27.9 C
Jakarta

Tingkatan Iman dan Perumpamaannya Menurut Imam Al-Ghazali

Artikel Trending

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Daftar Daerah yang Tegas Menolak Kehadiran Rizieq Shihab dan FPI

Gelombang penolakan atas keberadaan organisasi Front Pembela Islam menjalar kemana-mana, utamanya pasca kedatangan Rizieq Shihab ke Indonesia dari pelariannya atas kasus hukum yang menimpa....

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baleho. Suasana damai tenan, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Iman adalah meyakini suatu kebenaran dengan hati dan mengikrarkannya melalui lisan. Seseorang tidak bisa dikatakan beriman (baca: mukmin) sebelum meyakini akan kebenaran rukun iman yang enam; iman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para utusan-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadla’ dan qadar-Nya. Tulisan ini akan membahas tingkatan iman menurut al-Ghazali.

Hal ini sejalan dengan sabda nabi ketika ditanya tentang iman:

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»

“Seseorang berkata: beritahukanlah aku tentang iman. Kemudian Rasululullah menjawab: (iman) adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para utusan-Nya, (beriman) kepada hari akhir, dan beriman kepada takdir; baik atau buruk”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Tingkatan imana seorang hamba tentu berbeda-beda sesuai kadar dan kualitas keimanannya. Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ Ulumiddin, menyebutkan ada tiga tingkatan iman seorang hamba:

  1. Keimanan orang awam. Yaitu keimanan yang didasarkan kepada taqlid
  2. Keimanan para teolog (mutakallimin). Yaitu keimanan yang disertai semacam argumentasi (istidlal).
  3. Keimanan para ‘arifin. Yaitu keimanan yang dapat disaksikan dengan cahaya keyakinan.

Untuk memperjelas tingkat keimanan ini, al-Ghazali memberikan suatu perumpamaan yang menarik. Al-Ghazali menganalogikannya dengan adanya suatu informasi “Zaid berada di dalam rumah”. Kebenaran informasi ini juga memiliki tiga tingkatan.

Tingkatan pertama, ketika ada kabar dari seseorang yang dikenal jujur dan tidak pernah berbohong terkait dengan keberadaan Zaid dalam rumah, maka kabar itu langsung dipercayai hanya dengan mendengar semata tanpa melihatnya secara langsung. Inilah perumpamaan keimanan orang awam.

Hal ini sama seperti seseorang yang sudah sampai usia tamyiz ketika ia mendengar berita dari kedua orang tua dan guru-gurunya akan keberadaan Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan diutusnya seorang rasul serta kebenaran ajaran yang dibawanya. Dengan semata mendengar, ia langsung mempercayainya karena berita yang disampaikan oleh kedua orang tua dan guru-gurunya itu sudah ia yakini sebagai suatu kebenaran.

Ia beriman hanya karena ikut-ikutan kepada keluarga dan lingkungannya. Keimanan seperti ini sudah dianggap cukup sebagai bekal keselamatannya di akhirat nanti. Namun keimanan seperti ini masih ada kemungkinan salah.

Tingkatan kedua, ketika seseorang mendengar informasi keberadaan Zaid berada di dalam rumah, ia mencari-cari argumen tentang kebenaran informasi itu. Mulailah ia berargumen melalui terdengarnya suara Zaid di dalam rumah. Akan tetapi suara itu terdengar di balik tembok tanpa bisa melihat sosoknya secara langsung. Dengan adanya suara itu, ia akan berargumen bahwa di dalam rumah itu memang ada Zaid. Kebenaran informasi adanya Zaid di dalam rumah tentu lebih kuat tingkatannya dibandingkan tingkatan yang pertama.

Namun di sini juga tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan. Karena bisa saja suara itu adalah suara seseorang yang mirip dengan suaranya Zaid. Ini adalah perumpamaan keimanan para teolog (Mutakallimin). Mereka memiliki argumen tentang kebenaran yang diyakininya namun tidak dapat memastikannya secara langsung.

Tingkatan ketiga, informasi keberadaan Zaid di dalam rumah dibuktikan dengan memasuki rumah itu dan melihatnya secara langsung dengan mata kepala sendiri. Ini adalah kebenaran pengetahuan yang sesungguhnya. Tentu Pengetahuan semacam ini memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu tidak adanya kemungkinan salah dalam kebenaran informasi yang diperoleh, karena sudah dapat menyaksikannya secara langsung. Berbeda dengan dua tingkatan pengetahuan sebelumnya yang berkemungkinan salah.

Inilah perumpamaan keimanan para ‘arifin (orang-orang yang dapat mengetahui Tuhan dengan cahaya keyakinan). Namun pengetahuan mereka bisa berbeda-beda sesuai tingkatan kasyaf-nya. Ada yang melihat Tuhannya dari dekat. Ada pula yang melihat Tuhannya dari jarak yang jauh.

Inilah tingkat keimanan seorang hamba serta perumpamaannya menurut rumusan Imam al-Ghazali. Semoga kita diberikan keimanan seperti keimanan orang-orang ‘arifin. Amin.

Hamim Maftuh Elmy, Mahasantri Mahad Aly Salafiyah Syafiiyah Situbondo

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muhammad Rizieq Shihab, Quraish Shihab, dan Habib Lutfi

Muhammad Rizieq Shihab semakin viral. Sejak kembalinya dari Arab Saudi, sampai penjemputan, perayaan Maulid Nabi, hingga perayaan nikah anaknya menjadi tilikan banyak orang. Bahkan...

Organisasi Mahasiswa Riau Gelar Aksi Tolak Radikalisme

harakatuna.com. Pekanbaru - Sebanyak 41 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dan organisasi mahasiswa Riau menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Riau, Senin (23/11/2020). Dalam aksi...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ulama Austria Minta Aparat Tak Kaitkan Terorisme dengan Agama

Harakatuna.com. WINA -- Saat rasialisme dan diskriminasi terhadap Muslim di Austria melonjak, ulama di negara Eropa memperingatkan pihak berwenang tidak mengaitkan terorisme dengan agama apa pun. Setelah...

Jangan Mudah Menuduh Orang Lain Dengan Sebutan Lonte

Kata lonte dalam tradisi masyarakat Indonesia adalah bermakna kasar. Yaitu bermakna sebagai pezina ataupun pelacur. Kata lonte ini kembali viral di media sosial karena...

Lumpuhkan Radikalisme, Munas MUI Usung Tema Islam Wasathiyah

Harakatuna.com. Jakarta - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin menyampaikan pidato dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-19 di Hotel Sultan,...

Munas MUI ke-X; Saatnya MUI Kembali ke Khittah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah melaksanakan pemilihan Ketua Umum MUI baru periode 2020-2025. Pemilihan dilaksanakan pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-10 di Hotel Sultan,...