Traveling Sambil Dapat Pahala


Judul Buku: My Trip My Ibadah
Penulis : M. Abdul Hakim
Penerbit: Republika
Terbit: 1, April 2018
Tebal: viii + 216 hlm
Isbn: 978-602-5734-03-8

Traveling memang merupakan salah satu kegiatan yang seru dan menyenangkan. Selain untuk melepas penat dari rutinitas yang padat, ternyata kegiatan satu ini juga bisa bernilai ibadah.
Lewat bukunya My Trip My Ibadah, M. Abdul Hakim mencoba menjadikan kegiatan traveling sebagai sarana ibadah guna mendapat pahala dari Allah Swt.

Pada bagian awal, kita akan dipaparkan tentang serba-serbi trip dari masa ke masa. Di mulai dari trip yang dilakukan oleh Nabi Adam as, yang bisa disebut oleh Abdul Hakim sebagai bapak trip dunia. Ini bukan lagi soal trip niaga, petulangan, dan refreshing. Nabi Adam as, telah memelopori trip rindu, sebuah perjalanan panjang untuk menemukan istrinya, Siti Hawa. Setelah bertahun-tahun masa pencarian, keduanya bertemu di sebuah tempat bernama Jabal Rahmah, bukit atau gunung kasih sayang. (Hlm 8).

Selanjutnya penulis membahas bangsa nomaden, yang merupakan bangsa pengembara alias penggemar trip. Hanya saja orientasinya berbeda. Mereka melakukan banyak trip, dari tempat satu ke tempat lain dengan tujuan kelangsungan hidup, bukan sekadar melancong apalagi ber-selfie ria seperti saat ini. Mereka tinggal di alam terbuka seperti hutan, tepian sungai, lembah, ataupun gua-gua. Pada waktu itu, alamlah yang memaksa mereka untuk berpindah-pindah. Banyak hal salah satunya faktor ketersediaan bahan pangan. Jika makanan habis, mereka akan berpindah ke tempat lain yang lebih banyak menyediakan bahan makanan. Begitu seterusnya. Selain faktor pangan, faktor lainnya adalah keselamatan dari ancaman binatang buas dan iklim. Model trip seperti ini berlangsung dalam waktu yang lama dan terus-menerus. Oleh karena itu, mereka tidak pernah memikirkan rumah sebagai tempat tinggal yang tetap. (Hlm 8-9).

Baca Juga:  Merapikan Pemikiran Bertrand Russell

Ada juga kisah perjalanan Imam Bukhari. Sejak remaja, ahli hadits ini telah melakukan trip panjang ke berbagai kota untuk menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi hadits. Di antara kota-kota yang pernah disinggahi, antara lain, Basrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Dari sejumlah kota-kota tersebut, Imam Bukhari bertemu dengan 80 ribu perawi dan berhasil mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun, tidak semua hadits yang dihafal kemudian diriwayatkan, melainkan diseleksi dahulu dengan sangat ketat, khususnya dari segi matan dan sanad hadits. Hasil perjalanan selama lebih kurang 16 tahun terbayar memuaskan. Kitab-kitab hadits pun lahir. (Hlm 10).

Agar kegiatan traveling bernilai ibadah dan mendapat pahala, Abdul Hakim menjelaskan pentingnya sebuah niat. Niat tidak sebatas identitas amal saja. Namun lebih dari itu, tanpa disadari, dengan niat yang berbeda, sebuah perbuatan akan mempunyai nilai dan kualitas yang berbeda. Dengan niat juga kita bisa menggandakan pahala. (Hlm 17).

Itulah pentingnya niat. Bahkan saking pentingnya, sampai-sampai dikatakan bahwa niat seorang mukmin itu lebih baik dari perbuatannya. Alasannya pun beragam. Pertama, Imam Baihaqi mengatakan dalam kitabnya asy-Syi’b, niat tanpa perbuatan merupakan bentuk ketaatan, sedangkan perbuatan tanpa amal tidak bisa dikatakan sebagai ketaatan.

Kedua, seorang mukmin yang berniat dengan aneka bentuk kebaikan diluar kemampuannya, akan menuai pahala meski tidak mengerjakan. Ketiga, niat adalah ruh amal sedangkan amal berpahala dengan perantara badan. Dari itulah kebaikan dan keburukan amal mengikuti kebaikan dan keburukan niat. Keempat, niat terbebas dari sifat riya’, sedangkan dalam amal sering kali tercampur dengan riya’, ujub, atau sum’ah. Niat bisa dibilang poros ibadah. Gara-gara niat saja amal bisa berganti status. Dari sah menjadi batal atau sebaliknya. Bisa bernilai haram atau wajib, sunah atau makruh. (Hlm 23).

Baca Juga:  Belajar Mencintai Bangsa dari Yudi Latif

Buku ini sangat asyik untuk dibaca dan diselami, tidak hanya untuk para pelancong tetapi juga masyarakat umum. Bahasanya yang renyah dan mudah dipahami, membuat buku ini enak dibaca dan terasa ringan.

  1. *Oleh: Toni Almunawar, esais.

Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.