30 C
Jakarta

Terbongkar! Sekolah-Pesantren Khilafatul Muslimin; Mendoktrin Khilafah, Membenci Pancasila

Artikel Trending

Milenial IslamTerbongkar! Sekolah-Pesantren Khilafatul Muslimin; Mendoktrin Khilafah, Membenci Pancasila
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Cara sebuah organisasi terus tumbuh, bisa dilakukan melalui dua acara. Pertama, bergerak dalam bidang pendidikan. Kedua, memakai strategi taqiyah, sebuah sikap berpura-pura memahami dan menyamakan persepsi agar diterima oleh masyarakat.

Dan itu benar, organisasi Khilafatul Muslimin, berhasil diterima oleh masyarakat hingga berhasil menyebarkan ideologi khilafahnya pada sejumlah orang dengan angka fantastis: enam belas ribu orang, di seluruh Indonesia. Melalu pendidikan, mereka telah masuk ke jantung masyarakat. Mereka setidaknya telah memiliki 30 sekolah/pesantren yang berafiliasi dengan Khilafatul Muslimin.

Mengenai taqiyah, lihatlah yang terjadi sekarang. Jika sudah mepet, cara ini dipakai oleh aktivis Khilafatul Muslimin. Kini mereka berpura-pura mengatakan “kami tidak akan mengubah ideologi Pancasila”. Padahal di sekolah dan di pengajian-pengajiannya, doktrin kepada para peserta diharuskan untuk menegakkan khilafah dan membenci hingga mengganti ideologi negara. Taqiyah ini dilakukan karena mereka terdesak, meski harus berlawanan dengan ideologinya, yang mengharuskan jangan berbohong dan munafik. Tapi itu tetap dilakukan.

Apalagi, kini, amir tertingginya dan para petinggi Khilafatul Muslimin, sudah ditanggap. Saatnya mereka main aman. Sebisa mungkin para kader-kader muda handal mereka tidak ikut mendekam di penjara dan bisa melanjutkan titah pergerakan Khilafatul Muslimin. Merak diwajibkan bergerak dalam pendidikan dengan sistem memasokkan ideologi transnasional: Khilafah.

Sistem Sekolah Khilafah

Ketika khilafah adalah tujuan daripada ajaran sekolah, maka sistemnya akan diarahkan ke sana. Di mana semua santri minimal dikenalkan dan menjadi kader Khilafatul Muslimin. Jelas di kurikulumnya, memakai kurikulum yang sangat berbeda dengan sekolah dan pesantren yang di bawah naungan kemenag. Dan itu benar adanya, sekolah-sekolah Khilafatul Muslimin tidak belajar Pancasila dan tidak membolehkan untuk hormat Pancasila, tetapi wajib hormat kepada bendera Khilafatul Muslimin.

Terbongkar, ternyata Organisasi masyarakat (ormas) Khilafatul Muslimin punya sekolah mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Murid-murid di Sekolah Khilafatul Muslimin tidak diajarkan Pancasila hingga UUD 1954, tetapi lebih ke pengkaderan khilafah.

Para siswa-siswanya tidak diperbolehkan hormat kepada bendera selain Khilafatul Muslimin. Artinya, mereka tidak wajib menghormati pemerintah RI.  Dengan kata lain, tidak wajib tunduk pada pemerintah. Tetapi wajib tunduk kepada khilafah.

Untuk menarik perhatian publik, Khilafatul Muslimin membuat taktik yang jitu. Pendidikan meraka menerapkan sekolah cepat, atau akselerasi. Di sekolah Khilafatul Muslimin dari jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi ditempuh secara singkat. Mulai dari SD tiga tahun hingga SMA hanya dua tahun. Kemudian, peserta didik telah dianggap menyelesaikan pendidikan di universitas pada sekolah Khilafatul Muslimin akan memiliki gelar sarjana. Gelar pendidikan berkaitan dengan ajaran khilafah. Mereka nantinya menggendong gelar SKHI, “Sarjana Kekhalifaan Islam”.

BACA JUGA  GP Ansor dan Tugas Berat Melawan Terorisme

sekolah khilafatul muslimin

25 Pesantren Ajang Pengkaderan Khilafah

Ada 25 pesantren Khilafatul Muslimin yang tersebar di Indonesia. Semuanya melanggar aturan pemerintah. Mereka menyebut diri sebagai pesantren. Padahal dari prasyarat tidak terpenuhi. Pesantrennya pula tidak pernah didaftarkan ke Kementerian Agama. Dengan itu, pesantren/sekolah Khilafatul Muslimin bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Lembaga pendidikan ini tidak tunduk kepada aturan dan Undang-Undang yang berlaku.

Yang berlaku pada sekolah Khilafatul Muslimin, kurikulumnya juga memakai kurikulum tersembunyi. Semua kurikulumnya mengajarkan doktrin keagamaan yang radikal, dan kekhalifahan yang mensyaratkan peserta didik untuk menjadi penerus gerakannya. Kurikulumnya mereka dibuat oleh oleh muhabi, pimpinan ponpes dan menteri pendidikan Khilafatul Muslimin. Bukan yang dari Kemenag yang berisi tentang toleransi dan moderasi beragama.

Contoh kecilnya bisa dilihat pada salah satu sekolah yang berada di Wonogiri: Dusun Jaten RT 001/RW 009 Desa Wonokerto, Wonogiri Kota. Di sana ada sekolah Khilafatul Muslimin di depannya mengibarkan bendera Khilafatul Muslimin. Bukan bendera merah putih, seperti sekolah pada umumnya. Sekolah ini seperti membuang negara ke ghot peradaban. Di depan matanya, hanya berisi khilafah dan khilafah.

Belajarnya juga sembunyi-sembunyi. Mereka aktivitas di luar jika untuk olahraga dan jalan-jalan semata. Warga jika ingin terlibat pada program di bawah Khilafatul Muslimin, diwajibkan untuk berbaiat dulu. Baru bisa mengikuti sekolah, belajar atau masuk mengikuti pengajian yang diselenggarakan kelompok Khilafatul Muslimin.

Menurut warga, sekolah dan isi pengajiannya sangat berbeda dengan yang lain. Mereka cenderung menyalahkan yang lain, pemerintah, dan lebih ke arah ajaran yang membenci tradisi sekitar. Ternyata yang mengelola sekolah bukan orang Wonogiri asli. Tapi Mereka semua dari luar daerah, dari Purwokerto, Bekasi, NTB, Bekasi dan Jakarta Utara. Kini terbongkar, semua itu dilakukan sekolah-pesantren khilafatul muslimin; mendoktrin khilafah, membenci Pancasila. Jika ini terus berjaya, tamatlah Indonesia kita?

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru