30.5 C
Jakarta

Tragedi Kanjuruhan; Fanatik pada Bola Itu Celaka, Bagaimana dengan Fanatik pada Agama?

Artikel Trending

Milenial IslamTragedi Kanjuruhan; Fanatik pada Bola Itu Celaka, Bagaimana dengan Fanatik pada Agama?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Duka cita yang sangat mendalam terhadap tragedi Kanjuruhan yang menewaskan lebih dari 150 orang. Kejadian memilukan sekaligus memalukan tersebut tidak hanya merugikan keluarga korban, melainkan juga mengubah citra persepkbolaan Indonesia di mata dunia. Tercoreng sudah, seluruh dunia berbelasungkawa dengan menaruh bendera Indonesa berbalut simbol duka. Tragedi yang dipicu oleh gejolak fanatisme itu benar-benar harus banyak dijadikan pembelajaran.

Tim Investigasi Polri telah melakukan penyidikan. Selain itu, Tim Inspektorat Khusus (Irsus) Polri juga menemukan adanya dugaan pelanggaran kode etik oleh personel Polri. Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Dedi Prasetyo menyampaikan itu dalam konferensi pers di Mapolres Malang hari ini. Menurutnya, ada sebanyak 28 personel Polri yang diduga melakukan pelanggaran kode etik. Ini semakin membuat narasi bahwa polisi adalah dalang di balik tewasnya korban semakin kuat.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa berjanji akan mengusut tuntas tindakan berlebihan yang dilakukan prajurit. Setelah viral video sejumlah anggota TNI menendang suporter dan menganiayanya dengan pentungan, ia meminta masyarakat memberinya waktu untuk mengusut kekerasan tersebut hingga besok. Sorotan media memang fokus pada peran aparat dan tembakan gas air mata, bukan pada pemantik awal tragedi tersebut.

Namun di sini yang akan dibahas adalah mengenai pemantik awal. Bukankah pemicu tragedi Kanjuruhan adalah suporter yang tidak terima dengan hasil pertandingan? Kalah di kandang sendiri, bagi mereka, adalah soal harga diri, maka ketika tak lagi bisa memang, mereka berusaha menyerang para pemain lawan. Andai saja suporter Persebaya ikut nonton di stadion tersebut, mungkin kejadiannya akan lebih parah dan korbannya lebih banyak. Kunci utama, sebenarnya, ada di penonton itu sendiri.

Suporter Arema tidak bisa legowo. Mereka fanatis. Bola telah menjadikan otak mereka tumpul, akal sehat mereka mati. Fanatisme mereka atas Arema melebihi cintanya pada nyawa mereka sendiri—dan ini juga sesuai yel-yel mereka sebelum pertandingan. Maka pertanyaannya, jika fanatik pada bola sebegitu bahayanya hingga merenggut ratusan korban, bagaimana dengan fanatis pada agama? Berapa yang akan mati karena fanatisme tersebut?

Bahaya Laten Fanatisme

Fanatisme berasal dari kata Latin fanaticus, sebuah kata dengan arti yang mencakup kata ‘gila’. Jika Anda marah, Anda mungkin marah, atau, Anda mungkin bertindak gila. Fanatisme melibatkan kedua jenis kegilaan. Kemarahan pada mereka yang tidak sependapat dengan Anda, sampai-sampai ada keinginan untuk menghentikan atau bahkan mencelakainya? Itulah kegilaan, itulah fanatisme. Fanatisme melampaui eksklusivisme karena berhasrat menghancurkan lawan.

Fanatisme terjadi ketika seseorang tidak mau atau tidak mampu menerima sudut pandang yang berbeda. Dalam konteks bola, fanatisme mengejawantah sebagai hilangnya sportivitas, baik dengan cara menyogok panpel dan klub lawan agar mengalah, atau dengan cara membuat mereka cedera melalui serangan fisik dan psikis. Pada tragedi Kanjuruhan, berupa upaya melempari pemain Persebaya dengan batu, para suporter fanatis Arema berusaha menyerang fisik dan psikis sekaligus. Naif.

Fanatisme menghilangkan akal sehat. Karena itu, ia jelas berbeda dengan loyalitas. Loyalitas mewariskan sifat sportif, kesatria, menerima segala hasil baik kalah maupun menang. Tidak ada usaha menghancurkan lawan dan hanya bermusuhan di dalam pertandingan belaka. Itu dalam konteks bola. Sementara dalam konteks agama, fanatisme melahirkan upaya-upaya destruktif; gairah menghancurkan siapa pun yang berbeda dengan cara serangan ekstrem hingga terorisme.

BACA JUGA  Rezim Masjid (III): Menjaga Marwah Islam dan Mengembalikan Fungsi Masjid

Fanatik dalam beragama tidak sama dengan loyalitas atau sikap konsekuen. Setiap pemeluk agama pasti loyal dengan agamanya, tetapi loyalitas tersebut tidak menegasikan keterbukaan terhadap yang lain. Loyalitas melahirkan sikap toleran dan inklusif, sementara fanatik melahirkan intoleransi dan eksklusif. Kawin silang mental intoleran dengan sikap eksklusif itulah kemudian yang menjelma aksi-aksi radikal dan teror. Bahaya fanatik dan fanatisme bersifat laten—tidak bisa disangkal.

Tugas Indonesia

Lalu bagaimana fanatisme harus disikapi? Harus diakui bahwa sejak dulu, kita dicetak dalam dualitas berpikir; menang atau kalah. Di sekolah, guru dan orang tua menuntut kita jadi juara; berada di ranking teratas, kompetitif demi masa depan yang dianggap menjanjikan. Peserta didik yang dianggap kurang cerdas sering kali teralienasi, bahkan dianggap tidak punya masa depan. Kita dituntut untuk tidak pernah kalah dan tidak menolerir kekalahan, bahkan melakukan apa pun demi kemenangan kendati dengan cara yang curang.

Itulah PR besar yang ada di hadapan kita semua. Kita kurang diajari tentang bagaimana kekalahan dan kemenangan adalah dua sisi koin yang sama. Tidak ada yang bisa menerima satu dan menolak yang lainnya. Siapa pun yang siap menang, maka ia juga mesti bersiap untuk kalah. Kekalahan bukanlah akhir, justru titik tolak menuju kemenangan. Hanya dengan cara itu, dengan mindset demikian, masyarat Indonesia tidak bermental pemusnah dan tidak fanatik.

Sama halnya dengan fanatik pada bola yang membawa celaka, fanatik pada agama juga membawa malapetaka. Orang yang fanatis akan membawa agamanya ke ruang tersempit yang tidak lagi memungkinkan untuk menerima yang lain. Misal, hanya karena pemimpinnya non-Muslim, mereka merasa tertindas. Hanya karena dunia didominasi Barat yang non-Islam, umat Muslim yang fanatik langsung merasa tersudutkan dan berusaha melawan.

Anehnya, perlawanan tersebut dekonstruktif. Dalam konteks tragedi Kanjuruhan, perlawanan menghadapi kekalahan tidak ditempuh dengan cara mendukung Arema memperbaiki performa agar menang pada pertandingan selanjutnya, melainkan dengan menyerang pemain Persebaya. Itu setali tiga uang dengan para ekstremis yang merasa kalah secara peradaban dengan Barat. Alih-laih berusaha mengejar ketertinggalan, mereka memilih jalan pintas sebagai teroris.

Tragedi Kanjuruhan merupakan bukti konkret bahwa fanatik pada bola itu celaka. Sama bahayanya juga fanatik pada agama. Keduanya tidak berbeda, sama-sama melahirkan aksi radikal dan menebaran teror. Meskipun tragedi Kanjuruhan banyak memakan korban karena gas air mata, pemantik awalnya tetaplah fanatisme itu sendiri. Andai fanatik pada bola itu tak ada, tragedi tersebut tidak akan terjadi. Sama halnya, andai fanatik pada agama itu tak ada, maka terorisme juga tidak akan pernah terjadi. Tugas Indonesia adalah menanggulangi fanatisme.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru