29.4 C
Jakarta

Tantangan Moderasi Agama di Tengah Menjamurnya Organisasi Radikal

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanTantangan Moderasi Agama di Tengah Menjamurnya Organisasi Radikal
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Mengapa penting menghadirkan moderasi agama di Indonesia? Pertanyaan ini dijadikan pemuka tulisan ini untuk mengajak pembaca merenungkan pentingnya menghadirkan moderasi agama di tengah negara majemuk. Kebutuhan terhadap moderasi tentunya dihadapkan dengan membeludaknya paham-paham radikal.

Salah satu paham radikal yang tumbuh dan berkembang di beberapa wilayah di Indonesia adalah doktrin Khilafah. Khilafah ini yang secara ideologis diyakini oleh pengusungnya sebagai ajaran agama Islam, jelas bertentangan dengan sistem republik-demokratis yang berkembang di negara merah putih ini. Para pengusung Khilafah mengklaim Indonesia termasuk negara kafir, karena sistem yang digunakan bukanlah sistem yang disyariatkan agama Islam.

Pengkafiran yang dialamatkan oleh pengusung Khilafah disertai dengan penyerangan terhadap wilayah di Indonesia. Biasanya penyerangan ini berupa aksi-aksi terorisme yang diimplementasikan dalam pengeboman dan bom bunuh diri di beberapa tempat yang dianggapnya menjadi sarang kekafiran. Sebut saja, hotel, gereja, kepolisian, dan seterusnya.

Sebenarnya, alasan pengkafiran ini adalah ketertutupan pikiran dalam melihat perbedaan yang terbentang di Indonesia. Sebagai negara majemuk, Indonesia dibangun dengan pelbagai perbedaan, mulai perbedaan pemikiran sampai perbedaan agama. Perbedaan pemikiran dapat dibuktikan dengan terbentuknya organisasi kemasyarakatan yang sampai sekarang masih tetap eksis, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyyah. Sedangkan, perbedaan keyakinan digambarkan dengan hidupnya agama-agama, meliputi agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghuchu.

Tidak terbukanya terhadap perbedaan sesungguhnya bertentangan dengan semboyan Bhinneka Tungga Ika, yang artinya: Berbeda-beda tetapi tetap satu. Perbedaan ini merupakan suatu anugerah. Disebutkan dalam ibarah yang cukup populer: Al-Ikhtilaf rahmah, perbedaan itu adalah rahmat. Quraish Shihab sering berkata, bahwa manusia ini lahir karena bertemunya dua insan yang jenis kelaminnya berbeda, yakni laki-laki dan perempuan.

Karena pentingnya hidup di tengah perbedaan, Nabi Muhammad Saw. tidak pernah mencela umatnya yang berbeda agama dengan beliau. Nabi tetap berdakwah dengan sikap yang ramah dan santun, sehingga dakwah yang disampaikan beliau berkesan di hati umatnya. Nabi tidak pernah menghancurkan atau melakukan perbuatan terorisme terhadap tempat ibadah umatnya yang beragama di luar Islam. Nabi menghormati mereka tanpa terkecuali.

Menghormati perbedaan merupakan bagian dari moderasi. Sebab, dengan penghormatan inilah lahir persatuan. Kemudian, dengan persatuan ini pula lahir harmonisasi hidup. Beginilah gambaran Islam. Pesis seperti arti katanya, Islam dipahami dengan perdamaian atau harmonisasi. Bila dipahami secara terbalik (mafhum mukhalafah), orang yang belum hidup harmonis dengan orang lain, berarti belum pantas disebut dengan muslim (orang yang memeluk agama Islam).

BACA JUGA  Allahumma Inna Naudzu bika min Radikalisme, Saya Mohon Perlindungan dari Bahaya Radikalisme

Kemudian, penting atau tidak membangun sebuah organisasi untuk menumbuhkan harmonisasi di tengah persatuan? Bila tujuan utama persatuan di tengah perbedaan, maka organisasi apapun selagi tidak bertentangan dengan sistem-sistem negara dapat diterima dengan lapang dada. Organisasi yang mempersatukan dana membentengi NKRI adalah NU dan Muhammadiyah. Makanya, dua organisasi ini berumur panjang, meski pendirinya sudah wafat.

Hal ini berbeda dengan organisasi yang memiliki niat buruk, yakni menghancurkan NKRI. Organisasi ini tidaka akan berumur panjang. Berjalan beberapa tahun dan terseok-seok organisasi dibubarkan secara paksa oleh pemerintah. Pembubaran ini menghadirkan pesan, bahwa organisasi yang dibubarkan ini termasuk organisasi yang terlarang atau tidak diterima tumbuh dan berkembang di tengah-tengah negara yang damai. Organisasi ini dipermalukan di depan publik.

Tidak perlu terkejut dengan hadirnya organisasi baru akhir-akhir ini. Sebagai wargan negara yang kritis dan bijak, tidak semudah langsung menerima doktrin organisasi baru ini. Lihat rekam jejaknya. Bila pendirinya memiliki rekam jejak yang baik, maka organisasinya dapat diterima. Sebaliknya, jika pendirinya sering melakukan kriminal, hendaknya dihindari. Lalai dalam memilih sebuah organisasi, akan bisa mengakibatkan eksistensi seseorang tercerabut dan masa depannya akan hilang sia-sia.

Tidak dilarang mendirikan organisasi baru selain NU dan Muhammadiyah. Tetapi, hal paling penting yang tidak boleh dilupakan adalah menjadikan organisasi itu mendukung terhadap prinsip-prinsip NKRI. Bayangkan, organisasi ini hanyalah sebagai tamu. Tamu hendaknya bersikap yang baik ketika bertamu. Sangat tidak bermoral menjadi tamu di suatu negeri, tapi merusak tatanannya.

Sebagai penutup, moderasi yang merupakan konsep agama yang disinggung dalam Islam bukan diperuntuhkan kepada orang-orang Islam. Moderasi ini diperuntukkan kepada semua orang. Moderasi sangat besar pengaruhnya dalam mempersatukan perbedaan. Sehingga, dihasilkan dari perbedaan ini harmonisasi hidup yang diharpakan oleh Islam.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru