27.6 C
Jakarta

Tidak Keliru Penamaan Jalan Mustafa Kemal Attaturk

Artikel Trending

AkhbarNasionalTidak Keliru Penamaan Jalan Mustafa Kemal Attaturk
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Jakarta-Ketua Prodi Kajian Terorisme SKSG UI, Muhamad Syauqillah menanggapi protes Ketua DPW PKS DKI Jakarta Khoirudin yang meminta pemerintah untuk mengkaji ulang mengenai pengajuan nama salah satu pemimpin Turki, Mustafa Kemal Attaturk di Jakarta karena kontroversial akan menyakiti hati umat Islam di Indonesia.

Menurut Syauqi, usulan Duta Besar Indonesia di Ankara Muhammad Iqbal tersebut tidak perlu disikapi secara reaktif, apalagi dengan narasi radikal. Pasalnya, langkah tersebut justru merupakan sesuatu yang penting kepentingan diplomasi.

“Penamaan merupakan bentuk hubungan resiprokal dalam konteks diplomasi kedua negara, di mana founding father Indonesia, Soekarno telah menjadi nama jalan di ibukota Turki, Ankara. Attaturk dalam bahasa Turki berarti bapak Turki, memiliki kesamaan peran historis dengan Sukarno dalam konteks perlawanan kolonialisme,” terangnya, Senin (18/10).

Selain itu, Syauqi menjelaskan, jika umat Islam di Indonesia memang banyak mengidolakan Recep Tayyip Erdogan, seharusnya usulan tersebut tidak perlu dirisaukan. Apalagi sampai menuai protes sejumlah pihak.

“Perlu diketahui bahwa Erdogan yang memiliki banyak simpatisan dan pengagum di Indonesia, adalah sosok yang mengagumi Mustafa Kemal Attaturk. Sering kali ditemukan dalam peresmian megaproyek AKP, foto Erdogan bersanding dengan Kemal Attaturk. Ada pandangan di Turki bahwa Erdogan adalah sosok yang mampu mentransformasikan ajaran Mustafa Kemal Attaturk di era modern saat ini,” tambahnya.

BACA JUGA  Densus 88 Tangkap Karyawan PT Kimia Farma Tbk dengan Dugaan Kasus Terorisme

Doktor lulusan Universitas Marmara Istanbul itu juga menegaskan, Kemal Attaturk adalah sosok yang berhasil menanamkan nilai-nilai persatuan, yang menjadikan Turki dapat melewati beberapa fase sulit dalam kesejarahannya, berbeda dengan dunia Arab lainnya yang mudah sekali terjadi perpecahan bahkan konflik internal.

“Nilai nasionalisme yang ditanamkan oleh Mustafa Kemal Attaturk dapat dinilai menyatukan Turki saat peristiwa Gezi Park 2013. Demo hampir sebulan penuh saat itu, banyak pengamat luar negeri menilai Turki akan terdampak Arab Spring dan memiliki nasib seperti beberapa negara tetangganya, mengalami konflik internal, nyatanya Turki tetap bersatu,” tuturnya.

Selain itu, menurut pria yang kini menjabat sebagai Ketua BPET MUI Pusat, masyarakat Indonesia harus banyak belajar mengenai nasionalisme kepada Turki yang notabene merupakan warisan Attaturk.

“Perlawanan percobaan kudeta 2016 juga dapat memperlihatkan betapa nasionalisme yang diwariskan oleh Kemal Attaturk mampu menggerakkan demonstran melawan percobaan kudeta, hanya dengan bekal bendera Turki,” pungkasnya.

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru