Thaifur Ali Wafa, Tokoh Tafsir Misoginis di Pulau Madura


0
194 shares
Thaifur Ali Wafa
Thaifur Ali Wafa

Bukan sesuatu yang baru saat ditanya asal saya dan dijawab dari Madura, seorang sopir mobil berkata ketus, “Sate.” Terma “sate” sudah memiliki makna tersendiri yang menggambarkan Madura di alam bawah sadar seseorang, padahal “sate” dan Madura memiliki makna yang berbeda.

Makna pragmatik terma “sate” mengingatkan beberapa terma yang dipahami di luar makna semantiknya. Sebut saja, terma “sex”. Begitu terma “sex” terdengar, yang terbayang adalah hubungan intim yang berkonotasi negatif. Makna pragmatik semacam ini tidak jauh berbeda saat menyebut Presiden Jokowi. Bagi Kampret, terma Jokowi bukan sebagai presiden Indonesia, tapi sebagai antek asing.

Ingat Madura, ingat sate. Seakan kedua terma yang berbeda memiliki makna yang sama. Padahal, sate bagian terkecil yang menggambarkan Madura yang amat luas. Madura juga dikenal sebagai serambi Madinah. Entahlah, mungkin melihat Madura termasuk pulau yang memiliki kemiripan dengan Madinah yang menjadi tempat Nabi Muhammad Saw. beserta sahabatnya berhijrah. Boleh jadi, Madinah dan Madura adalah dua tempat yang menerima Islam tanpa kepentingan politik, memegang kuat budaya, dan menghendaki sikap Islam yang ramah.

Karena fanatisme agama, Madura mempercayai pesantren sebagai media yang mampu memproduksi ulama sebagai penerus para nabi. Di sana lahir seorang ulama lokal yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan khazanah keilmuan di Indonesia. Dialah Kyai Thaifur, putra Kyai Ali Wafa, mursyid Tarikah Naqsabandiyah. Sebagai ulama lokal, semangat Thaifur tidak kalah bersaing dengan ulama nasional, semisal Quraish Shihab, pakar tafsir Indonesia. Thaifur dikenal sebagai ulama yang produktif, karena telah lahir dari tangannya 42 karya yang mayoritas dituangkan dalam bahasa Arab. Karya monumentalnya, tafsir Firdaus al-Naim.

Tafsir Firdaus al-Naim ditulis secara utuh lengkap 30 juz, dari surah al-Fatihah sampai surah an-Nas. Keunikan tafsir ini sedikit banyak terasa kesan pengaruh budaya lokalnya, kendati sedikit pun tidak terlihat respons tafsir terhadap isu global di Indonesia. Isu lokal yang terasa di Madura, antara lain, fanatisme agama, peran dan status perempuan, dan kekerasan atas nama agama. Saya tarik satu saja menyangkut peran dan status gender. Saat menafsirkan surah an-Nisa’ ayat 34, Thaifur melihat bahwa laki-laki lebih berhak menjadi pemimpin dibandingkan perempuan dalam rumah tangga. Karena, laki-laki yang memberikan nafkah istri dan laki-laki juga termasuk sosok yang dikaruniai kelebihan dibandingkan perempuan, seperti kelebihan akalnya, kesaksiannya, dan seterusnya. Sampai di sini penafsiran Thaifur terkesan misoginis, sehingga bila tafsir ini dihidangkan kepada kaum feminis akan terbantahkan.

Baca Juga:  Hikmah Isra Mi'raj Nabi Muhammad

Terbantahnya tafsir Thaifur disebabkan menyudutkan kaum perempuan karena faktor jenis kelamin (sex form), padahal Allah tidak melihat manusia, laki-laki dan perempuan, sebatas jenis kelamin, melainkan atas kualitas ketakwaan masing-masing. (Qs. al-Hujurat/49: 13). Ketakwaan ini tidak menyentuh medan sex, namun medan gender. Gender lebih melihat perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari perbedaan budaya dan moral. Sex sifatnya adalah sesuatu yang kodrati, tidak bisa diubah, sementara gender sifatnya bisa berubah dan berkembang.

Saya berasumsi bahwa tafsir misoginis Thaifur Ali Wafa ini dipengaruhi budaya patriarki masyarakat Madura yang melihat laki-laki sebagai sosok superior dan perempuan sebagai sosok imperior. Buktinya, tidak hanya satu dua tiga perempuan Madura yang diperlakukan secara berbeda dibandingkan laki-laki. Laki-laki diperbolehkan menentukan calon masa depannya sendiri, sementara perempuan tidak boleh. Laki-laki diberi kebebasan melanjutkan studi di manapun, sedangkan perempuan cenderung dibatasi, bahkan dilarang.

Sebagai karya tafsir yang ditulis di era kontemporer, tafsir Thaifur masih bernuansa klasik. Penafsirannya seakan mengulang penafsiran ulama sebelumnya. Sebut saja, Ibnu Abbas, az-Zamaksyari, al-Mahalli, as-Suyuthi, dan beberapa mufasir tradisionalis yang lain. Bahkan, sebagai tafsir yang ditulis di Indonesia, produk tafsirnya tidak menggambarkan dinamika Indonesia. Hukum bagi koruptor masih berupa potong tangan dan hukum pagi PSK masih berbentuk rajam. Itu bentuk hukum Islam yang diterapkan di negara Arab Saudi, bukan di negara Indonesia. Satu sisi saya menyayangkan kehadiran tafsir ini, karena relevansinya belum terasa di ranah global. Namun, sisi yang lain saya mengapresiasi karya tafsir ini sebagai kontribusi pengetahuan.

Sekelumit merefleksikan perkembangan Madura. Madura tidak sesempit yang banyak orang persepsikan. Madura kota kecil yang menyimpan sejuta berlian. Semakin menyelami, semakin memiliki. Semakin mendekat, semakin terpikat. Maukah Anda mencari intan berlian di Madura? Hehehe[] Shallallah ala Muhammad.


Like it? Share with your friends!

0
194 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
1
Marah
Suka Suka
1
Suka
Khalilullah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Pendidikan Kader Mufasir (PKM) Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta