28.2 C
Jakarta

Tradisi Bubur Asyura, Bid’ahkah?

Artikel Trending

Asas-asas IslamFikih IslamTradisi Bubur Asyura, Bid’ahkah?
image_pdfDownload PDF

Salah satu perkara yang telah menjadi tradisi dalam masyarakat kita di hari Asyura adanya “BBA/B2A” (Bubur Asyura). lantas BBA ini bid’ahkah? Menjawab pertanyaan ini, penulis mencoba menghimpun beberapa kutipan dari berbagai sumber untuk mengulas fenomena ini, dalam catatan sejarah disebutkaan bhawa bubur ini berawal dari perjuangan Nabi Muhammad SAW saat berjuang dalam perang Badar. Kala itu, disebutkan bahwa seorang sahabat Nabi sedang mengolah hidangan untuk para prajurit Islam.

Hidangan tersebut ternyata olahan bubur. Namun, ia tidak menyangka bahwa jumlah prajurit pada saat itu sangat banyak, sementara porsi yang sedang dimasak sedikit. Nabi Muhammad SAW kemudian memerintah salah seorang sahabat untuk mengumpulkan semua bahan makanan yang mereka temukan, lalu dicampurkan ke dalam olahan bubur yang sedang dimasak.

Tujuannya adalah untuk menambah jumlah porsi makanan, sehingga cukup untuk memberi makan seluruh prajurit. Meski belum diketahui kebenarannya, kisah ini cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan telah dijadikan tradisi khusus untuk menyambut perayaan Muharram.

Bubur Asyura Sudah Ada Sejak Zaman Nabi Nuh

Berkaitan dengan BBA ini, ada juga kisah yang menyebutkan bahwa Bubur Asyura sudah ada sejak masa Nabi Nuh AS. Pada saat itu, Nabi Nuh turun dari kapalnya setelah diterpa banjir bandang yang hebat dan terombang-ambing di air selama berbulan-bulan. Ketika menyentuh daratan, ia memerintahkan umatnya untuk mengumpulkan bahan makanan yang tersisa dari dalam kapal. Bahan makanan tersebut kemudian dicampurkan menjadi satu dan diaduk-aduk hingga menyerupai olahan bubur. Alhasil, bubur inilah yang disajikan untuk umat yang selamat dari banjir bandang agar bisa bertahan hidup.

BACA JUGA  Hukum Baca Qunut di Separuh Terakhir Ramadhan

Dalam kitab Nihayatut Zain di sebutkan bahwa telah diceritakan bahwa nabi Nuh as ketika kapalnya bersandar pada tanggal 10 Muharram, beliau berkata pada semua orang yang bersamanya ” Kumpulkanlah apapun yang tersisa dari perbekalan kalian ” kemudian ada yang membawa segenggam kacang, beras, gandum, biji ‘adas dan lainnya,  kemudian Nabi Nuh as berkata ” masuklah semuanya, Kalian telah bergembira dengan keselamatan yang diperoleh ” maka dari itu para muslimin mengambil biji-bijian untuk dimasak dan pada hari itu adalah hari pertama memasak di bumi setelah terjadi banjir bandang yang menjadi adat bagi umat islam setiap datangnya bulan muharram tepatnya tanggal 10 muharram atau disebut ‘Asyura’ .atau hari ‘Asyura ( kitab Nihayatut Zain juz 1 h.. 196 )

Beranjak dari itu, era millennial seperti saat ini, kita tidak boleh memvonis tanpa tabayun kepada ahlinya terhadap sebuah masalah dengan slogan dan label bid’ah bahkan “pelaku bid;ah masuk neraka” dan sebagainya termasuk dengan bubur Asyura ini. Jelaslah berdasarkan penjelasan di atas, bubur Asyura ada dasar pijakannya dan ini salah satu hal yang dianjurkan untuk kita teladani. Mereka yang tidak setuju tidak harus memvonis dengan bid’ah cukup disimpan di hati saja, benarkan bro?

Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen dan Ketua PC Ansor Pidie Jaya, Aceh.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru