30.2 C
Jakarta

Ternyata Banyak Orang Indonesia Terdoktrin Teroris Lewat Media

Artikel Trending

Milenial IslamTernyata Banyak Orang Indonesia Terdoktrin Teroris Lewat Media
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh We Are Social – perusahaan media asal Inggris, yang bekerja sama dengan Hootsuite, ada sekitar 130 juta masyarakat Indonesia yang aktif menggunakan media sosial, dengan rata-rata durasi penggunaan mencapai 3 jam 23 menit setiap harinya.

Jumlah penduduk Indonesia pada Januari 2018 tercatat mencapai 265,4 juta jiwa dengan tingkat penetrasi penggunaan internet mencapai 132,7 juta jiwa. Ini artinya, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 49% dari jumlah total populasi.

Platform media sosial yang paling sering digunakan oleh orang Indonesia, di antaranya YouTube 43%, Facebook 41%, WhatsApp 40%, Instagram 38%, Line 33%, BBM 28%, Twitter 27%, Google+ 25%, FB Messenger 24%, LinkedIn 16%, Skype 15%, dan WeChat 14%.

Media Sosial Menyimpan Bara

Berdasarkan data di atas, media sosial bisa dikatakan menyimpan potensi yang sangat besar untuk kesuksesan segala lini kehidupan. Namun di sisi lain, media sosial juga memberikan dampak negatif yang banyak. Salah satunya adalah terdoktrinnya banyak orang terhadap terorisme lewat media sosial. Hal tersebut diperkuat oleh temuan hasil penelelitian yang mengatakan bahwa adanya dominasi narasi paham keagamaan konservatif di media sosial.

Walaupun pemahaman keagamaan lain juga banyak mewarnai diskursus agama, terutama di platform twitter, namun dengung konservatisme menguasai perbincangan di ranah maya dengan persentase (67.2%), disusul dengan moderat (22.2%), liberal (6.1%) dan Islamis (4.5%). Sejak 2009-2019, penggunaan hashtag (tanda pagar, tagar) yang bersifat konservatif menjadi yang paling populer. Hashtag yang bersifat netral penggunaannya bahkan kerap dikaitkan dengan paham keagamaan konservatif.

Semua ini mengindikasikan bahwa, dunia media digital yang digandrungi oleh banyak orang Indonesia mengalami penetrasi, dan rimba yang berbahaya. Banyak teroris yang memanfaatkan media digital sebagai perangkat untuk menjembloskan orang-orang untuk masuk dalam perangkatnya.

Orang Indonesia Terkecoh Jihad

Mengenai ini, sudah banyak contoh orang-orang Indonesia yang tersesat kendati perangkat teroris ini. Di antaranya, orang-orang ini begitu terkesima dengan video-video yang dibuat oleh organisasi teroris. Lalu mereka merepresentasikan diri bahwa Islam atau negara Islam adalah seperti yang digambarkan di video buatan teroris tersebut.

Kemudian mereka berangkat ke Afghanistan, Syiria dan negara-negara konflik lainnya di Timur Tengah, untuk merasakan surga atau negara yang berbasis Islam tersebut. Mereka mengira di sana adalah negara seperti yang tergambar dalam Al-Qur’an. Namun seperti apa faktanya?

Setelah mereka ke sana, mereka hanya melihat sebuah negara yang gersang dan bercak darah. Bom berbunyi di mana-mana dan memekakkan hulu telinga. Tembakan demi tembakan menjadi angin peluit yang setiap saat lewat di bawah kuping dan pinggir leher. Dan mayat-mayat bergelimpangan terbunuh secara cuma-cuma. Apa ini gambaran negara Islam yang sesungguhnya? Saya rasa bukan.

Tapi mengapa sejauh ini masyarakat muslim masih saja tertarik dan ingin bergabung dengan mereka, meski selama ini mereka tahu bahwa teroris sebenarnya hanya berbohong dan bejat. Jawabannya antara lain adalah nafsu keagamaan yang masih menancap di dalam alam bawah sadar mereka.

Bahkan bom-bom bunuh diri mereka lakukan atas nama Jihad agama. Sepertri bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Kota Bandung, Jawa Barat (7/12). Sebelum melakukan bom bunuh diri, ia menggantung tulisan di motornya: “KUHP Hukum Syirik/Kafir. Perangi Para Penegak Hukum Setan. QS. 9: 29.”

Ayat Menjadi Justifikasi Teroris

Ada ayat atau unsur keagamaan yang dijadikan justifikasi untuk melakukan aksi jihad bom bunuh diri ke para polisi. Ayat tersebut berbunyi;

قَٰتِلُوا۟ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلْحَقِّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ حَتَّىٰ يُعْطُوا۟ ٱلْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَٰغِرُونَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. at-Taubah: 29).

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. al-Maidah: 44).

Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menjadi alat justifikasi mereka. Saya yakin ayat-ayat tersebut mereka kurang paham artinya. Dan kalau paham, pemahaman mereka cenderung salah dan tersesat. Ini terjadi dan menimpa mereka karena mereka sudah didoktrin dan dicuci otak oleh guru-guru mereka. Bahkan berani bunuh diri saja saya yakin itu seratus persen bukan kemauan mereka. Bomber-bomber bom bunuh diri di Indonesia adalah korban-korban dari paham-paham radikalisme yang bersirkulasi melalui guru-guru agama mereka.

Sayangnya masih banyak orang tidak paham tentang bagaimana taktik dan strategi yang dilakukan oleh guru dan amir penggerak teroris di Indonesia. Apalagi, orang-orang terlalu terlena hidup dan belajar tentang keagamaan di media sosial. Yang pasti, mereka adalah orang awam, dan selalu menyepelekan arti penting radikalisme dan terorisme. Kendati itu, dalam banyak kasus, ternyata banyak teroris Indonesia terdoktrin lewat media. Apakah kita akan sama?

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru