Toleran dan Intoleransi


Foto: Harakatuna

Katanya ada umat beragama yang toleran dan ada yang intoleran. Banyak orang-orang yang sedang gembar-gembor mendukung toleransi antar agama. Banyak juga orang-orang yang melarang orang-orang dengan agama sesamanya untuk tidak mengucapkan selamat ketika hari raya umat agama lain, contohnya perayaan natal. Sebenarnya siapa yang benar? Karena keduanya punya alasan.

Orang-orang yang berteriak lantang melarang ucapan natal atau menghentikan perayaan tahun baru disebut intoleran. Sebenarnya mereka pun berlandasan dari ayat-ayat Quran dan Hadist yang memang melarang muslim untuk mengucapkan dan merayakan hari raya umat agama lain. Apapun alasannnya, menghargai lah, ikut senang lah, atau apapun, aturan adalah aturan, itu mutlak. Jika anda termasuk umat beragama, beragama lah dengan taat dan tidak cherry picking, yang artinya pilih pilih mana aturan yang diikuti mana yang tidak, hanya karena alasan personal.

Orang-orang yang mengucapkan natal kepada teman dan kerabatnya pun mempunyai alasan yang baik, yaitu saling menghargai. Perbedaan tidak seharusnya membuat manusia dibeda-bedakan. Itu yang mungkin menjadi cara pandang orang-orang yang disebut umat beragama yang bertoleransi ini.

Tetapi anehnya di kasus seperti ini, yang dijadikan objek pembicaraan selalu “orang-orang”, “Dia orangnya intoleran” lah, atau “dia orang toleran” lah. Sebenarnya apa yang membuat mereka toleran dan intoleran? Semua pasti ada sebab dan latar belakangnya.

INTOLERAN

Orang muslim yang diberi label intoleran ini sebenarnya berlandasan ayat-ayat seperti:
“Hamba-hamba Allah yang Maha belas kasih sayang, yaitu orang-orang yang tidak mau menghadiri atau menyaksikan upacara agama kaum musyrik (Az-zuur). Jika mereka melewati tempat yang sedang digunakan untuk upacara agama oleh kaum musyrik, mereka segera berlalu dengan sikap baik” (QS. Al-Furqon, 72).
“Jangan dekati orang-orang kafir pada hari raya-hari raya mereka” (Sunan Al-Baihaqi 9/234), dan Kanzul amal 1/405).
“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat) .” (HR. Muslim no. 2167).
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orangyang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama- lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja .” (Qs. Al Mumtahanah: 4).
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka .” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Selain kasus larangan muslim mengucapkan selamat kepada non-muslim yang sedang merayakan hari raya nya, banyak pula kasus yang membuat orang-orang yang berlandasan ayat-ayat Quran dan Hadits ini diberi label intoleran, contoh ayat-ayatnya:
Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah 2:191).
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At-Taubah 9:73).
Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah Api biasa (cukup untuk menyiksa orang-orang yang tidak beriman),” Rasulullah berkata, “Api neraka lebih panas 69 kali dari pada api biasa (duniawi), masing-masing bagiannya seperti panas seperti api (duniawi). ” (HR Sahih Bukhari 54:487).
Dan masih banyak ayat-ayat Quran dan Hadits lainnya yang menjadi latar belakang kebencian muslim terhadap non-muslim.
TOLERANSI
Sedangkan “muslim toleran” selalu menjunjung tinggi toleransi antar agama. Tidak sedikit pula umat muslim yang merayakan natal bersama umat kristen, contohnya di Palestine. Hal seperti ini banyak didukung umat muslim Indonesia khususnya anak muda yang haus akan kedamaian beragama. Alasan mereka? Karena setiap manusia, sebenarnya menginginkan kedamaian, penghargaan untuk satu sama lain, terlepas apa yang mereka percayai dan apa yang kepercayaannya ajarkan. Itu lah harapan setiap manusia.
Tetapi sebenarnya siapa yang toleran dan intoleran jika sebnarnya banyak sekali ayat-ayat yang membuat orang-orang menjadi “intoleran”? Terlepas itu kebenaran atau bukan, penafsirannya salah atau pun benar, yang pasti ayat-ayat tersebut menjadi sumber utama mengapa kita banyak menemui orang-orang yang membenci sesama manusia yang berkeyakinan berbeda. Apa benar manusia yang intoleran? Atau kah sumbernya?
Jika anda mempercayai sesuatu, bukankah seharusnya anda tidak pilih-pilih mana yang harus dijalankan, mana yang tidak? Anehnya masih banyak umat muslim yang menolak ajaran-ajaran islam secara tidak langsung (seperti larangan mengucapkan natal), tetapi marah ketika agamanya dipertanyakan. Masih pacaran, mendengarkan musik, menikmati hal-hal yang “kafir”. Jadi apakah sebenarnya setiap manusia haus akan cinta yang sebenarnya? Kedamaian yang sebanarnya? Dunia tanpa perbedaan keyakinan yang mengakibatkan permusuhan?
Setiap manusia hanya ingin mencintai dan dicintai. Kita tidak pernah memilih untuk menjadi apa dan siapa. Tetapi jika anda memilih untuk mempercayai sebuah ajaran, percayai lah semua yang diajarkan, jangan memilah-milih. Jika anda memilih untuk hanya mengambil yang baik dan tidak mengambil ajaran yang tidak baik, anda sebenarnya tidak percaya terhadap ajarannya. Anda percaya terhadap hati nurani. Akuilah.

Baca Juga:  Sujud Sebagai Simbol Bersyukur

Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.