25 C
Jakarta

Tradisi Pesantren: Teladan Pendidikan Karakter

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) setiap tanggal 22 Oktober menjadi momentum menegaskan dan merefleksikan peran penting kalangan pesantren bagi perjalanan bangsa ini. Kita tahu, peran pesantren bagi bangsa ini sudah tak diragukan lagi. Mulai peran penting para kiai dan kalangan pesantren dalam menginisiasi gerakan melawan pemerintahan kolonial di era perang kemerdekaan, hingga peran sosial kemasyarakatan pesantren dalam hal pendidikan hingga dakwah. Semua itu menjadikan pesantren sebagai bagian penting yang tak terpisahkan dalam sejarah perjalanan bangsa dan perkembangan masyarakat kita.

Kini, pesantren dan kalangan santri semakin diakui. Setelah tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional yang menegaskan pengakuan negara atas sumbangsih kaum santri bagi republik ini, tahun 2019 lalu lahir Undang-Undang Pesantren. Pada Selasa (24/9/2019), DPR RI mengesahkan Rancangan Undang-undang tentang Pesantren menjadi undang-undang. UU Pesantren dibuat sebagai apresiasi atas keberadaan pesantren dan penguatan santri dalam hal dakwah dan pemberdayaan masyarakat (Kompas.com, 24/9/2019).

Keistimewaan Pendidikan Pesantren

Disahkannya UU Pesantren menjadi bentuk pengakuan negara akan legitimasi peran penting pesantren di masyarakat. Masyarakat, terutama kalangan pesantren bersyukur atas disahkannya UU tersebut. Diharapkan, UU Pesantren bisa memberi independensi pesantren terkait kekhasan dan coraknya dalam fungsi kemasyarakatan, kedakwahan, dan pendidikan. Dengan disahkannya UU Pesantren, diharapkan eksistensi pesantren semakin kuat, terus berkembang, dan terus memberi kemanfaatan bagi masyarakat secara luas.

Kita tahu, pesantren tak sekadar berfungsi sebagai lembaga pendidikan ajaran Islam. Selama ini, pesantren juga berperan sebagai lembaga dakwah. Tak berhenti di sana, pesantren juga telah terbukti menjadi lembaga yang berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat. Tiga fungsi dan peranan pesantren tersebut mesti terus diperkuat, sehingga pesantren akan terus menjadi sumber terciptanya kehidupan masyarakat yang memegang teguh ajaran agama, sekaligus memiliki kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan dan kebersamaan.

Pesantren dengan segala ciri khasnya, telah menjadi bagian dari khazanah kekayaan budaya dan pendidikan di Indonesia. Peran penting pesantren dalam melahirkan para ulama, kiai, pemimpin, serta tokoh-tokoh berpengaruh yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus komitmen kebangsaan, telah menegaskan betapa pesantren telah berperan besar bagi perkembangan kehidupan bangsa ini. Oleh karena itu, kesuksesan pesantren bisa menjadi inspirasi, panutan, atau role model dalam pendidikan karakter bangsa.

Menurut Abdul Azis (2016: 282-283), ini bisa dilihat dari tiga hal. Pertama, pendidikan karakter pesantren terbukti mampu meningkatkan pemahaman peserta didik atau santri terhadap proses belajar yang mencakup perkembangan kognitif sekaligus afektif dan psikomotorik, sebab proses interaksi 24 jam dan terpantau oleh tenaga pendidik. Kedua, penanaman nilai-nilai moral atau pendidikan karakter di pesantren tak hanya dilakukan dengan metode lecturing atau perkuliahan saja, namun melibatkan proses dialektis melalui pembahasan kitab-kitab klasik dan dengan menganalisis perkembangan problem yang terjadi di masyarakat. Ketiga, proses pendidikan karakter juga dapat diarahkan untuk menganalis dan menemukan sendiri (self discovery) nilai-nilai yang perlu dijaga dengan meresapi nilai-nilai kearifan lokal yang ada di masyarakat atau lingkungan sekitar pesantren.

Keagamaan dan Kebangsaan

Tiga hal tersebut menggambarkan bagaimana tradisi pesantren memiliki keunggulan dalam proses pembentukan karakter santri atau anak didik. Lewat kepemimpinan kiai, metode pembelajaran yang khas, hingga akhlak, adab, dan nilai-nilai yang dijaga dalam pendidikan pesantren, santri digembleng sehingga benar-benar memiliki kedalaman ilmu agama, sekaligus di saat bersamaan memiliki kesadaran kebangsaan (nasionalisme).

Terkait kedalaman ilmu agama, ini bersumber para kiai pengasuh pesantren yang alim, yang memiliki silsilah (sanad) keilmuan yang jelas. Kejelasan sanad keilmuan kiai ini penting, sebab itu membuat ajaran agama bisa disampaikan dengan tepat dan bijak kepada para santri. Dari sana, pemahaman agama yang luas, mendalam, komprehensif, juga bercorak ramah, toleran, dan damai didapatkan para santri.

Di tengah fenomena yang saat ini banyak terjadi, di mana banyak orang belajar agama secara instan lewat internet atau media sosial, atau melalui para ustadz yang belum memiliki kedalaman ilmu agama namun terkenal di media sosial, pesantren mengingatkan kita pentingnya memilih guru agama atau kiai yang benar-benar alim dan punya sanad keilmuan yang jelas. Kiat tahu, selama ini pemahaman agama yang didapat secara instan cenderung kering makna, hikmah, dan kearifan, sehingga berisiko tinggi menghasilkan sikap-sikap beragama yang eksklusif, bahkan intoleran dan radikal.

Selain kedalaman ilmu agama, pesantren juga menjadi tempat tumbuhnya benih-benih nasionalisme. Dalam sejarah, komitmen kiai pesantren dalam membela Tanah Air tak diragukan lagi. Pesantren di masa penjajahan menjalankan peran sebagai basis perjuangan. Zaman terus bergerak dan pesantren terus merawat komitmen kebangsaanya. Kiai dan santri berdiri di barisan terdepan dalam menjaga NKRI dan Pancasila dari berbagai ancaman, seperti berkembangnya ideologi radikal dan gerakan-gerakan pemecah belah bangsa.

Tradisi pesantren menyimpan nilai-nilai pendidikan karakter yang bisa menjadi inspirasi tentang bagaimana menempa dan membentuk generasi bangsa yang kuat secara keilmuan, keagamaan, sekaligus komitmen kebangsaan. Kini, dengan semakin kuatnya eksistensi pesantren ditandai adanya Hari Santri Nasional serta UU Pesantren, diharapkan pesantren terus berkembang menjadi pusat pendidikan, keagamaan, sekaligus kebangsaan, sehingga menjadi pembangun peradaban di masyarakat.

Oleh: Al-Mahfud

Penulis, adalah Lulusan STAIN Kudus, dan Menulis Artikel, Esai, dan Ulasan Buku di Berbagai Media Massa.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Permohonan Maaf Habib Rizieq Bukti Revolusi Akhlak?

Kelihatannya memang benar, meski tak sepenuhnya setuju, bahwa kedatangan Habib Rizieq, sosok yang disebut sebagai Imam Besar ini, tidak lain sebagai salah satu faktor...

Revolusi Akhlak Butuh Wali Mursyid Bukan Imam Besar

Pidato Rizieq Shihab pada acara Reuni Aksi Bela Islam 212 kemarin, terlihat daya juang Rizieq Shihab mulai melemah. Dari suaranya, seperti orang sedang sakit....

Tidak Ada Toleransi Bagi Teroris

Harakatuna.com. Jakarta - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menegaskan tidak ada toleransi bagi teroris di Poso, Sulawesi Tengah, yang dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur...

Hukum Mengakses Wifi Tanpa Izin, Haramkah?

Di zaman serba canggih ini, kebutuhan akan akses internet sangat meningkat. Akses internet telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi layaknya kebutuhan sandang, papan...

Kampus Harus Berani Suarakan Kewaspadaan Penyebaran Paham Radikal

Harakatuna.com. Medan – Perguruan tinggi dengan para akademisinya aktif menyuarakan kewaspadaan penyebaran paham radikal intoleran serta memberikan pembelajaran literasi digital kepada mahasiswa dan generasi...

Melihat Poros Radikalisme di Tubuh Pendidikan dan Tafsir Remoderasinya

Bukan barang aneh dan baru di tubuh pendidikan tercemari paham radikalisme. Keterlibatan dan bersemayam paham radikal sudah lama dan nampaknya seolah menjadi model di...

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...