan pelaku teroris terhadap keluarga sendiri disebabkan pula adanya tekanan sosial, kekhawatiran ditinggalkan, dan keinginan untuk terus menjaga relasi. Perhatikan saja anak-anak Dita yang terlibat dalam bom bunuh diri di Surabaya itu! Mereka sejatinya tidak mau terlibat dalam kejahatan terorisme. Dalam usia menginjak masa-masa tumbuh, mereka masih membutuhkan pendidikan yang baik dengan belajar di beberapa institusi. Namun, karena doktrin (atau bisa juga paksaan) orangtuanya anak-anak itu terpaksa mengikutinya, karena mereka takut ditinggalkan atau tidak diperlakukan sebagai anak.

Kekhawatiran semacam ini memang sulit untuk dihindari dalam perekrutan di dalam keluarga. Buktinya, banyak orang Indonesia yang bergabung menjadi militan ISIS adalah satu keluarga. Mereka pergi berbondong-bondong ke Suriah untuk berjuang bersama ISIS. Meski kemudian ada beberapa yang mendapat hidayah, bertobat, dan memilih kembali ke Indonesia. Saya sendiri punya rekan kerja (tanpa saya sebut namanya) yang pernah menjadi militan ISIS, tapi sekarang sudah kembali ke Indonesia setelah mereka sadar bahwa keputusan pergi ke Suriah dan meninggalkan tanah airnya adalah keputusan yang keliru. Mereka sadar telah terperangkap dalam tipu muslihat ISIS. Rekan kerja saya ini gabung dengan ISIS bersama keluarganya.

Melihat kenyataan tersebut, deradikalisasi yang dilakukan oleh pemerintah hendaknya lebih ditingkatkan. Kalau pada sebelumnya deradikalisasi dilakukan terhadap para pelaku teroris yang ditangkap, maka sekarang deradikalisasi hendaknya dilihat sebagai, jika meminjam istilah Musdah Mulia, “paket keluarga”. Ketika seorang ayah, misalkan, menjadi tersangka teroris, penanganannya juga harus menyasar kepada istri dan anak-anaknya dan mungkin saudara dekat yang teridentifikasi terpapar ideologi radikalisme dan terorisme.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru