Teror Nz, ‘’Eggboy’’ dan Deradikalisasi Berbasis Edukasi


0
39 shares

Tindak terorisme terkutu kembali mengguncang dunia. Kali ini  terjadi di New Zealand (NZ). Serangan teror menyasar jamaah salat Jumat di dua masjid, Kota Christchurch. Padahal selama ini, Selandia Baru dikenal sebagai negara dengan situasi keamanan yang relatif stabil dan jauh dari aksi kekerasan keji seperti ini. Hingga Minggu (17/3) dilaporkan 50 orang tewas dan puluhan lainnya masih di rawat karena luka-luka.

Pelaku biadab adalah Brenton Harrison Tarrant (28 tahun). Asalnya dari Kota Gafton, New South Wales, Australia.  Brenton pindah ke Selandia Baru sekitar tiga tahun lalu.  Dia menggunakan simbol kelompok supremasi kulit putih di akun jejaring sosialnya.

Pascateror NZ muncul aksi menakjubkan dari seorang anak muda Australia. Aksinya melemparkan telur ke kepala senator Australia Fraser Annning pascakomentar rasis Anning menjadi sorotan dunia. Conely lantas dijuluki Eggboy. Hashtag #eggboy sudah dicuit oleh 244.000 pengguna twitter. Umumnya mereka memuji aksi pemuda tersebut yang dianggap heroik dan berani melawan sikap rasis Anning.

Sikap berani seperti Eggboy yang melawan rasisme dan terorisme mesti diadopsi dan dimiliki anak-anak Indonesia. Tentunya dengan ditambahi karakter yang berbudaya nusantara. Kunci menghadirkannya tentu melalui edukasi. Deradikasisasi berbasis edukasi memiliki nilai urgensi tinggi.

Edukasi Indonesia

Pendidikan merupakan salah satu kuncu kemajuan bangsa. Sedangkan anak terdidik merupakan masa depan bang­sa. Kualitasnya mesti disiapkan sejak dini yaitu melalui pendidikan. Pendidi­kan juga menjadi salah satu media guna meng­antisipasi tindak kekerasan kepada anak.

Lembaga pendidikan mesti menyeimbangkan antara pendidikan dan pengajaran. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi semakin sedikit dijumpai orang jujur. Pendidikan karakter menjadi kunci mewujudkannya.

Revitalisasi sek­tor pendidikan penting dilakukan dalam segala lini. Subs­tansi pendidikan karakter yang penting di­ta­nam­kan salah satunya adalah doktrinasi anti-radikalisme sejak usia dini. Kunci optimalisasi doktrinasi adalah revitalisasi pendidikan. Kualitas pendidikan mesti dijamin secara baik dan terjangkau luas.

Baca Juga:  Revitalisasi Masjid Sebagai Pusat Perdamaian

Definisi pendidikan menurut menurut UU No. 20 tahun 2003 adalah usaha sa­dar dan terencana untuk mewujudkan sua­sana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengem­bang­kan potensi dirinya untuk memiliki kekua­tan spiritual keagamaaan, pe­ngendalian diri, kepribadian, kecer­da­san, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bang­sa, dan negara.

Sedangkan pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik (Kusumah, 2007).

Pendidikan karakter pun dijadikan sebagai wahana sosialisasi karakter yang patut dimiliki setiap individu agar menjadikan mereka sebagai individu yang bermanfaat seluas-luasnya bagi lingkungan sekitar. Pendidikan karakter bagi individu bertujuan agar mengetahui berbagai karakter baik manusia, dapat mengartikan dan menjelaskan berbagai karakter, menunjukkan contoh perilaku berkarakter dalam kehidupan sehari-hari serta memahami sisi baik menjalankan perilaku berkarakter.

Pendidikan karakter bukan hal baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. Soekarno telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa yang bertujuan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter.

(Hidayat, 2008) memaparkan bahwa proses pendidikan di Indonesia yang berorientasi pada pembentukan karakter individu belum dapat dikatakan tercapai. Hal ini dikarenakan dalam prosesnya pendidikan di Indonesia terlalu mengedepankan penilian pencapaian individu dengan tolak ukur tertentu terutama logik-matematik sebagai ukuran utama yang menempatkan seseorang sebagai warga kelas satu. Proses pendidikan karakter yang berorientasi pada moral dikesampingkan dan akibatnya banyak kegagalan nyata pada dimensi pembentukan karakter individu contohnya Indonesia terkenal di pentas dunia karena kisah yang buruk seperti korupsi dengan moralitas yang lemah.

Revitalisasi

Segudang permasalahan klasik masih terus menghinggapi pendidikan Indonesia. Seluruh insan pendidikan penting melakukan refleksi dalam rangka revitalisasi pendidikan di Indonesia.

Pertama, apapun yang terjadi pendidi­kan harus tetap berlangsung dan men­jang­kau semua anak negeri. Pasal 31 (1) UUD 1945 hasil amandemen IV mene­gas­kan bahwa se­tiap warga negara berhak men­dapatkan pen­didikan. Tidak ada alasan bagi pemerintah membiarkan satu anak saja yang tidak bisa sekolah. Politik anggaran sudah diberikan de­ngan alokasi 20 persen dari APBN. Opti­malisasi ber­basis keadilan dan kualitas pen­ting di­upa­yakan dalam memanfaatkan ang­ga­ran besar ini.

Baca Juga:  Menghadang Arus Ekstremisme

Kedua, dukungan politik pendidikan yang konsisten dan sistematis. Selama ini ada anggapan setiap berganti ke­pe­mim­­pinan, ma­ka akan berganti kebijakan pen­didikan. Esta­fet keberlanjutan antar re­zim belum terlihat baik. Untuk itu mesti di­­susun peta jalan jang­ka panjang, me­ne­ngah, dan pendek terkait sektor pen­di­di­kan. Ketiga, mengembangkan pen­di­di­kan alternatif atau pendidikan luar se­ko­lah yang terjangkau. Faktanya banyak anak yang susah terjangkau dan tidak se­dikit wilayah yang belum berdiri se­kolah formal.

Pendidikan adalah kunci mencapai kema­juan pembangunan dan daya saing bangsa di kancah global. Banyak tokoh telah memberi­kan inspirasi bagi pengambil kebijakan dan pelaku pendidikan. Hal yang paling penting ba­gaimana menyebarkan inspirasi sebagai energi positif pengembangan pendidikan.

Kehadiran jutaan guru menjadi modal yang mesti dioptimalkan kualitasnya. Peme­rintah wajib memperhatikan kesejahteraan guru demi kebangkitan kualitas pendidikan. Keluarga mesti menjadi pilar utama dalam pendidikan karakter dalam menguatkan anti-radikalisme pada anak. Dunia pendidikan Indonesia mesti mampu mencetak anak-anak muda pemberani dan berkarakter semacam Eggboy.

RIBUT LUPIYANTO, deputi Direktur Center for Public Capacity Acceleration (C-PubliCA).


Like it? Share with your friends!

0
39 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.