27.7 C
Jakarta

‘Tangan’ Tuhan di Balik Kemerdekaan RI

Artikel Trending

Asas-asas IslamTasawuf‘Tangan’ Tuhan di Balik Kemerdekaan RI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorongkan dengan keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”, demikian penggalan satu paragraf dari mukadimah undang-undang dasar 1945.

Redaksi UUD di atas mendeskripsikan kepada kita semua bahwa penyusunannya dilakukan atas dasar kesadaran diri akan kelemahan manusia di depan garis ketentuan Tuhan. Tentu kemerdekaan merupakan suatu hal yang dirindu-rindukan sejak ratusan tahun. Namun saat rakyat Indonesia berada di depan ‘pintu gerbang’ kemerdekaan mereka tidak membanggakan diri, tidak menganggap kemerdekaan yang telah dicapai adalah hasil jerih payah mereka saja, mereka tidak melupakan ada ‘tangan Tuhan’ dibalik itu semua. Ini merupakan cerminan buah dari doa dan ikhtiyar yang berjalan beriringan, yang menurut sebagian ahli hikmah keduanya ibarat dua sayap yang terbang meraih cita-cita yang tinggi.

Pemilihan diksi yang sangat tepat menggambarkan kematangan para founding fathers kita dalam menyusun UUD. Memulai dengan pengakuan kekuasaan dan anugerah Tuhan Yang Esa secara otomatis menjadi penerjemahan sekaligus penjelasan dari sila pertama. Berkat dan rahmat yang merupakan hak preogratif Allah swt bagi siapapun yang Dia kehendaki menjadi kata-kata pembuka. Pemilihan sifat Yang Maha Kuasa dinilai tepat mengingat kekuasaan yang hakiki adalah milik-Nya. Mengingat berabad-abad dibawah penindasan para kolonial yang tanpa henti, pemberian kemerdekaan saat itu merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah swt.

 

Selanjutnya setiap diri manusia pasti mempunyai keingingan sebab mereka dibekali nafsu. Namun keingingan kemerdekaan ini tidak hanya murni berangkat dari nafsu. Sehingga keinginan tersebut diiringi dengan term yang luhur. Luhur berarti tinggi dan mulia. Kemuliaan dan derajat tinggi dapat diraih jika berdasarkan dengan etika, norma-norma dan tatanan yang berlaku. Sesuai tatanan berarti tidak sikut kanan-kiri yang bahasa mudahnya adalah adil tidak zalim. Manusia yang beretika ialah mereka yang beradab, yakni orang-orang yang mampu menempatkan dirinya dalam nilai-nilai kemanusiaan. Keinginan yang luhur berarti keinginan yang selaras dengan kemanusiaan yang adil dan beradab.

BACA JUGA  Pelaku Maksiat, Apakah Mendapat Syafaat Rasulullah?

Salah satu niat mulia memerdekakan Indonesia adalah agar tercipta rakyat yang berkehidupan kebangsaan yang bebas. Yang dinamakan bangsa adalah kelompok masyarakat yang mempunyai kesamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berpemerintahan sendiri. Mengingat Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, suku dan bahasa, kebangsaan dalam konteks Indonesia berarti menyatukan berbagai ragam suku, bahasa, budaya, agama dan lain sebagainya. Kehidupan kebangsaan yang bebas bukan berarti tanpa ada batas. Namun bebas dalam arti memiliki kebebasan yang sama antar anak bangsa dalam tataran sosial dan politik bernegara. Singkatnya sila ketiga dan kelima terangkum dalam sepenggal kalimat mukadimah UUD ‘supaya bekehidupan kebangsaan yang bebas’.

Berangkat dari kesadaran yang murni akan kekurangan manusia serta pengakuan yang tulus atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, lalu ditopang dengan niat suci dan lurus dalam menggapai cita-cita yang mulia maka datanglah karunia Allah swt yang berupa kemerdekaan bagi bangsa Indonesia tercinta. Akhirnya merawat kemerdekaan Indonesia adalah salah satu bentuk rasa syukur dan tanggung jawab atas rahmat dan karunia-Nya.[AF]

 

 

 

 

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru