28.6 C
Jakarta

Tentang Teo-Antroposentrisme Islam Hassan Hanafi

Artikel Trending

KhazanahOpiniTentang Teo-Antroposentrisme Islam Hassan Hanafi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Hassan Hanafi merupakan Intelektual Muslim yang lahir di Kairo, Mesir pada tanggal 13 Februari 1935 dan menduduki jabatan sebagai Guru Besar di Fakultas Filsafat Universitas Kairo, Mesir. Pemikirannya terhadap Islam tidak terlepas dari pandangannya terhadap esensi Islam dalam dimensi ketuhanan (trasendensi) dan dimensi solidaritas keberagamaan umat Islam (humanitas) yang memilki prinsip bersifat universal. Hal ini berkaitan dengan pendekatannya atas Islam, dari berbagai polemik atas pemaknaan Islam.

Dalam pendekatannya terhadap Islam, Hassan Hanafi memiliki istilah sendiri terhadap esensi Islam sebagai sebuah agama. Menurutnya, istilah agama yang ditemukan dalam berbagai literatur mayoritas mengacu kepada perihal yang berkaitan dengan epistemologi tentang super-natural, magis, ritual, kepercayaan, dogma dan kelembagaan yang berisi aturan.

Sedangkan dalam pendekatannya, Hassan Hanafi memberikan tawaran sebagai solusi atas kritiknya yang tidak setuju dengan istilah dalam berbagai literatur. Menurutnya istilah yang tepat atas esensi agama Islam ialah etika, artinya terkait erat dengan perihal kemanusiaan dan pandangan atau ideologi dalam bermasyarakat sebagai sebuah bentuk manifestasi kesadaran beragama dalam ketuhanan.

Pandangannya atas Islam sebagai prinsip universal terlihat dari pemaknaannya terhadap ketuhanan. Baginya Tuhan bukan suatu pribadi, peristiwa alam, atau peristiwa sejarah, melainkan terkait dengan pemikiran yang tidak kaku (terbuka), penemuan sendiri (tidak taklid) dan trasendensi atau kemahaesaanNya. Dalam hal ini, Hassan Hanafi memberikan prinsip epistemologi atas trasendesnsi, yang berada dalam ruang tak terbatas dan dinamis dalam perkembangan zaman serta melawan dogmatisme dan kekakuan dalam pemahaman terkait trasendensi.

Ontologi Hassan Hanafi

Selain itu, Hassan Hanafi juga memberikan prinsip ontologis atas trasendensi. Baginya epistemologis tanpa ontologis akan berakibat pada formalisme dan gambaran saja. Sehingga, eksistensi dan akal merupakan hal yang identik dengan prinsip universal dan Dzat universal, artinya trasendensi merupakan sebuah Kenyataan yang dapat diemukan keberadaanya dan dapat diterima, bukan sekadr subjektivisme semata. Sehinggga, melahirkan identitas komplit antara epistemologi dan ontologi atas trasendensi.

Adapun prinsip aksiologi atas trasendensi, yakni sebuah nilai yang difungsikan sebagai dasar atau pondasi dalam berkehidupan. Hal ini didahului oleh epistemologi dan ontologi memberikan dampak manusia menuju kesadaran untuk aktif menuju tujuan umum dalam hidupnya. Oleh karena itu, sebagai sebuah prinsip epistemologi, prinsip ontologi dan prinsinp aksiologi, trasendensi dapat dipahami oleh siapapun karena sifatnya yang umum sebagai sebuah warisan sejarah untuk manusia. Sehingga, melahirkan perjuangan untuk kebebasan, keadilan dan kesetaraan tanpa membatasinya dengan sebuah rumusan keyakinan dalam suatu pemahaman kelompok yang berdampak pada pembatasan atas tuhan yang bersifat kaku dan tidak global.

Setelah pemaknaan atas trasendensi dalam prinsip uiversalitas Islam dengan epistemologi, ontologi dan aksiologinya. Hassan Hanafi memiliki pandangan yang mengarah pada bentuk aplikasi dari prinsip universal dalam trasendensi berupa solidaritas kemanusiaan. Baginya prinsip universal dalam trasendensi juga berlaku untuk perilaku baik universal berupa solidaritas kemanusiaan yang bersifat empiris, artinya didasarkan pada pengalaman manusia sehingga dapat dirasakan oleh setiap orang. Hal ini sesuai dengan harapan setiap agama yang mengelukan perilaku baik atas penganutnya, sebagai bentuk kesalehan dalam keikhlasan.

Perilaku yang baik menurut Hassan hanafi memiliki 2 bagian, yakni perilaku baik internal dan eksternal. Perilaku baik internal merupakan kesadaran dalam diri seorang pelaku atas tujuan perbuatannya. Dalam hal ini perilaku baik internal berupa aktualisasi dari ucapan dan perbuatan dengan tujuan yang jelas, artinya memiliki niat. Bagi Hassan Hanafi, perilaku baik tanpa niat, maka akan rapuh dan motivasinya dalam melakukannya juga berubah. Sehingga, dinamakan sebagai perilaku eksternal atu perilaku yang tidak memiliki pondasi atau tujuan untuk apa melakukannya.

Sesuai dengan konsep Islam yang mendudukan niat begitu penting dalam melakukan tindakan. Hal ini sesuai dengan pemikiran Hassan hanafi, bahwa perbuatan tanpa niat maka akan rapuh. Bukan itu saja, baginya perilaku merupakan bentuk aplikasi dari trasendensi seorang yang beragama. Sehingga, tidak bisa dilepaskan dari konsep berfikir teleologis yang memfokuskan pada 2 arah tujuan Islam sebagai etika global, yakni terkait sisi ketuhanan sebagai prinsip univerlsal juga sisi humanis berupa solidaritas kemanusiaan dalam bentuk perilaku baik yang berlandaskan. Oleh karena itu, esensi Islam digambarkan oleh Hassan Hanafi sebagai Etika yang mengarah kepada trasendensi dan kemanusiaan.

Pemikiran Hassan Hanafi terhadap kemanusiaan berbasiskan solidaritas kemanusiaan yakni berupa prioritas kelangsungan hidup yang harus melawan polemik yang menjadikan manusia sengsara seperti permasalahan penyakit, kelaparan, kemiskinan, dan segala yang dapat menyengsarakan banyak pihak. Selain itu, manusia juga memiliki akal untuk melindungi dirinya sendiri dari hal yang menyiksannya dan dapat merusaknya.

Dari hal itu, manusia seharusnya sadar akan potensi akal yang dapat memperkaya diri dalam keilmuan khususnya keislaman dengan memperjuangkan harga diri sebagai manusia yang paham esensi islam. Bukan hanya itu saja, dengan akal manusia mampu memperkaya diri sebagai individu dan memperkaya bangsa dengan sebuah argumen yang rasional sebagai bentuk perilaku baik.

Bagi Hassan Hanafi, manusia memiliki potensi akal untuk menemukan prinsip universal dalam perihal trasendensi dan memilah perilaku baik dengan niat yang diaplikasikan dengan perbuatan. Menurutnya, trasendensi merupakan tujuan sekaligus landasan seorang manusia beragama dalam mengaktualisasikan perilaku baik sebagai bentuk etika yang menjadi esensi Islam.

M. Khusnun Niam
M. Khusnun Niam
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni IAIN Pekalongan.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru