31.5 C
Jakarta

Ternyata Ini Tahapan untuk Menjadi Teroris, Coba Dibaca!

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanTernyata Ini Tahapan untuk Menjadi Teroris, Coba Dibaca!
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Jika dalam Islam ada banyak paham (isme), maka dalam tulisan ini saya mengkategorikan ke dalam tiga bentuk paham saja: paham kanan (radikalisme), paham kiri (liberalisme), dan paham tengah (moderatisme). Tiga paham ini yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam hanyalah moderatisme, karena paham ini bersandar kepada pesan Al-Qur’an dalam surah al-Baqarah ayat 143. Sedangkan, dua paham lainnya jelas bertentangan dengan pesan kitab suci umat Islam tersebut.

Pada tulisan ini saya lebih memfokuskan pada paham kanan atau radikalisme. Paham radikal tidak sepenuhnya disamakan dengan terorisme. Meski dalam beberapa sisi keduanya memiliki banyak kesamaan. Karena, untuk menjadi seorang teroris (orang yang terpapar terorisme) tentu melewati beberapa tahapan paham radikal. Agar lebih mudah memahami tahapan tersebut saya bahas di sini.

Radikalisme memiliki tiga tahapan untuk menjadi terorisme. Tahapan pertama, seseorang mulai berpikir eksklusif (tertutup). Ketertutupan berpikir ini disebabkan karena doktrin ustadz di mana belajar. Ustadz itu biasanya mendorong jamaahnya untuk membenarkan pemahaman dan kelompoknya sendiri. Sedangkan, orang di luar mereka bukan bagian dari mereka yang patut dihormati. Semisal, ustadz ini memandang bukan saudaranya orang-orang yang beragama di luar Islam.

Padahal, persaudaraan yang diajarkan Islam itu sangat luas cakupannya. Meski orang itu memeluk agama di luar Islam tetap mereka bersaudara. Mereka harus bersaudara antar sesama manusia atau yang biasanya disebut dengan Ukhwah Islamiyah. Persaudaraan semacam ini jelas tidak memandang status agamanya, apalagi jenis pemikirannya. Semuanya, selagi mereka manusia tetap bersaudara. Nabi Muhammad Saw. mengajar persaudaraan antar sesama dalam membumikan toleransi yang dibahas secara detail dalam surah al-Kafirun. Silahkan dibaca!

Setelah itu, pada tahapan kedua radikalisme mengantarkan seseorang gemar melakukan hate-speech atau ujaran kebencian. Dia gemar mengkafirkan orang lain yang tidak sepemikiran dan seagama dengannya. Apa yang dia lakukan persis seperti apa yang dilakukan oleh kelompok Khawarij yang geram mengkafirkan Sayyidina Ali beserta pengikutnya karena mereka memutuskan sesuatu berdasarkan musyawarah bukan hukum Tuhan. Klaim kafir yang dilayangkan kelompok Khawarij tidak ditanggapi oleh Sayyidina Ali. Karena, Ali paham perbuatan semacam itu memang sulit mendapat nasihat.

BACA JUGA  Yayasan Cinta Quran Diduga Kuat sebagai Sayap Juang Eks-HTI

Kemudian, klaim kafir ini bukan berhenti sampai pada masa Ali. Tetapi, terus berlanjut hingga detik ini pada era digital. Banyak orang yang dengan mudahnya mengkafirkan saudara mereka sendiri, meski jelas-jelas dia muslim. Biasanya orang yang gemar mengkafirkan di era sekarang adalah orang-orang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Khilafatul Muslimin (KM), Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), dan masih banyak yang lainnya. Kelompok Islam garis keras ini memahami klaim kafir itu sebagai sebutan bagi orang yang mereka musuhi atau orang di luar kelompok mereka.

Klaim kafir ini tidak boleh diucapkan karena ia akan menghadirkan benih-benih permusuhan antar sesama muslim. Lebih dari itu, dengan pemeluk agama di luar Islam. Saling bermusuhan itu tidak diperbolehkan alias dilarang di dalam Islam. Karena, permusuhan akan menghadirkan pertumpahan darah. Perbuatan semacam ini bertentangan dengan misi Islam itu sendiri, yaitu menghadirkan perdamaian di tengah-tengah semesta. Apapun pemikirannya, jika seorang muslim tidak bisa berdamai maka ia buka muslim yang sebenarnya, meskipun ia beragama Islam.

Kemudian, tahapan ketiga, begitu sudah terbiasa mengkafirkan orang lain, orang ini mulai timbul ketidakpuasan sehingga mulai tergerak untuk melakukan tindakan ekstremis berwajah terorisme. Dunia dibuat Islamophobia karena tindakan para teroris yang tersebar di penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia. Mereka mengebom atau bom bunuh diri di beberapa tempat tertentu, termasuk juga di masjid. Aneh bukan?! Masjid sebagai baitullah diganggu dan dihancurkan. Bukankah itu sudah rusak akal sehatnya? Ke mana hati nuraninya?

Sebagai penutup, ada beberapa cara biar selamat dari radikalisme-terorisme, yaitu terbuka (inklusif) terhadap perbedaan, karena perbedaan itu bukanlah petaka, melainkan rahmat. Kemudian, hindari saling mengkafirkan karena ucapan seperti itu akan menghadirkan permusuhan. Kalau dua ini dihindari, maka seseorang tidak bakal terpapar terorisme. Karena, akal sehatnya akan menyadarkan bahwa terorisme adalah tindakan pembunuhan yang dilarang oleh semua agama, tak terkecuali agama Islam.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru